
Entertainer Berjiwa Entrepreneur
Tak ada istilah putus asa saat menghadapi gelombang cobaan. Semua ia jalani dengan kerja keras, rileks, ikhlas, dan berdoa untuk menuju tangga kesuksesan.
Otak pria kelahiran 6 Maret 1962 ini tak pernah diam. Hampir setiap hari ia membaca buku dan menonton televisi. Ia sadar, ada waktunya acara kuis akan berakhir. Benar dugaannya. Begitu Kuis Siapa Berani yang dipandunya bersama Alya Rohali mulai menurun pamornya, ia pun meluncurkan acara reality show, seperti Bedah Rumah dan Uang Kaget. Hasilnya pun meledak.
Dan, kabar terbaru si bungsu dari lima bersaudara ini, Maret mendatang Kuis Siapa Berani sudah on air di Malaysia. Boleh dibilang, Helmy Yahya salah seorang creator televisi Indonesia yang karyanya pertama dibeli pihak asing. “Sempurnalah kebahagiaan saya di dunia televisi,” katanya.
Nama adik kandung Tantowi Yahya ini terus meroket ketika membawakan acara Kuis Siapa Berani. Kuis kolosal ini tersukses di Indonesia dan bertahan hingga lima tahun lamanya dengan menyajikan 1.200 episode live setiap hari, pada pagi hari.”Tidak gampang kami memenangi semua awards. Mulai dari Panasonic Award hingga Asian Television Award,” kata ayah tiga anak ini.
Lelaki kelahiran Kota Empek-empek ini, meski sarjana accounting, lebih dikenal sebagai entertainer. Banyak acara televisi yang sukses lahir dari tangan dinginnya. Tak ada yang menduga peraih Master of Professional Accounting dengan nilai 3.6 di Univercity of Miami (Florida), USA, ini menjadi entrepreneur di dunia entertain.
Berikut petikan wawancara MANLY dengan Si Raja Kuis ini:
Menurut Anda, apa sih bisnis itu?
Bisnis adalah sebuah pelayanan mencari uang. Lebih penting lagi karena jiwa saya entertainer, jadi bagaimana caranya kita mendapat uang tapi orang yang membayar saya itu bisa terhibur. Alhamdulillah, setiap reality show saya punya nilai.
Apa filosofi bisnis Anda?
Semua produk dan karya saya harus bermanfaat untuk orang banyak.
Kunci kesuksesan Anda?Untuk mencapai tingkat sukses itu tak mudah. Menjadi seorang pebisnis itu harus kerja keras dan terus menambah pengetahuan tentang bisnis. Selain itu, juga harus tahu budaya orang lain untuk menjaga kredibilitas. Ingat, pebisnis juga harus berani gagal.
Anda pernah gagal?
Ya. Saya pernah membuka usaha dengan teman-teman dan tidak berhasil. Saya tahu betul to give and to received. Kalau Anda memberikan sesuatu, Anda akan mendapatkan sesuatu. Intinya ikhlas dan hidup itu misteri.
Kemudian?
Sebaiknya, jika ingin berbisnis, sejak dini sering bersentuhan dengan dunia bisnis. Misalnya magang kerja atau mengikuti seminar entrepreneurship. Jiwa kewirausahaan itu bukan ilmu, tapi mental. Karena itu, menjadi entrepreneur sangat bergantung pada fighting spirit.
Yang terpenting untuk menjadi pengusaha?
Leadership. Sebagai seorang pengusaha, harus memunyai jiwa kepemimpinan, seperti memberikan contoh kepada bawahan dan memotivasi karyawan untuk selalu mengatasi ketertinggalan.
Perusahaan Anda pernah mengalami masa sulit?
Sekarang ini perusahaan saya dalam posisi sulit. Dalam kondisi seperti ini, saya harus tetap menciptakan karya-karya baru. Saya pikir, dua atau tiga bulan lagi Triwarsana akan muncul dengan program-program baru.
Cara Anda membangun Triwarsana menjadi besar?
Ya melakukan pendelegasian wewenang. Saya harus memercayai banyak orang. Alhamdulillah saya sudah mempunyai orang-orang yang bisa dipercaya dan mereka bisa berjalan tanpa saya.
Boleh dibilang, kesuksesan Anda juga ada Andil orang lain?Ya. Ini bukan pekerjaan pribadi. Saya berpikir, kerja saya ini adalah team work. Kerja di pertelevisian itu sistemnya kolektif. Saya seorang desainer dan teman-teman akan melaksanakannya untuk mewujudkan karya yang baik, dikenal, dan bermanfaat untuk orang banyak.
Cara Anda menghadapi pesaing bisnis?
Kalau sekarang saya dalam posisi di atas, suatu ketika akan ada masa di bawah. Ketika di atas, saya berusaha untuk selama mungkin. Tapi saya tahu dan sadar bisa saja ada yang melewati saya. Jadi yang selalu saya lakukan adalah meng-up date diri, tidak sombong dan takabur, mawas diri untuk terus belajar.
Sikap Anda menghadapi kritik?
Kadang-kadang kritikan itu harus kita sikapi dengan baik. Sebab, dari kritik itu, ternyata bisa menciptakan sebuah ide. Jadi saya tak pernah terganggu dengan kritik. Contohnya, saya pernah dapat ide dari kritikan seorang ibu setelah membuat acara Uang Kaget. Dia mengatakan, “Mas Helmi, bagaimana kalau dalam waktu 30 menit orang bisa bangun rumah atau bayar utang?” Buat saya, itu sebuah ide yang didapat tanpa harus membayar royalti.
Seperti apa cara Anda membuat produk acara menjadi bagus?
Sebagai pebisnis hiburan, saya bertekad akan selalu memberi nilai pada setiap acara yang diproduksi. Selain mendahulukan unsur entertainment, harus ada juga unsur edukatif. Sebab, kalau acara sudah tak bisa ditonton, percuma memasukkan unsur edukasi. Sekarang ini, kami sudah memproduksi 74 program acara televisi. Semua itu berkat kerja keras dan kesabaran untuk menuju kesuksesan.
Anda pernah mati ide?
Ya. Kalau sudah begitu, saya suka jalan ke Singapura. Saya bukan sok luar negeri, ya. Kalau di sana, nggak mungkin ada orang minta foto bareng. Jadi saya bebas dan senang duduk di tangga Orchad Road sambil melihat orang lalu-lalang.
Anda pernah stres?
Semua manusia bisa stres. Termasuk saya. Kunci supaya tidak stres, ya rileks dan ikhlas.
Dari mana talenta bisnis Anda peroleh?Mungkin dari Ayah. Beliau seorang pedagang yang mengajarkan saya dengan keras. Mulai ilmu agama, disiplin, dan keprihatinan. Dan, ilmu yang sangat mahal diajarkan Ayah saya adalah ilmu keprihatinan. Dari situlah saya mendapatkan makna atau pelajaran yang luar biasa.
Anda pernah bermimpi hidup seperti sekarang ini?
Tidak. Saya bisa menembus di bidang yang tak saya pelajari di bangku sekolah. Inspirasi yang bisa diperoleh adalah tak ada yang tak mungkin. Jadi jangan pernah berputus asa, cepat menyerah. Teruslah belajar.
Sikap Anda terhadap karyawan?
Karyawan adalah aset yang saya banggakan. Seorang karyawan itu harus mau bekerja keras, baik, dan jujur. Selain itu, karyawan kami berikan kebebasan untuk belajar. Di sini, kalau menunjukkan prestasi bagus, achievement yang baik, dan attitude yang bagus, insya Allah kariernya cepat naik. Buktinya, mereka yang dulunya office boy atau sopir, sekarang ada yang menjadi produser atau cameraman.
Obsesi Anda ke depan?
Saya sekarang sedang melakukan diversifikasi usaha. Tidak mungkin selamanya saya berada di dunia entertainment. Sekarang ini saya sedang men-set- up usaha pertambangan di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Bangka Belitung, dan Sumatera Selatan.
Kenapa harus bermain di tambang?
Selain bisnis properti, usaha di tambang adalah bisnis yang besar sekali. Makanya saya menggandeng investor. Jangan kaget kalau sekarang ini saya sering pergi ke beberapa tempat untuk mengontrol bisnis itu. Kadang-kadang kita hanya bisa berencana dan Tuhan yang menentukan. Kalau berhasil, saya akan pensiun dalam waktu dua atau tiga tahun lagi dari sekarang.
Siapa yang mendukung kesuksesan Anda?
Saya pikir istri dan keluarga. Tanpa mereka, saya tak akan merasakan kesuksesan ini. Karena saya orangnya moody. Kesuksesan saya persembahkan pertama untuk kedua orang tua, istri, dan anak-anak, kemudian guru-guru saya, temasuk Tantowi Yahya dan Michael Jordan.
***
Berkah dari Tuhan
Jalan menuju jagat hiburan televisi dimulai Helmy Yahya ketika menyelenggarakan hajatan jazz di kampusnya, STAN. Kala itu, ia berkenalan dengan pemusik Ireng Maulana, yang tampil sebagai pengisi acara. Setelah bergumul dengan musisi jazz dan membantunya dalam acara Berpacu Dalam Melodi di TVRI, Helmy pun berkenalan dengan Ani Soemadi.
Sejak itu, ia mendapat didikan dan terpaan dari sang guru tentang kuis selama sepuluh tahun. “Sungguh tidak menyangka. Saya kecebur kerja di dunia hiburan,” kata lelaki yang bercita-cita ingin menjadi dokter dan penulis ini.
Tahun 1999, Helmy berpisah dengan Ratu Kuis tersebut. Di saat kondisi itu, peraih penghargaan Pembawa Acara Kuis Pria Favorit pada Panasonic award 2002 ini mendapat tawaran dari Liem Siau Bok dan Jodi Suherman (orang tua Joshua) untuk mendirikan rumah produksi dengan bendera Triwarsana. Karena dirinya sudah cukup mampu di dunia entertainment, tawaran itu diterimanya. “Waktu itu, anak saya butuh susu. Dan saya percaya betul kalau kita berusaha pasti ada jalan,” katanya mengenang.
Membuat kuis untuk Joshua, anak tangga kesuksesannya dimulai. Padahal, menurut Helmy, kala itu Joshua baru berumur 5 tahun dan belum bisa membaca. Tapi buat seorang pengusaha yang baik, lanjut Helmy, tidak boleh menyerah. “Ya saya carilah di mana dia tak perlu baca. Dan akhirnya ya kuis musiklah,” ujarnya mengenang. Kala itu, ia dimodalkan oleh kedua temannya hanya dengan Rp 7 juta plus seorang sekretaris. Tapi di tahun ketiga, karyawannya sudah mencapai 70 orang. “luar biasa dan ini berkah dari Tuhan,” katanya bangga.
Tulisan ini pernah dipublikasihan di Majalah MANLY, Maret 2006
Otak pria kelahiran 6 Maret 1962 ini tak pernah diam. Hampir setiap hari ia membaca buku dan menonton televisi. Ia sadar, ada waktunya acara kuis akan berakhir. Benar dugaannya. Begitu Kuis Siapa Berani yang dipandunya bersama Alya Rohali mulai menurun pamornya, ia pun meluncurkan acara reality show, seperti Bedah Rumah dan Uang Kaget. Hasilnya pun meledak.
Dan, kabar terbaru si bungsu dari lima bersaudara ini, Maret mendatang Kuis Siapa Berani sudah on air di Malaysia. Boleh dibilang, Helmy Yahya salah seorang creator televisi Indonesia yang karyanya pertama dibeli pihak asing. “Sempurnalah kebahagiaan saya di dunia televisi,” katanya.
Nama adik kandung Tantowi Yahya ini terus meroket ketika membawakan acara Kuis Siapa Berani. Kuis kolosal ini tersukses di Indonesia dan bertahan hingga lima tahun lamanya dengan menyajikan 1.200 episode live setiap hari, pada pagi hari.”Tidak gampang kami memenangi semua awards. Mulai dari Panasonic Award hingga Asian Television Award,” kata ayah tiga anak ini.
Lelaki kelahiran Kota Empek-empek ini, meski sarjana accounting, lebih dikenal sebagai entertainer. Banyak acara televisi yang sukses lahir dari tangan dinginnya. Tak ada yang menduga peraih Master of Professional Accounting dengan nilai 3.6 di Univercity of Miami (Florida), USA, ini menjadi entrepreneur di dunia entertain.
Berikut petikan wawancara MANLY dengan Si Raja Kuis ini:
Menurut Anda, apa sih bisnis itu?
Bisnis adalah sebuah pelayanan mencari uang. Lebih penting lagi karena jiwa saya entertainer, jadi bagaimana caranya kita mendapat uang tapi orang yang membayar saya itu bisa terhibur. Alhamdulillah, setiap reality show saya punya nilai.
Apa filosofi bisnis Anda?
Semua produk dan karya saya harus bermanfaat untuk orang banyak.
Kunci kesuksesan Anda?Untuk mencapai tingkat sukses itu tak mudah. Menjadi seorang pebisnis itu harus kerja keras dan terus menambah pengetahuan tentang bisnis. Selain itu, juga harus tahu budaya orang lain untuk menjaga kredibilitas. Ingat, pebisnis juga harus berani gagal.
Anda pernah gagal?
Ya. Saya pernah membuka usaha dengan teman-teman dan tidak berhasil. Saya tahu betul to give and to received. Kalau Anda memberikan sesuatu, Anda akan mendapatkan sesuatu. Intinya ikhlas dan hidup itu misteri.
Kemudian?
Sebaiknya, jika ingin berbisnis, sejak dini sering bersentuhan dengan dunia bisnis. Misalnya magang kerja atau mengikuti seminar entrepreneurship. Jiwa kewirausahaan itu bukan ilmu, tapi mental. Karena itu, menjadi entrepreneur sangat bergantung pada fighting spirit.
Yang terpenting untuk menjadi pengusaha?
Leadership. Sebagai seorang pengusaha, harus memunyai jiwa kepemimpinan, seperti memberikan contoh kepada bawahan dan memotivasi karyawan untuk selalu mengatasi ketertinggalan.
Perusahaan Anda pernah mengalami masa sulit?
Sekarang ini perusahaan saya dalam posisi sulit. Dalam kondisi seperti ini, saya harus tetap menciptakan karya-karya baru. Saya pikir, dua atau tiga bulan lagi Triwarsana akan muncul dengan program-program baru.
Cara Anda membangun Triwarsana menjadi besar?
Ya melakukan pendelegasian wewenang. Saya harus memercayai banyak orang. Alhamdulillah saya sudah mempunyai orang-orang yang bisa dipercaya dan mereka bisa berjalan tanpa saya.
Boleh dibilang, kesuksesan Anda juga ada Andil orang lain?Ya. Ini bukan pekerjaan pribadi. Saya berpikir, kerja saya ini adalah team work. Kerja di pertelevisian itu sistemnya kolektif. Saya seorang desainer dan teman-teman akan melaksanakannya untuk mewujudkan karya yang baik, dikenal, dan bermanfaat untuk orang banyak.
Cara Anda menghadapi pesaing bisnis?
Kalau sekarang saya dalam posisi di atas, suatu ketika akan ada masa di bawah. Ketika di atas, saya berusaha untuk selama mungkin. Tapi saya tahu dan sadar bisa saja ada yang melewati saya. Jadi yang selalu saya lakukan adalah meng-up date diri, tidak sombong dan takabur, mawas diri untuk terus belajar.
Sikap Anda menghadapi kritik?
Kadang-kadang kritikan itu harus kita sikapi dengan baik. Sebab, dari kritik itu, ternyata bisa menciptakan sebuah ide. Jadi saya tak pernah terganggu dengan kritik. Contohnya, saya pernah dapat ide dari kritikan seorang ibu setelah membuat acara Uang Kaget. Dia mengatakan, “Mas Helmi, bagaimana kalau dalam waktu 30 menit orang bisa bangun rumah atau bayar utang?” Buat saya, itu sebuah ide yang didapat tanpa harus membayar royalti.
Seperti apa cara Anda membuat produk acara menjadi bagus?
Sebagai pebisnis hiburan, saya bertekad akan selalu memberi nilai pada setiap acara yang diproduksi. Selain mendahulukan unsur entertainment, harus ada juga unsur edukatif. Sebab, kalau acara sudah tak bisa ditonton, percuma memasukkan unsur edukasi. Sekarang ini, kami sudah memproduksi 74 program acara televisi. Semua itu berkat kerja keras dan kesabaran untuk menuju kesuksesan.
Anda pernah mati ide?
Ya. Kalau sudah begitu, saya suka jalan ke Singapura. Saya bukan sok luar negeri, ya. Kalau di sana, nggak mungkin ada orang minta foto bareng. Jadi saya bebas dan senang duduk di tangga Orchad Road sambil melihat orang lalu-lalang.
Anda pernah stres?
Semua manusia bisa stres. Termasuk saya. Kunci supaya tidak stres, ya rileks dan ikhlas.
Dari mana talenta bisnis Anda peroleh?Mungkin dari Ayah. Beliau seorang pedagang yang mengajarkan saya dengan keras. Mulai ilmu agama, disiplin, dan keprihatinan. Dan, ilmu yang sangat mahal diajarkan Ayah saya adalah ilmu keprihatinan. Dari situlah saya mendapatkan makna atau pelajaran yang luar biasa.
Anda pernah bermimpi hidup seperti sekarang ini?
Tidak. Saya bisa menembus di bidang yang tak saya pelajari di bangku sekolah. Inspirasi yang bisa diperoleh adalah tak ada yang tak mungkin. Jadi jangan pernah berputus asa, cepat menyerah. Teruslah belajar.
Sikap Anda terhadap karyawan?
Karyawan adalah aset yang saya banggakan. Seorang karyawan itu harus mau bekerja keras, baik, dan jujur. Selain itu, karyawan kami berikan kebebasan untuk belajar. Di sini, kalau menunjukkan prestasi bagus, achievement yang baik, dan attitude yang bagus, insya Allah kariernya cepat naik. Buktinya, mereka yang dulunya office boy atau sopir, sekarang ada yang menjadi produser atau cameraman.
Obsesi Anda ke depan?
Saya sekarang sedang melakukan diversifikasi usaha. Tidak mungkin selamanya saya berada di dunia entertainment. Sekarang ini saya sedang men-set- up usaha pertambangan di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Bangka Belitung, dan Sumatera Selatan.
Kenapa harus bermain di tambang?
Selain bisnis properti, usaha di tambang adalah bisnis yang besar sekali. Makanya saya menggandeng investor. Jangan kaget kalau sekarang ini saya sering pergi ke beberapa tempat untuk mengontrol bisnis itu. Kadang-kadang kita hanya bisa berencana dan Tuhan yang menentukan. Kalau berhasil, saya akan pensiun dalam waktu dua atau tiga tahun lagi dari sekarang.
Siapa yang mendukung kesuksesan Anda?
Saya pikir istri dan keluarga. Tanpa mereka, saya tak akan merasakan kesuksesan ini. Karena saya orangnya moody. Kesuksesan saya persembahkan pertama untuk kedua orang tua, istri, dan anak-anak, kemudian guru-guru saya, temasuk Tantowi Yahya dan Michael Jordan.
***
Berkah dari Tuhan
Jalan menuju jagat hiburan televisi dimulai Helmy Yahya ketika menyelenggarakan hajatan jazz di kampusnya, STAN. Kala itu, ia berkenalan dengan pemusik Ireng Maulana, yang tampil sebagai pengisi acara. Setelah bergumul dengan musisi jazz dan membantunya dalam acara Berpacu Dalam Melodi di TVRI, Helmy pun berkenalan dengan Ani Soemadi.
Sejak itu, ia mendapat didikan dan terpaan dari sang guru tentang kuis selama sepuluh tahun. “Sungguh tidak menyangka. Saya kecebur kerja di dunia hiburan,” kata lelaki yang bercita-cita ingin menjadi dokter dan penulis ini.
Tahun 1999, Helmy berpisah dengan Ratu Kuis tersebut. Di saat kondisi itu, peraih penghargaan Pembawa Acara Kuis Pria Favorit pada Panasonic award 2002 ini mendapat tawaran dari Liem Siau Bok dan Jodi Suherman (orang tua Joshua) untuk mendirikan rumah produksi dengan bendera Triwarsana. Karena dirinya sudah cukup mampu di dunia entertainment, tawaran itu diterimanya. “Waktu itu, anak saya butuh susu. Dan saya percaya betul kalau kita berusaha pasti ada jalan,” katanya mengenang.
Membuat kuis untuk Joshua, anak tangga kesuksesannya dimulai. Padahal, menurut Helmy, kala itu Joshua baru berumur 5 tahun dan belum bisa membaca. Tapi buat seorang pengusaha yang baik, lanjut Helmy, tidak boleh menyerah. “Ya saya carilah di mana dia tak perlu baca. Dan akhirnya ya kuis musiklah,” ujarnya mengenang. Kala itu, ia dimodalkan oleh kedua temannya hanya dengan Rp 7 juta plus seorang sekretaris. Tapi di tahun ketiga, karyawannya sudah mencapai 70 orang. “luar biasa dan ini berkah dari Tuhan,” katanya bangga.
Tulisan ini pernah dipublikasihan di Majalah MANLY, Maret 2006
No comments:
Post a Comment