DubaiPanorama indah, tari perut, bangunan bersejarah, dan menara fenomenal terwujud di jazirah Arab ini.
Akhirnya, tiba juga saya di negeri kosmopolitan padang pasir ini. Penantian selama 12 jam perjalanan melalui udara dari Jakarta, kusudahi di Dubai International Airport. Lalu lalang orang tampak padat saat saya meninggalkan pelabuhan udara bergaya arsitektur supermodern itu. Tak sabar saya ingin melihat pesona kota Dubai.
Embusan angin pagi hari dan teriknya sinar mentari membuatku tergesa-gesa menaiki bus Arabian Adventures. Bus pun mengantarku menuju tempatku bermalam, Hotel Hilton Jumeirah. Melalui kaca jendela bus, aku dapat melihat kemajuan kota terbesar kedua di Uni Emirat Arab (UEA) ini. Lenggak-lenggok air mancur membasahi bunga warna-warni di setiap trotoar jalan.
Sementara itu, tampak mobil-mobil mewah produk terkini berkeliaran di jalan raya. Mereka berjalan seiring dan seirama, menikmati lebar jalan 25 meter yang terbagi 4 lajur.
Meski duduk di balik kemudi mobil mewah, bukan berarti seenaknya menginjak pedal gas. Hampir tiap kilometer, radar perekam laju kendaraan bertengger di pinggir jalan, merekam kendaraan yang melintas selama 24 jam. Jika melewati batas maksimal kecepatan laju 140 km/jam, selain SIM dicabut, pengemudi pun dikenakan denda sekitar Dhs.400 (Rp1.400.000).
Negeri padang pasir yang dulu gersang kerontang ini sekarang menjelma menjadi kota kosmopolitan modern. Kebangkitan Dubai dimulai sejak 1960-an, ketika negeri ini membuka diri terhadap bangsa asing. Hasilnya, setelah 40 tahun berjalan, negeri kecil ini berubah menjadi wilayah makmur dan paling stabil perekonomiannya.
Meski melimpahnya persediaan dolar Amerika di kas negara, bukan berarti pemimpin negeri ini, H.H. Sheikh Maktoum al-Maktoum, yang juga Wakil Presiden dan Perdana Menteri UEA, terlena. Beliau pun membuka peluang untuk mendapatkan dolar dari sektor jasa, perdagangan dan manufaktur.
***
Selepas istirahat, aku melancong ke City Centre dengan taksi. Perjalanan menuju salah satu mal terbesar di Dubai ini memakan waktu sekitar 20 menit, dari hotelku menginap. Boleh dikata, suasananya serupa dengan mal-mal di Jakarta, seperti Plasa Senayan. Semua barang kualitas asli dan tak ada imitasi. Soal harga, tak bisa ditawar. Sungguh berbeda dengan suasana di Pasar Karamah yang bisa leluasa melakukan tawar-menawar.
Cukup dua jam saya berkeliling di pusat belanja ini. Setelahnya, The Gold Souk dan The Spice Souk menjadi tujuanku berikutnya. Untuk mencapai dua tempat kondang di Dubai itu dari Sindagha, saya mengeluarkan 50 sen untuk menyeberangi Dubai Creek dengan Abra (taksi perahu). Dalam tempo 10 menit, saya sudah sampai di pasar tradisional, pusat penjualan bumbu masak dan emas di Dubai.
Suasana aman dan nyaman di tempat itu, membuat wisatawan mancanegara banyak berburu emas. Hampir setiap etalase toko emas terpajang aneka model kalung, gelang, dan cincin. Sejauh mata memandang, tampak wanita-wanita mengenakan perhiasan-perhiasan mencolok. Polisi terlihat duduk santai di dalam mobil patroli Mercy-nya. Ya, tak ada seorang pun yang berani mencuri. Sebab, hukum “potong jari” akan dikenakan kepada pelaku kejahatan itu.
Sudah puas menikmati kilauan cahaya emas, bersafari padang pasir menjadi kegiatanku berikutnya. Mobil Toyota Land Cruiser 4500 EFI, 4X4, Arabian Adventures, membawaku ke desa Margham selama setengah jam, sungguh mengasyikkan.
Di tempat ini, beberapa penduduk asli sedang memberikan makan unta dan domba. Para wisatawan asyik berfoto ria dengan hewan berpunuk itu. Maklum, tujuan mereka adalah bisa naik unta dan foto bersama. Di tempat ini, Anda jangan pernah bertanya di mana toilet berada? Sebab, yang ada hanya toilet untuk unta.
Sebelum menikmati proses terbenamnya matahari pada pukul 18.30, saya melihat beberapa anak kecil Dubai asyik bermain motor-motor “cebol” di padang pasir, seakan menggantikan posisi unta untuk mencapai sebuah tempat. Tak lama berselang, matahari lambat laun mulai tenggelam dengan indahnya. Malam harinya, sebelum menikmati barbeque, saya mencicipi cardamon (kopi arab) dan shiha (gaya merokok orang Arab) dengan aroma strawbery dan apel di sebuah tenda terbuka. Dari kejauhan, tampak beberapa perempuan antre untuk dibuatkan tato temporer (hiina) di tenda yang berbeda.
Usai menuntaskan makan malam dan meneguk segelas red wine, tiba-tiba alunan musik padang pasir terdengar. Tak lama berselang, seorang wanita cantik berkulit putih dan berhidung mancung, menari lincah. Perutnya yang terbuka tak ia hiraukan meski angin malam menusuk kulitnya yang lembut.
Setiap gerakannya erotis, membuat pria berdecak-decak. Dengan senyum manisnya, ia pun memintaku untuk menari bersama. Ada beberapa gerakan tarian perut yang kurasakan sulit. Mengencangkan, mengendurkan, dan menggerakkan perut. Bila tak biasa, perut bakal sakit.
Malam makin larut. Saya kembali ke Hotel Hilton di Jumeirah. Dalam perjalanan, padang pasir gelap gulita. Kabarnya, ular dan rubah sering melintas di sana. Hamburan pasir dari mobil yang kunaiki memberikan kenangan terdalamku pada Dubai.
***
Dubai Masa Lalu
Negara Uni Emirat Arab (UEA) yang terletak di bagian tenggara jazirah Arab berdiri pada 1971, terdiri dari tujuh pemerintahan sheikh independen. Luas negara ini 83.600 km persegi, terdiri dari: Abu Dhabi (ibu kota), Dubai, Sharja, Ajman, Umm al-Qaiwan, Ras al-Khaima, dan Fujaira.
Menurut riwayatnya, daerah ini pernah disebut Pantai Perompak. Karena, para bajak laut selalu merapatkan kapalnya dan mengadakan pertemuan di negeri ini. Kisah kehidupan asli masyarakat Dubai bisa dilihat di The Shindagha Heritage Village. Inilah tempat tinggalnya penduduk asli Dubai. Mereka tinggal di dekat Dubai Creek. Saya menyaksikan beberapa orang tua asyik minum kopi dengan penganan ubi merah dan kurma. Kebiasaan sore hari menjelang magrib ini dilakoni masyarakat Dubai sejak ratusan tahun lalu.
Perkampungan nelayan ini pertama kali diperintah Maktoum bin Butti sejak 1833. Kemudian, dilanjutkan oleh keturunannya, Sheikh Rashid Saeed Maktoum, menjadi Emir Dubai sejak 1958. Pemimpin tertinggi di kota nan bijaksana ini langsung sibuk memperbaiki perekonomian dan pembangunan sekitar 1960-an. Hasilnya kini sudah bisa dinikmati.
Sebelum meninggal pada 1990, Sheikh Rashid sudah menyiapkan penggantinya, yakni adik bungsunya, Sheikh Maktoum al-Maktoum, yang kini menjadi Emir Dubai. Sedangkan putra mahkota Jenderal Sheikh Muhammad bin Rashid al-Maktoum menjabat sebagai Menteri Pertahanan.
Bangunan Fenomenal
Pembangunan di kota Dubai tak main-main. Hampir setiap jengkal tanah, bahkan setiap mil laut, dimanfaatkan pemerintah untuk mendirikan bangunan pencakar langit. Bukti pembangunan gedung kaca menjulang tinggi yang sudah berdiri adalah
World Trade Centre, Emirates Towers, Jumeirah Beach Resort, dan Burj al-Arab Hotel dengan pelayanan kelas satu.
Burj al-Arab Hotel, salah satu hotel dengan pelayanan kelas satu, kini menjadi kebanggaan masyarakat Dubai. Bangunan menyerupai kapal layar ini hasil karya arsitek Cina Khuan Chu. Dari kejauhan, hotel ini terlihat kokoh dan artistik.
Dalam hotel, dengan ketinggian 321 meter plus 202 suite room dan 28 lantai, terdapat air mancur unik. Bila airnya jatuh, bunyinya menyerupai irama musik padang pasir. Hampir setiap dinding, tiang-tiang dan lift hotel yang dibangun pada 1994 ini dihiasi unsur warna emas. Sedangkan ornamen di beberapa dinding lain terbuat dari emas murni.
Sudah puaskah Dubai dengan kehadiran hotel di atas laut itu? Belum. Dubai memang salah satu kota terkaya di dunia, UEA diam-diam juga tengah membangun gedung tertinggi di dunia. The Burj Dubai namanya. Rencananya, menara dengan tinggi 800 meter ini pembangunannya akan rampung pada 2008. Praktis, tingginya menara ini akan mengalahkan gedung tertinggi di dunia lainnya.
Seperti Menara Petronas (452 meter), Menara CN di Toronto, Kanada (553 meter), Shanghai World Trade Center (500 meter), Sears Towers Chicago (442 meter), John Hancocok Chicago (344 meter), dan Menara BNI Indonesia (250 meter).
The Burj Dubai, gedung yang memiliki 160 lantai, di mata para pengamat properti dunia, dalam rentang waktu satu abad mendatang tidak ada negara yang mampu membangun lebih tinggi dari menara ini. Kini dan mungkin sampai 50 tahun ke depan, dunia baru bermain pada gedung di bawah 150 lantai.
Pembangunan menara tertinggi di dunia ini tentu melibatkan para ahli terbaik di dunia, di bawah pengawasan konsorsium yang dipimpin Samsung Corporation dari Korea Selatan. Seperti ahli-ahli terbaik dari kalangan sipil, arsitek, desain, perancang, dan sebagainya.
Hal yang membuat dunia kagum pada Dubai adalah rentetan pembangunan proyek properti yang didirikan secara beruntun. Sebut saja pembangunan pusat perbelanjaan, hiburan, dan hunian Dubailand yang menelan investasi US$5 miliar. Ada pula lima proyek reklamasi laut lepas pantai seluas 170 juta meter persegi dengan nilai US$10 miliar. Lima proyek ini adalah Dubai Waterfront, Palm Jebel Ali, Palm Jumaeirah, The World, dan Palm Daira.
Begitulah Dubai. Jika saja menara ini terwujud, praktis Dubai ambil peranan dalam perjalanan manusia membangun menara tertinggi. Perjalanan pembuatan gedung pencakar langit dimulai ketika Mesir membangun piramida di Giza 2.500 tahun Sebelum Masehi. Lalu pada 1889 menara Eiffel (324 meter), dan Empire State Building, New York (1931). Dan, kini The Burj Dubai sangat fenomenal. Bagaimana dengan Indonesia?
Haris Maryasno --Tulisan ini sudah dipublikasikan di Majalah MANLY, Oktober 2005
Akhirnya, tiba juga saya di negeri kosmopolitan padang pasir ini. Penantian selama 12 jam perjalanan melalui udara dari Jakarta, kusudahi di Dubai International Airport. Lalu lalang orang tampak padat saat saya meninggalkan pelabuhan udara bergaya arsitektur supermodern itu. Tak sabar saya ingin melihat pesona kota Dubai.
Embusan angin pagi hari dan teriknya sinar mentari membuatku tergesa-gesa menaiki bus Arabian Adventures. Bus pun mengantarku menuju tempatku bermalam, Hotel Hilton Jumeirah. Melalui kaca jendela bus, aku dapat melihat kemajuan kota terbesar kedua di Uni Emirat Arab (UEA) ini. Lenggak-lenggok air mancur membasahi bunga warna-warni di setiap trotoar jalan.
Sementara itu, tampak mobil-mobil mewah produk terkini berkeliaran di jalan raya. Mereka berjalan seiring dan seirama, menikmati lebar jalan 25 meter yang terbagi 4 lajur.
Meski duduk di balik kemudi mobil mewah, bukan berarti seenaknya menginjak pedal gas. Hampir tiap kilometer, radar perekam laju kendaraan bertengger di pinggir jalan, merekam kendaraan yang melintas selama 24 jam. Jika melewati batas maksimal kecepatan laju 140 km/jam, selain SIM dicabut, pengemudi pun dikenakan denda sekitar Dhs.400 (Rp1.400.000).
Negeri padang pasir yang dulu gersang kerontang ini sekarang menjelma menjadi kota kosmopolitan modern. Kebangkitan Dubai dimulai sejak 1960-an, ketika negeri ini membuka diri terhadap bangsa asing. Hasilnya, setelah 40 tahun berjalan, negeri kecil ini berubah menjadi wilayah makmur dan paling stabil perekonomiannya.
Meski melimpahnya persediaan dolar Amerika di kas negara, bukan berarti pemimpin negeri ini, H.H. Sheikh Maktoum al-Maktoum, yang juga Wakil Presiden dan Perdana Menteri UEA, terlena. Beliau pun membuka peluang untuk mendapatkan dolar dari sektor jasa, perdagangan dan manufaktur.
***
Selepas istirahat, aku melancong ke City Centre dengan taksi. Perjalanan menuju salah satu mal terbesar di Dubai ini memakan waktu sekitar 20 menit, dari hotelku menginap. Boleh dikata, suasananya serupa dengan mal-mal di Jakarta, seperti Plasa Senayan. Semua barang kualitas asli dan tak ada imitasi. Soal harga, tak bisa ditawar. Sungguh berbeda dengan suasana di Pasar Karamah yang bisa leluasa melakukan tawar-menawar.
Cukup dua jam saya berkeliling di pusat belanja ini. Setelahnya, The Gold Souk dan The Spice Souk menjadi tujuanku berikutnya. Untuk mencapai dua tempat kondang di Dubai itu dari Sindagha, saya mengeluarkan 50 sen untuk menyeberangi Dubai Creek dengan Abra (taksi perahu). Dalam tempo 10 menit, saya sudah sampai di pasar tradisional, pusat penjualan bumbu masak dan emas di Dubai.
Suasana aman dan nyaman di tempat itu, membuat wisatawan mancanegara banyak berburu emas. Hampir setiap etalase toko emas terpajang aneka model kalung, gelang, dan cincin. Sejauh mata memandang, tampak wanita-wanita mengenakan perhiasan-perhiasan mencolok. Polisi terlihat duduk santai di dalam mobil patroli Mercy-nya. Ya, tak ada seorang pun yang berani mencuri. Sebab, hukum “potong jari” akan dikenakan kepada pelaku kejahatan itu.
Sudah puas menikmati kilauan cahaya emas, bersafari padang pasir menjadi kegiatanku berikutnya. Mobil Toyota Land Cruiser 4500 EFI, 4X4, Arabian Adventures, membawaku ke desa Margham selama setengah jam, sungguh mengasyikkan.
Di tempat ini, beberapa penduduk asli sedang memberikan makan unta dan domba. Para wisatawan asyik berfoto ria dengan hewan berpunuk itu. Maklum, tujuan mereka adalah bisa naik unta dan foto bersama. Di tempat ini, Anda jangan pernah bertanya di mana toilet berada? Sebab, yang ada hanya toilet untuk unta.
Sebelum menikmati proses terbenamnya matahari pada pukul 18.30, saya melihat beberapa anak kecil Dubai asyik bermain motor-motor “cebol” di padang pasir, seakan menggantikan posisi unta untuk mencapai sebuah tempat. Tak lama berselang, matahari lambat laun mulai tenggelam dengan indahnya. Malam harinya, sebelum menikmati barbeque, saya mencicipi cardamon (kopi arab) dan shiha (gaya merokok orang Arab) dengan aroma strawbery dan apel di sebuah tenda terbuka. Dari kejauhan, tampak beberapa perempuan antre untuk dibuatkan tato temporer (hiina) di tenda yang berbeda.
Usai menuntaskan makan malam dan meneguk segelas red wine, tiba-tiba alunan musik padang pasir terdengar. Tak lama berselang, seorang wanita cantik berkulit putih dan berhidung mancung, menari lincah. Perutnya yang terbuka tak ia hiraukan meski angin malam menusuk kulitnya yang lembut.
Setiap gerakannya erotis, membuat pria berdecak-decak. Dengan senyum manisnya, ia pun memintaku untuk menari bersama. Ada beberapa gerakan tarian perut yang kurasakan sulit. Mengencangkan, mengendurkan, dan menggerakkan perut. Bila tak biasa, perut bakal sakit.
Malam makin larut. Saya kembali ke Hotel Hilton di Jumeirah. Dalam perjalanan, padang pasir gelap gulita. Kabarnya, ular dan rubah sering melintas di sana. Hamburan pasir dari mobil yang kunaiki memberikan kenangan terdalamku pada Dubai.
***
Dubai Masa Lalu
Negara Uni Emirat Arab (UEA) yang terletak di bagian tenggara jazirah Arab berdiri pada 1971, terdiri dari tujuh pemerintahan sheikh independen. Luas negara ini 83.600 km persegi, terdiri dari: Abu Dhabi (ibu kota), Dubai, Sharja, Ajman, Umm al-Qaiwan, Ras al-Khaima, dan Fujaira.
Menurut riwayatnya, daerah ini pernah disebut Pantai Perompak. Karena, para bajak laut selalu merapatkan kapalnya dan mengadakan pertemuan di negeri ini. Kisah kehidupan asli masyarakat Dubai bisa dilihat di The Shindagha Heritage Village. Inilah tempat tinggalnya penduduk asli Dubai. Mereka tinggal di dekat Dubai Creek. Saya menyaksikan beberapa orang tua asyik minum kopi dengan penganan ubi merah dan kurma. Kebiasaan sore hari menjelang magrib ini dilakoni masyarakat Dubai sejak ratusan tahun lalu.
Perkampungan nelayan ini pertama kali diperintah Maktoum bin Butti sejak 1833. Kemudian, dilanjutkan oleh keturunannya, Sheikh Rashid Saeed Maktoum, menjadi Emir Dubai sejak 1958. Pemimpin tertinggi di kota nan bijaksana ini langsung sibuk memperbaiki perekonomian dan pembangunan sekitar 1960-an. Hasilnya kini sudah bisa dinikmati.
Sebelum meninggal pada 1990, Sheikh Rashid sudah menyiapkan penggantinya, yakni adik bungsunya, Sheikh Maktoum al-Maktoum, yang kini menjadi Emir Dubai. Sedangkan putra mahkota Jenderal Sheikh Muhammad bin Rashid al-Maktoum menjabat sebagai Menteri Pertahanan.
Bangunan Fenomenal
Pembangunan di kota Dubai tak main-main. Hampir setiap jengkal tanah, bahkan setiap mil laut, dimanfaatkan pemerintah untuk mendirikan bangunan pencakar langit. Bukti pembangunan gedung kaca menjulang tinggi yang sudah berdiri adalah
World Trade Centre, Emirates Towers, Jumeirah Beach Resort, dan Burj al-Arab Hotel dengan pelayanan kelas satu.
Burj al-Arab Hotel, salah satu hotel dengan pelayanan kelas satu, kini menjadi kebanggaan masyarakat Dubai. Bangunan menyerupai kapal layar ini hasil karya arsitek Cina Khuan Chu. Dari kejauhan, hotel ini terlihat kokoh dan artistik.
Dalam hotel, dengan ketinggian 321 meter plus 202 suite room dan 28 lantai, terdapat air mancur unik. Bila airnya jatuh, bunyinya menyerupai irama musik padang pasir. Hampir setiap dinding, tiang-tiang dan lift hotel yang dibangun pada 1994 ini dihiasi unsur warna emas. Sedangkan ornamen di beberapa dinding lain terbuat dari emas murni.
Sudah puaskah Dubai dengan kehadiran hotel di atas laut itu? Belum. Dubai memang salah satu kota terkaya di dunia, UEA diam-diam juga tengah membangun gedung tertinggi di dunia. The Burj Dubai namanya. Rencananya, menara dengan tinggi 800 meter ini pembangunannya akan rampung pada 2008. Praktis, tingginya menara ini akan mengalahkan gedung tertinggi di dunia lainnya.
Seperti Menara Petronas (452 meter), Menara CN di Toronto, Kanada (553 meter), Shanghai World Trade Center (500 meter), Sears Towers Chicago (442 meter), John Hancocok Chicago (344 meter), dan Menara BNI Indonesia (250 meter).
The Burj Dubai, gedung yang memiliki 160 lantai, di mata para pengamat properti dunia, dalam rentang waktu satu abad mendatang tidak ada negara yang mampu membangun lebih tinggi dari menara ini. Kini dan mungkin sampai 50 tahun ke depan, dunia baru bermain pada gedung di bawah 150 lantai.
Pembangunan menara tertinggi di dunia ini tentu melibatkan para ahli terbaik di dunia, di bawah pengawasan konsorsium yang dipimpin Samsung Corporation dari Korea Selatan. Seperti ahli-ahli terbaik dari kalangan sipil, arsitek, desain, perancang, dan sebagainya.
Hal yang membuat dunia kagum pada Dubai adalah rentetan pembangunan proyek properti yang didirikan secara beruntun. Sebut saja pembangunan pusat perbelanjaan, hiburan, dan hunian Dubailand yang menelan investasi US$5 miliar. Ada pula lima proyek reklamasi laut lepas pantai seluas 170 juta meter persegi dengan nilai US$10 miliar. Lima proyek ini adalah Dubai Waterfront, Palm Jebel Ali, Palm Jumaeirah, The World, dan Palm Daira.
Begitulah Dubai. Jika saja menara ini terwujud, praktis Dubai ambil peranan dalam perjalanan manusia membangun menara tertinggi. Perjalanan pembuatan gedung pencakar langit dimulai ketika Mesir membangun piramida di Giza 2.500 tahun Sebelum Masehi. Lalu pada 1889 menara Eiffel (324 meter), dan Empire State Building, New York (1931). Dan, kini The Burj Dubai sangat fenomenal. Bagaimana dengan Indonesia?
Haris Maryasno --Tulisan ini sudah dipublikasikan di Majalah MANLY, Oktober 2005
No comments:
Post a Comment