Tuesday, 17 July 2007

James T. Riady

"Jangan Serakah dan Berhenti Belajar "

"Menjadi pengusaha itu gampang, tapi menjadi pengusaha yang berhasil itu tidak mudah. Butuh visi, misi, dan keseriusan," tutur James T. Riady.

Kata-katanya begitu tegas dan lugas saat berbicara. Tak pernah ada keraguan pria berkacamata ini dalam bersikap. Meskipun gayanya tetap santai. Petang itu, lelaki yang baru beberapa jam turun dari pesawat yang membawanya selama 20 jam dari Jerman, mengenakan kemeja batik.

Hari itu Chairman Lippo China, Chairman of Lippo Group Resources Ltd, Hong Kong ini memenuhi janjinya memberikan ceramah di hadapan ahasiswa Executive Property Course yang diselenggarakan oleh Pusat Sudi Properti Indonesia di Pusdiklat Binasentra, Komplek Bidakara, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

“Saya masih sering dan terus belajar. Sebab, saya melihat sekarang ini banyak orang berada dalam posisi kemandekan atau with life crisis,” kata Dr. (H.C) James T. Riady. Chairman of Lippo Group.

Doctorate (Honoris Causa) in Christian Ministry, Ouachita Baptist University, Arkadelphia, Arkansas, Amerika Serikat ini menambahkan, banyak orang tidak punya jiwa untuk terus belajar. Sebab, kata pria yang tengah meraih gelar Master of Arts, Reformed Theological Seminary Indonesia, Jakarta, ini bahwa jiwa untuk terus belajar itu sangat penting.

“Saya melihat hidup seseorang yang berhasil harus memiliki hati yang masuk jiwa. Jangan punya hati setengahsetengah,” kata Founder & Chairman Pelita Harapan Educational Foundation, Jakarta, ini sembari tersenyum.

Berikut ini lelaki kelahiran Jakarta, 7 Januari 1957 mengungkapkan beberapa pokok pikirannya tentang dunia bisnis yang digelutinya. MANLY menyajikannya dengan tanya-jawab.

Menurut Anda, apa susahnya menjadi pengusaha?
Untuk menjadi pengusaha sangat gampang. Anda masuk universitas, masuk fakultas ekonomi, itu standar paling rendah bila dibandingkan Anda mau menjadi dokter atau arsitek. Tapi yang paling susah adalah menjadi pengusaha yang berhasil. Itu sangat susah.

Lantas, apa filosofi Anda dalam bisnis?
Tidak boleh serakah. Inilah pelajaran utama dari real estate. Apabila orang real estate gagal, itu dikarenakan greed (serakah-red). Jika dalam diri saya, di kelompok saya yang dipikirkan hanya serakah, maka gagallah. Kalau you sudah greed, you sudah gagal. Kebanyakan para pengembang itu gagal, karena tak bisa menahan nafsu serakah. Itu karena adanya ketidakpuasan, dan berusaha mencari lebih. Makanya, kita harus bangga dengan usaha yang kita jalankan meski itu kecil dan punya tujuan. Jadi, menjaga diri agar tidak serakah, paling penting dalam bisnis.

Aspek apa yang harus diperhatikan dalam berbisnis?
Timing, location, management. Dalam real estate, manajemen itu penting sekali. Dibutuhkan lokasi dan manajemen yang baik. Situasi baik, pasar yang baik, infl asi yang tinggi, harga terus naik, sangat mudah menutupi semua kelemahan kita. Tapi, kalau struktur kita kuat yaitu: timing, location, dan management, maka kita akan mendapatkan uang banyak. Tapi pada saat pasar lemah, pada saat itulah kita tergantung pada manajemen. Kalau manajemen kita bagus, dan kita punya visi, maka hasilnya akan oke. Satu lagi, kita harus serius.

Anda pernah salah dalam berbisnis?
Kita sebagai manusia pasti pernah salah. Waktu membuat mal di Metropolis Modern Land, sangat prematur. Kami terlalu berani tanpa memperhatikan jalan. Seharusnya, saya mencari jalan utama. Itu bagian paling penting dalam sebuah kota ketika mencari lokasi. Bukan jalan nomor dua atau tiga. Nah, kebetulan kami berada di jalan nomor tiga yang bisa masuk dan sulit keluar. Kala itu, ada faktor yang meminta bantuan dan kami pun bilang bisa. Karena kami punya segalanya. Mulai dari anchor, hingga marketing. Tapi hasilnya, penjualan tidak seperti yang diharapkan. Jadi, location itu paling penting, juga pernah salah.

Bagaimana cara Anda mengembangkan bisnis Lippo?
Saya sering mengoleksi dan menjaring informasi kondisi setiap negara. Kalau kita mendapat informasi hanya Indonesia, agak sulit. Kita tak boleh mengabaikan gambaran besar akan situasi global. Mulai dari sosial, politik, dan ekonomi. Kelompok Lippo bisnisnya hanya satu, yaitu jasa. Setiap bisnis kami, sistemnya kepercayaan.

Terobosan apa yang sudah dilakukan untuk kemajuan bisnis Anda?
Kami adalah yang pertama mengubah konsep comission selesman. Tahun 1990, waktu kita mulai di real estate menjual Sudirman Apartment, komisi salesmen di Indonesia cuma 0,15 persen. Saya kaget, pantes salesmen properti itu bokek semua.

Di Amerika, komisinya sampai 5 persen. Jadi pada saat itu, kami mengeluarkan komisi dengan 1,5 persen. Wah, semua orang heboh dan tidak percaya akan berhasil. Seiring berjalannya waktu hingga dua tahun, orang mulai mengikuti pola saya. Nah, pada saat itu pula, kita lari ke angka 2 persen, 2,5 persen, dan sekarang sudah 3 persen.

Apakah Anda juga melakukan diversifikasi usaha?
Ya. Kami juga mencoba diversifikasi. Di Indonesia itu risikonya terlalu banyak dan besar. Terlalu banyak orang bisa bicara di koran, dan memengaruhi bisnis kita. Cara kita diversifi kasi, berapa persen bisnis yang menjual. Kami pun tidak terlalu bergantung pada satu produk atau sektor saja. Sekarang, kami membangun beberapa mal ekstrem dan sejati. Seperti Plasa Indonesia dan Plasa Senayan. Ini mal sejati, dan ini hanya disewakan. Hujan atau tidak hujan, bisnis kita tetap basah.

Menurut Anda, apakah penting perusahaan itu masuk pasar modal?
Buat saya, masuk pasar modal itu penting. Sebab tidak mungkin sebuah developer itu menjadi besar tanpa pasar modal. Apalagi situasi di Indonesia.
Bagaimana cara menghadapi kesulitan dalam bisnis?Tahun 1992, kami masuk ke Thailand. Namun pada 1996 kami keluar, lantaran harga sudah terlalu tinggi.Akhirnya semua aset kita di Thailand dijual. Itu bukan karena kita tidak confident. Tetapi memang kondisinya memang harus melakukan itu.

Lantas, dari mana Anda mengenal beli dan jual aset?
Dari seorang investment maker asal Irak, ketika saya belajar di Amerika. Saya bertanya pada dia. Bisnis itu seperti apa sih? Dia bilang buy-look-sell-buy. Artinya, beli paling rendah, jual paling tinggi. Tapi pada praktiknya tidak seperti itu. Alasannya, karena kita tidak pernah bisa tahu, kapan posisi harga paling rendah. Dan kapan pula harga paling tinggi itu muncul. Maka ketika tinggi, kita harus cepat jual. Jadi prinsipnya adalah beli ambil paling rendah, jual ambil paling tinggi.

Untuk mencari informasi, Anda dapatkan dari mana?
Selain belajar di luar negeri, saya sarankan jangan sembarangan membaca koran dan majalah. Sebab, tidak semua media massa itu sama. Kalau Anda membaca koran atau majalah biasa-biasa saja, you nggak bakal belajar hal-hal yang bagus.

Apakah sekarang Anda sudah merasa maju dalam berbisnis?
Nah ini, ketika melihat Lippo Karawaci, ya saya pikir cukup bagus prospeknya. Ini suatu strategi dan kita sudah jalani lima tahun. Buat saya, yang sangat diperhatikan adalah untuk apa kotanya maju, tapi Anda tak memiliki sisa lahan.

Sebaiknya untuk ke depan, kita harus memiliki land banking strategy. Kami di Lippo memiliki sisa lahan yang terbagi menjadi tiga kategori. Yaitu jewel, diamond, dan gold. Kami berhasil membangun kota tapi kami juga harus memiliki 20 persen sisa lahan untuk dijadikan land banking strategy. Jadi istilahnya kita tahu bahwa yang namanya berhasil itu, tidak selalu berhasil. Patokannya, bukan saja kotanya ini dinamis, tapi ketika sudah selesai, apakah kita masih bisa memiliki sisa lahan untuk dijadikan land banking strategy.

Haris Mayasno--Tulisan ini sudah dipublikasikan di Majalah MANLY, November 2005

No comments:

Post a Comment