Tuesday, 17 July 2007

Bob Sadino

Just Do It

Pria berambut putih ini telah merintis jalan begitu panjang. Ia memulai usaha dagang ayam dan telur boiler dengan suka cita. Pria ini pernah merasakan betapa kasarnya tangan harus dihunjamkan ke tanah, panasnya kaki harus ditelapakkan di jalanan, dan sakitnya hati menghadapi hari esok yang tidak menentu.

Pengusaha gaek nan eksentrik itu, menempa dirinya untuk merasakan menjadi petani sejati. Naluri pribadinya yang bermuatan seni, menghasilkan keberanian luar biasa untuk berbisnis dari nol. Dengan jiwa yang tak surut dihantam cobaan, warung kecil yang dulu ia miliki kini telah menjadi sebuah toko swalayan terkenal: Kem Chicks.

Membangun Kem Chicks dengan penuh kesabaran dilakukan Bambang Mustari Sadino alias Bob Sadino, sedepa demi sedepa. Gerak langkah usaha suami Soelami ini mulai merangkak ke arah hulu. Tanpa meninggalkan sifat kepribadian seorang petani dengan pemikiran maju dan berani tampil beda, pria kelahiran Tanjung Karang, Lampung 9 Maret 1933, ini berhasil menciptakan bangunan agrabisnis secara menyeluruh.

Berikut petikan wawancara Haris Maryasno dari MANLY dengan bos Kem Chicks Group, mengungkap kunci kesuksesannya.

Sejak kapan Anda menyadari memiliki bakat berwirausaha?
Saya tidak punya bakat. Apa orang sukses harus punya bakat dulu? Kalau tidak punya bakat,
apakah tidak akan sukses? Sebab, setiap orang pasti punya keinginan untuk sukses.

Setelah perjalanan waktu, apakah Anda menemukan filosofi untuk sukses?
Kalau awalnya orang tidak punya percaya diri untuk berhasil, maka seumur hidup dan hayatnya dia tidak akan berhasil.

Apakah modal dasar Anda dalam berusaha?
Modal saya adalah kaki, mata, tangan, mata, kuping dan hati. Dalam melangkah, saya selalu menggunakan semuanya.

Bagaimana cara melatih pemberian Tuhan itu?
Just do it. Semua itu dari naluri, tidak perlu dilatih dan belajar. Buat saya, melangkah, mendengar, dan melihat itu tidak susah.

Lantas, ide berdagang itu muncul dari mana?
Semua mengalir tanpa ide dan rencana. Ketika ada barang dagangan, ya saya bawa dan tawarkan. Hari ini saya lakukan satu langkah. Besok dua langkah dan seterusnya. Sifatnya mengalir, tidak dipaksakan dan direncanakan.

Jadi Anda tak pernah punya rencana detil?
Buat apa rencana? Karena saya tidak mau teratur. Emang enak kalau hidup teratur? Kalau Anda anak sekolahan, selalu punya rencana, sistem dan tujuan. Karena saya bukan anak sekolah, saya harus ambil jalan lain. Kalau saya punya tujuan, maka usaha saya akan berhenti pada tujuan itu. Padahal masih panjang perjalanan yang di luar batas rencana dan tujuan. Ya, mengalir saja. “Mengalir” pun pasti butuh panduan. Saya tidak mau memakai panduan, karena terlampau terikat dan tidak bebas.

Seberapa sulit menjalankan roda usaha?
Sesulit apapun akan saya hadapi. Setelah ayam saya laku, karena besar dan empuk, akibatnya telur tidak laku. Ada seribu jalan. Saya ambil salah satu jalan. Saya door to door ke rumah orang-orang asing. Dan, mereka langsung membeli. Itu awal dari perjalanan saya. Bereskan?Siapa guru Anda?Saya orang yang tidak sekolah. Saya belajar pada alam. Enaknya belajar dari alam, kita tidak boleh melawan alam. Kita harus bisa menyesuaikan diri dengan alam. Guru saya bisa sungai, pohon, matahari, jalanan, batu dan sebagainya. Belajar dengan alam tak ada batasnya. Orang sekolah selalu dibatasi dinding dan waktu.

Kemudian…
Kunci keberhasilan saya, karena tidak sekolah, tapi belajar dari alam. Apakah orang sukses harus pakai sistem, konsep, rencana dan tujuan? Saya tidak menggunakannya. Itu hanya salah satu jalan. Saya mengambil jalan lain. Anda tahu sungai dari buku. Saya tahu sungai karena melihat dan mandi di sungai. Saya lakukan apa saja di sungai. Saya langsung rasakan, belajar, dan bergumul dengan alam.

Cara seperti itu membuat Anda bisa mempertahankan hidup?
Saya menggunakan cara saya sendiri. Saya makhluk Tuhan yang sudah diberi rezeki. Kita tak boleh ketakutan mati lantaran tidak makan jika tidak berusaha. Jangan pernah mengikuti langkah orang. Lakukan dengan langkah sendiri. Kalau mengikuti langkah orang, tidak akan bisa dan sukses. Jangan mencari langkah yang sama dengan orang yang sudah sukses.

Kalau Anda susah, apa yang dilakukan?
Saya tidak pernah susah. Saya dianugerahi seluruh perangkat oleh Sang Pencipta. Masa hidup harus susah? Saya dulu pernah tidak makan, saya tidak makan lagi juga tidak apa-apa. Tidak usah takut dalam hidup. Jalani saja tanpa persiapan.

Sebagai siklus, apakah persiapan Anda ketika usaha turun?
Saya sudah tahu, kalau usaha itu ada naik dan turunnya. Jalani saja. Ada urusan apa jika usaha saya turun? Saya tak pernah mengamati dan mengukur. Saya tak punya barometer mengenai naik dan turunnya usaha. Kalau ada, saya juga tidak akan pakai. Saya tidak tergantung pada barometer itu.

Jadi tergantung pada apa?
Ha-ha-ha. Saya gak tahu. Kalau tahu, kan lucu. Coba gunakan ketidaktahuan Anda sebagai kekuatan. Apapun ketidak tahuan, menjadi sebuah kekuatan kita.
Sistem kontrol apakah yang Anda jalankan dalam berbisnis?Di Kem Chicks kami punya motto: Asih, Asah, Asuh. Tiga unsur yang sangat tepadu. Asih tidak berarti memanjakan. Jadi semboyan itu jangan dibolak-balik. Semua harus berpangkal dari kata asih, lalu diasah, sesudah itu baru diasuh.

Bagaimana Anda menyikapi karyawanyang bandel?
Saya suka dengan anak-anak yang bandel dan membantah. Setelah itu, saya tinggal mengarahkan mereka. Makin banyak dia membantah saya, semakin banyak yang bisa saya terangkan kepada dia. Saya makin tahu pikirannya, dan dia juga tahu pikiran saya. Buat saya, anak yang bandel dan melawan itu, yang paling cepat maju.

Hidup dari Fantasi

Perjalanan hidup Bob Sadino penuh warna. Penggemar musik jazz ini mengawalinya pada 1958. Ia berkelana selama sembilan tahun di Amsterdam dan Hamburg sebagai karyawanan PT Djakarta Lloyd. Sepuluh tahun berselang, ia kembali ke Jakarta sempat menjadi supir taksi dan kuli bangunan dengan upah Rp 100 per hari.

Saat menjadi kuli, satu hari ia melihat ayam di tengah jalan, yang tak pernah ia jumpai di luar negeri. Otak penggemar celana jins pendek itu gelisah. Kenapa dirinya tidak jualan ayam dan telur? Untuk mewujudkan pikiran itu, bungsu dari lima bersaudara ini mengirim surat kepada temannya di Belanda. Sahabatnya, Sri Mulyono Herlambang langsung mengirimkan 50 ekor anak ayam ras.

Bob pun mulai merintis usaha dari anak-anak ayam itu. Pada akhirnya, ia berhasil menjadi pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha perladangan sayur sistem hidroponik. Lalu, ada Kem Food --pabrik pengolahan daging-- di Pulogadung, dan sebuah ''warung'' Shaslik di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta. ''Saya hidup dari fantasi,'' kata Bob menggambarkan keberhasilan usahanya.

Pria yang semasa kecilnya manja ini, menjadi sosok yang diakui intelektualitasnya, kesenimanannya, dan sebagai penmgusaha. Bisnis dianggapnya seni, atau seniman dalam bisnis. Meski begitu, ia tak mengakui intelektualitasnya, tetapi pragmatismenya berpikir adalah ciri intelektual.

Bibsy --panggilan sayang semasa kecilnya di keluarga Sadino-- ini memang bukan intelektual formal yang menyandang gelar formal. Namun sikap belajar dari pengalaman, khususnya berbisnis dan bagaimana dia tetap berpegang pada prinsip-prinsipnya, semua itu budaya intelektual yang intelegensinya harus tinggi.

Menurut lelaki yang sempat kursus manajemen di LPPM ini mengatakan, modal sama sekali tidak menjamin kesuksesannya. Dan, kemauan pun baginya tidak cukup, yang harus digarisbawahi dalam suatu usaha adalah: ”Penghayatan serta perasaan seseorang. Jadi yang dituntut adalah enterpreneurship”.

Wawancara ini pernah dimuat di Majalah MANLY, Agustus 2005

No comments:

Post a Comment