
F. Widayanto
Mendapatkan pamor di mata penikmat seni, bukan hal mudah. Mengadakan pameran, langkah utama yang harus dilakukan setiap seniman untuk menaikkan pamornya.
Di Dunia seni keramik Indonesia, nama F.Widayanto tidak asing lagi. Boleh dikata, ia adalah salah satu maestro seni keramik Indonesia. Yanto, demikian panggilan akrabnya. Ia dikenal memiliki karakter kuat pada hasil karya keramiknya. Mulai dari bahan hingga torehannya dengan ciri khas flora dan fauna, juga wanita.
Ia tak pernah lelah mencari, menggali, dan mengekplorasi sejarah untuk mewujudkan sebuah seni keramik menjadi bentuk seni kontemporer. Hampir seluruh karya keramik Yanto mendapat sambutan hangat dari para penikmat seni.
Lelaki yang pertama kali menggelar pameran keramik pada 1987, bertemakan ”Wadah Air” di Erasmus Huis, Jakarta, ini sosok pria yang berhasil memadukan seni keramik dengan aspek ekonomi. Makanya, ia selalu menelurkan obyek seni keramik yang memiliki nilai lebih. ”Kenapa saya harus malu? Toh yang saya jual adalah kreasi, bukan komoditas,” ujarnya.
Kini, karya miliknya telah melanglang buana, menembus batas negara. Raja Yordania, Butik Hermes di Paris, Prancis, juga membeli produk buatannya. Pun begitu dengan para pengusaha, pejabat, dan tokoh penting di negeri ini. Hampir di setiap sudut rumahnya, pasti ada koleksi keramik sang maestro ini. Berikut petikan wawancara dengan MANLY:
Kapan Anda sadar seni bisa dijadikan bisnis?
Sebetulnya sudah lama. Awalnya tahun 1990, saya harus menjalankan usaha saya sendiri. Dan, saat itu juga saya sempat terkatung-katung. Karena biasanya kalau saya mau pameran diurusi orang. Untung saja saya bertemu dengan Dian Adisucipto, konsultan di Kemchick.
Dia menawarkan diri untuk menjadi konsultan saya secara free dalam jangka waktu tertentu. Akhirnya, seminggu sekali saya belajar manajemen selama setahun. Tapi tak berlangsung lama karena saya lebih memilih mengatur usaha saya sendiri. Termasuk mengadakan pameran.
Berapa modal Anda pertama kali berbisnis?
Tahun 1990, modalnya hanya Rp 50 juta. Saya bersyukur selama ini tidak pernah meminjam uang ke bank untuk mengembangkan usaha. Yang jelas, dalam setahun keuntungan yang diraih tidak sampai puluhan miliar. Itu karena pengeluaran juga besar untuk menggelar pameran dan biaya-biaya lain. Yang bisa saya katakan, selama ini saya bisa menambah kantor, memperluas usaha, dan menambah karyawan, itu sudah ukuran bahwa usaha ini terus maju.
Apa pentingya pameran?
Sangat penting. Jika ingin menaikkan pamor, harus berani pameran secara periodik. Buat saya, kegiatan ini tak hanya show produk. Tapi sebuah pertunjukan, totalitas diri, dan termasuk sebuah konsep.
Maksudnya?
Misalnya, bagaimana kita melayani pengunjung dengan baik untuk mendapat kesan yang positif dari mereka. Setelah itu, mereka akan mendapatkan kepuasan setelah memiliki produk saya tanpa melihat harga. Sebab, semua produk kami limited edition.
Seperti apa bentuk pameran yang baik?
Pameran itu harus memiliki konsep. Mulai dari tema pameran hingga tamu yang akan diundang, dari kalangan mana dan berapa jumlahnya. Setelah itu, selain ketepatan waktu acara, juga siapa yang akan membuka pameran. Semua harus sempurna sebelum dan saat pameran. Mulai dari pelayan hingga menu makanan harus sesuai konsep tema pameran. Sebab, kita harus berhitung soal berapa produk yang akan kita jual sebelum membuat pameran.
Siapa yang mengajari Anda pameran?
Saya belajar dari fashion show. Saya iri kenapa orang mau beli pakaian mahal dan hanya digunakan satu kali? Akhirnya, saat pameran, saya memberikan sebuah karya berkualitas, berkarakter, dan tidak pasaran.
Pernah gagal?
Saya bersyukur selalu berhasil. Tamu yang datang bisa 500 orang. Ini bukan berarti saya bilang akan berhasil terus. Toh, setiap kali menggadakan pameran, dada saya tetap berdebar keras.
Kiat menembus kalangan jet set?
Saya percaya, jika diawali dari kalangan atas, otomatis ke bawahnya akan mengikuti. Tahun 1990, Nina Soediyono, seorang peragawati dan juga public relations di Merchantile Club Jakarta, meminta untuk memajang karya saya di tempatnya bekerja. Jujur, saya takut waktu dikasih harga Rp750 ribu hinga Rp 1 juta. Karena buat saya, harganya tinggi sekali. Tapi saya kaget, ternyata semua barang terjual habis pada hari pertama. Setelah pameran selesai, saya dikontak untuk memesan barang yang saya pamerkan. Tapi barangbarangnya sudah habis, ha.. ha.. ha..
Kapan akan mengadakan pameran kembali?
Dua tahun lagi dengan konsep lebih menantang, psikologis, dan provokatif. Jadi berbeda dengan produk saya sebelumnya dan tidak wanita. Kita bicara mengenai seni itu adalah perasaan. Perasaan apa yang bisa kita keluarkan untuk bisa kita jual. Jadi bukan dari diri kita sendiri.
Cara Anda menghadapi persaingan?
Saya tak punya tawar-menawar. Saya akan terus berkarya dan harus berbuat sesuatu yang baru, berbeda dari karya sebelumnya meski penuh risiko dan meski mendapat kritik.
Pernah mati ide?
Tidak. Caranya, jalan-jalan, baca buku, dan ketemu orang. Dengan cara itu, akan dapat banyak in put.
Bagaimana Anda memperlakukan karyawan?
Karyawan bagian dari saya. Tanpa mereka, saya tak ada artinya. Untuk itu, saya mengatur mereka dengan baik. Kalau ada masalah, ya saya bicara dengan mereka meski badan saya sedang letih.
Anda sudah lakukan regenerasi?
Karena saya akan tua, makanya saya sudah mempersiapkan sekali. Untuk meningkatkan apresiasi, karyawan saya berikan buku yang juga akan memberikan inspirasi kepada saya.
Bagaimana jika ada yang membelot?
Ya tidak apa-apa. Toh itu manusiawi. Hal itu terjadi di bidang industri. Tapi saya tetap menggunakan strategi. Saya akan berusaha sebaik-baiknya.
Apa filosofi hidup Anda?
Saya menganut prinsip keramik. Mencipta keramik yang baik itu, tentu membutuhkan proses panjang. Kita harus mengenal jenis tanahnya, teknik pembuatannya, hingga pembakarannya. Kita harus tunduk dan patuh terhadap proses itu. Dan, jaminannya, tak mustahil bakal berhasil. Mungkin juga gagal. Namun, dari situlah kita bisa belajar sesuatu. Makanya, saya harus terus berjuang dalam hidup. Kalau harus dicerca, dianggap menyimpang, itu adalah risiko yang harus saya terima.
Kemudian?
Kita tak boleh ingin cepat menghasilkan dan setelah itu selesai. Saya pikir manusia seharusnya tidak mengambil jalan instan.Kita harus menikmati jalan dan proses yang panjang. Kalau hidup ini instan tanpa tempaan batin, menjadikan manusia itu kurang matang dan tak berkarakter. Jika diistilahkan, manusia itu sama dengan keris. Manusia juga harus memunyai pamor.
***
Penjaja Kaus dan Topi
Saat belajar keramik, F. Widayanto sempat stres. Pasalnya, ia disuruh engumpulkan tanah, menumbuk hingga halus, dan menyaringnya. Saat itu, lelaki kelahiran Jakarta, 23 Januari 1953, ini mempelajari keramik di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut teknologi Bandung.
Perlahan tapi pasti, ia mulai jatuh cinta. Yang menarik di keramik, kata Yanto, semua barang yang dibakar tak akan rusak. Justru sebaliknya. “Semakin keras,” tutur mantan dosen di Fakultas Keramik, Institut Kesenian Jakarta (1990-1997), ini.
Menurut Yanto, sebongkah tanah bukanbarang tanpa guna. Baginya, tanah sama saja dengan kanvas, perunggu, perak,atau emas. Seorang pelukis akan sangatmenghargai kanvas sebagai mediaberekspresi. Pun begitu buat Yanto. Ia memaknai tanah juga sebagai wahana yang bisa diajak bicara, berekspresi, dan mengaktualisasikan dirinya.
Pemilik perusahaan PT Widayanto Citra Tembikarindo yang sukses ini menjalani dunia dagang sejak berusia 13 tahun. Meski benci pelajaran matematika, bukan berarti ia tak pandai berdagang. Ia pun melelang semua kartu bergambar buatannya kepada teman-teman sekolahnya. Pun begitu saat duduk di bangku Sekolah Menengah atas Kanisius, Jakarta. ”Saya jualan kaus dan topi,” katanya. Dari situlah minat dagangnya tumbuh dan kini ia jadi seniman keramik papan atas serta berjaya dalam berbisnis.
Tulisan ini sudah dipublikasikan di Majalah MANLY Januari 2006
Mendapatkan pamor di mata penikmat seni, bukan hal mudah. Mengadakan pameran, langkah utama yang harus dilakukan setiap seniman untuk menaikkan pamornya.
Di Dunia seni keramik Indonesia, nama F.Widayanto tidak asing lagi. Boleh dikata, ia adalah salah satu maestro seni keramik Indonesia. Yanto, demikian panggilan akrabnya. Ia dikenal memiliki karakter kuat pada hasil karya keramiknya. Mulai dari bahan hingga torehannya dengan ciri khas flora dan fauna, juga wanita.
Ia tak pernah lelah mencari, menggali, dan mengekplorasi sejarah untuk mewujudkan sebuah seni keramik menjadi bentuk seni kontemporer. Hampir seluruh karya keramik Yanto mendapat sambutan hangat dari para penikmat seni.
Lelaki yang pertama kali menggelar pameran keramik pada 1987, bertemakan ”Wadah Air” di Erasmus Huis, Jakarta, ini sosok pria yang berhasil memadukan seni keramik dengan aspek ekonomi. Makanya, ia selalu menelurkan obyek seni keramik yang memiliki nilai lebih. ”Kenapa saya harus malu? Toh yang saya jual adalah kreasi, bukan komoditas,” ujarnya.
Kini, karya miliknya telah melanglang buana, menembus batas negara. Raja Yordania, Butik Hermes di Paris, Prancis, juga membeli produk buatannya. Pun begitu dengan para pengusaha, pejabat, dan tokoh penting di negeri ini. Hampir di setiap sudut rumahnya, pasti ada koleksi keramik sang maestro ini. Berikut petikan wawancara dengan MANLY:
Kapan Anda sadar seni bisa dijadikan bisnis?
Sebetulnya sudah lama. Awalnya tahun 1990, saya harus menjalankan usaha saya sendiri. Dan, saat itu juga saya sempat terkatung-katung. Karena biasanya kalau saya mau pameran diurusi orang. Untung saja saya bertemu dengan Dian Adisucipto, konsultan di Kemchick.
Dia menawarkan diri untuk menjadi konsultan saya secara free dalam jangka waktu tertentu. Akhirnya, seminggu sekali saya belajar manajemen selama setahun. Tapi tak berlangsung lama karena saya lebih memilih mengatur usaha saya sendiri. Termasuk mengadakan pameran.
Berapa modal Anda pertama kali berbisnis?
Tahun 1990, modalnya hanya Rp 50 juta. Saya bersyukur selama ini tidak pernah meminjam uang ke bank untuk mengembangkan usaha. Yang jelas, dalam setahun keuntungan yang diraih tidak sampai puluhan miliar. Itu karena pengeluaran juga besar untuk menggelar pameran dan biaya-biaya lain. Yang bisa saya katakan, selama ini saya bisa menambah kantor, memperluas usaha, dan menambah karyawan, itu sudah ukuran bahwa usaha ini terus maju.
Apa pentingya pameran?
Sangat penting. Jika ingin menaikkan pamor, harus berani pameran secara periodik. Buat saya, kegiatan ini tak hanya show produk. Tapi sebuah pertunjukan, totalitas diri, dan termasuk sebuah konsep.
Maksudnya?
Misalnya, bagaimana kita melayani pengunjung dengan baik untuk mendapat kesan yang positif dari mereka. Setelah itu, mereka akan mendapatkan kepuasan setelah memiliki produk saya tanpa melihat harga. Sebab, semua produk kami limited edition.
Seperti apa bentuk pameran yang baik?
Pameran itu harus memiliki konsep. Mulai dari tema pameran hingga tamu yang akan diundang, dari kalangan mana dan berapa jumlahnya. Setelah itu, selain ketepatan waktu acara, juga siapa yang akan membuka pameran. Semua harus sempurna sebelum dan saat pameran. Mulai dari pelayan hingga menu makanan harus sesuai konsep tema pameran. Sebab, kita harus berhitung soal berapa produk yang akan kita jual sebelum membuat pameran.
Siapa yang mengajari Anda pameran?
Saya belajar dari fashion show. Saya iri kenapa orang mau beli pakaian mahal dan hanya digunakan satu kali? Akhirnya, saat pameran, saya memberikan sebuah karya berkualitas, berkarakter, dan tidak pasaran.
Pernah gagal?
Saya bersyukur selalu berhasil. Tamu yang datang bisa 500 orang. Ini bukan berarti saya bilang akan berhasil terus. Toh, setiap kali menggadakan pameran, dada saya tetap berdebar keras.
Kiat menembus kalangan jet set?
Saya percaya, jika diawali dari kalangan atas, otomatis ke bawahnya akan mengikuti. Tahun 1990, Nina Soediyono, seorang peragawati dan juga public relations di Merchantile Club Jakarta, meminta untuk memajang karya saya di tempatnya bekerja. Jujur, saya takut waktu dikasih harga Rp750 ribu hinga Rp 1 juta. Karena buat saya, harganya tinggi sekali. Tapi saya kaget, ternyata semua barang terjual habis pada hari pertama. Setelah pameran selesai, saya dikontak untuk memesan barang yang saya pamerkan. Tapi barangbarangnya sudah habis, ha.. ha.. ha..
Kapan akan mengadakan pameran kembali?
Dua tahun lagi dengan konsep lebih menantang, psikologis, dan provokatif. Jadi berbeda dengan produk saya sebelumnya dan tidak wanita. Kita bicara mengenai seni itu adalah perasaan. Perasaan apa yang bisa kita keluarkan untuk bisa kita jual. Jadi bukan dari diri kita sendiri.
Cara Anda menghadapi persaingan?
Saya tak punya tawar-menawar. Saya akan terus berkarya dan harus berbuat sesuatu yang baru, berbeda dari karya sebelumnya meski penuh risiko dan meski mendapat kritik.
Pernah mati ide?
Tidak. Caranya, jalan-jalan, baca buku, dan ketemu orang. Dengan cara itu, akan dapat banyak in put.
Bagaimana Anda memperlakukan karyawan?
Karyawan bagian dari saya. Tanpa mereka, saya tak ada artinya. Untuk itu, saya mengatur mereka dengan baik. Kalau ada masalah, ya saya bicara dengan mereka meski badan saya sedang letih.
Anda sudah lakukan regenerasi?
Karena saya akan tua, makanya saya sudah mempersiapkan sekali. Untuk meningkatkan apresiasi, karyawan saya berikan buku yang juga akan memberikan inspirasi kepada saya.
Bagaimana jika ada yang membelot?
Ya tidak apa-apa. Toh itu manusiawi. Hal itu terjadi di bidang industri. Tapi saya tetap menggunakan strategi. Saya akan berusaha sebaik-baiknya.
Apa filosofi hidup Anda?
Saya menganut prinsip keramik. Mencipta keramik yang baik itu, tentu membutuhkan proses panjang. Kita harus mengenal jenis tanahnya, teknik pembuatannya, hingga pembakarannya. Kita harus tunduk dan patuh terhadap proses itu. Dan, jaminannya, tak mustahil bakal berhasil. Mungkin juga gagal. Namun, dari situlah kita bisa belajar sesuatu. Makanya, saya harus terus berjuang dalam hidup. Kalau harus dicerca, dianggap menyimpang, itu adalah risiko yang harus saya terima.
Kemudian?
Kita tak boleh ingin cepat menghasilkan dan setelah itu selesai. Saya pikir manusia seharusnya tidak mengambil jalan instan.Kita harus menikmati jalan dan proses yang panjang. Kalau hidup ini instan tanpa tempaan batin, menjadikan manusia itu kurang matang dan tak berkarakter. Jika diistilahkan, manusia itu sama dengan keris. Manusia juga harus memunyai pamor.
***
Penjaja Kaus dan Topi
Saat belajar keramik, F. Widayanto sempat stres. Pasalnya, ia disuruh engumpulkan tanah, menumbuk hingga halus, dan menyaringnya. Saat itu, lelaki kelahiran Jakarta, 23 Januari 1953, ini mempelajari keramik di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut teknologi Bandung.
Perlahan tapi pasti, ia mulai jatuh cinta. Yang menarik di keramik, kata Yanto, semua barang yang dibakar tak akan rusak. Justru sebaliknya. “Semakin keras,” tutur mantan dosen di Fakultas Keramik, Institut Kesenian Jakarta (1990-1997), ini.
Menurut Yanto, sebongkah tanah bukanbarang tanpa guna. Baginya, tanah sama saja dengan kanvas, perunggu, perak,atau emas. Seorang pelukis akan sangatmenghargai kanvas sebagai mediaberekspresi. Pun begitu buat Yanto. Ia memaknai tanah juga sebagai wahana yang bisa diajak bicara, berekspresi, dan mengaktualisasikan dirinya.
Pemilik perusahaan PT Widayanto Citra Tembikarindo yang sukses ini menjalani dunia dagang sejak berusia 13 tahun. Meski benci pelajaran matematika, bukan berarti ia tak pandai berdagang. Ia pun melelang semua kartu bergambar buatannya kepada teman-teman sekolahnya. Pun begitu saat duduk di bangku Sekolah Menengah atas Kanisius, Jakarta. ”Saya jualan kaus dan topi,” katanya. Dari situlah minat dagangnya tumbuh dan kini ia jadi seniman keramik papan atas serta berjaya dalam berbisnis.
Tulisan ini sudah dipublikasikan di Majalah MANLY Januari 2006
No comments:
Post a Comment