Tuesday, 17 July 2007

Sang Petualang Seks

Hiperseks

Orientasi dan melakukan hubungan seks setiap hari dengan berganti- ganti pasangan tak membuat puas "penderita" hiperseks. Meskipun sudah ejakulasi, kenikmatan seks belum ia peroleh. Apa yang dicarinya?

Pembicaraan seputar aktivitas seks selalu menjadi topik yang mengasyikkan. Tak sedikit yang menggunjingkan frekuensi hubungan seksual yang ideal. Ada yang menyebut mampu antara dua sampai empat kali dalam seminggu. Atau, ada juga yang mengaku bisa setiap hari. Wah, luar biasa.

Menurut Dr. Ferryal Loetan, ahli terapi dan konsultan seks, sebenarnya tak ada aturan baku mengenai frekuensi hubungan seksual yang "normal". Ia menyatakan, frekuensi hubungan seksual sangat bergantung pada kemampuan dan kemauan pasangan yang bersangkutan. Dan biasanya, lanjut konselor seks ini, kuantitas seks seseorang ditentukan tiga faktor, yaitu dorongan seks, kondisi kesehatan, serta pengalaman seksual pasangan bersangkutan.

Kegiatan seks dengan melibatkan emosi menjadi hal penting atau berdampak positif terhadap yang melakukannya, khususnya untuk kesehatan. Ini dibuktikan dari hasil penelitian seorang ahli psikologi saraf dari RS Royal Edinburgh, Skotlandia, Dr. David Weeks. Beberapa tahun lalu, Dr. David melakukan penelitian dampak seks terhadap kesehatan, yang melibatkan 3.500 orang responden.

Hasil survei tersebut menyatakan, para responden yang melakukan hubungan seks tiga kali seminggu merasakan dirinya kelihatan lebih muda dari usianya. Sebab, saat melakukan percintaan, mereka melakukannya dengan penuh kasih sayang dan sama-sama mendapatkan kepuasan. Lantas, bagaimana dengan pria yang melakukan kegiatan seks setiap hari tanpa mendapat kepuasan dan ikatan emosional? "Itu namanya hiperseks," kata Dr. Ferryal, tandas.

Diakui Dr. Ferryal, ciri-ciri orang hiperseksual, hampir setiap hari melakukan seks tapi tak mendapat kepuasaan seusai bercinta. "Makanya, orang hiperseks itu tidak normal atau disebut disfungsi seks," kata dia, sembari menambahkan, orang-orang hiperseks tak bisa menolak dan menunda ketika dalam dirinya muncul keinginan mencari kepuasaan seks. "Setiap ada waktu, pasti mereka making love dengan bergonta-ganti wanita," ujarnya.

Tingkah laku para hiperseks saat bercinta di atas ranjang, menurut Dr.Ferryal, layaknya orang normal. Ada pemanasan, cumbuan, lalu ejakulasi. Tapi setelah berhubungan, dirinya tak mendapatkan kepuasan. "Biasanya resah dan muncul keinginan untuk melakukan hubungan seks lagi," katanya.

Sedangkan orang normal, "Selesai melakukan aktivitas seks, mempunyai perasaan rileks atau tertidur,"katanya. Adapun penyebab orang menjadi hiperseks, imbuh Dr. Ferryal, dikarenakan adanya faktor fisik dan psikologis. Secara fisik, biasanya lantaran adanya gangguan pada metabolisme dalam tubuh. Atau terjadi gangguan pada bagian saraf. Sedangkan secara psikologis, karena adanya rasa trauma atau pola pikir yang berubah.

Meski demikian, lanjut Dr. Ferryal, hiperseks yang sesungguhnya tak banyak dijumpai di masyarakat. Dalam kehidupan sosialisasi sehari-hari, tingkah laku para hiperseks tak tampak jelas. "Tapi jika sudah di atas ranjang, baru kelihatan kelainan seksnya. Mereka "main", tapi tak pernah puas," kata Dr.Ferryal, menjelaskan.

Penderita hiperseks harus dibedakan dengan pria yang memasuki fase dewasa muda dan masa puber. Kondisi laki-laki pada saat ini memiliki kualitas tubuh yang sehat dan bugar. Pada saat ini, pria muda selain memiliki libido seks yang tinggi, juga besar keinginan aktivitas seksnya. "Karena faktor kebugarannya baik, maka hasrat seksnya pun bagus untuk mendapat kepuasan," katanya.

Pendapat sang konselor seks pun dibenarkan Andi. Lelaki berusia 26 tahun ini hampir setiap hari melakukan aktivitas seksnya dengan sang istri. "Dalam sehari, minimal gue sekali," katanya. Menurut Andi, orang yang ingin mendapatkan hubungan seks yang berkualitas harus didukung kondisi tubuh yang bugar. "Makanya, gue seminggu sekali olahraga basket," ujar pegawai konsultan arsitektur ini.

So, frekuensi seks yang tinggi dengan hiperseks itu berbeda. “Hiperseks itu tak pernah mengalami apa yang dinamakan kenikmatan (orgasme). " Kalau frekuensi seks seseorang berlebihan, tapi bisa orgasme, itu bukan hiperseks," tutur Dr. Ferryal, menandaskan.

Nah, jelas bukan?

***
Seks Berlebih & Tumor Otak

Pernahkah Anda melihat, ada orang yang tak bisa menahan hasrat seksualnya? Jika pernah, sebaiknya hati-hati menghakimi dirinya seorang hiperseks. itu bisa jadi lantaran di otaknya bersarang sebuah tumor. ini berdasarkan pengalaman dari seorang guru pria di Virginia, amerika Serikat.

Lelaki berusia 40 tahun itu tak pernah menyadari jika di dalam otaknya terdapat tumor sebesar telur ayam yang menyebabkan terjadi penekanan pada bagian kanan depan otaknya. Ia merasa normal-normal saja dengan gairah seksualnya yang menggebu dan tak terkontrol. Akibatnya, ia pun memperkosa anak tirinya lantaran tak dapat menahan hasrat libidonya.

Meski sang istri telah melaporkan perbuatan suaminya kepada pihak kepolisian dan menangkapnya, bapak guru itu segera menjalani rehabilitasi seks. Tapi tetap saja ia tak bisa mengontrol hasrat seksnya yang mengebu-gebu.

Lalu, sehari sebelum menjalani hukuman di penjara, pria tersebut mendapat serangan sakit kepala yang tak tertahankan. Dokter menemukan tumor di otaknya. Saat tumor dibuang, dorongan seksualnya kembali normal dan ia tak ingat akan kelakuannya yang hiperseks.
Sayang, tumornya yang sempat dioperasi kini tumbuh kembali. ia pun kembali mencari mangsa untuk melampiaskan dorongan seksualnya.

Baik itu wanita dewasa atau anak-anak. Ia menjalani operasi kembali dan kini hidup normal bersama istri dan anak tirinya. hingga saat ini, dokter belum dapat memberikan penjelasan bagaimana tumor dapat memengaruhi fungsi otak dalam mengontrol perilaku dan kemampuan menimbang sebelum memutuskan sebuah tindakan.

Daniel T. Tranel, ahli neurologi dari University of iowa, aS, mengatakan bahwa ia telah menyaksikan sejumlah penderita tumor otak yang suka berbohong dan merusak barang-barang. bahkan hebohnya lagi, menjadi pembunuh. Alasannya, ungkap ahli neurologi ini, para pemilik tumor otak telah kehilangan kemampuan untuk mengontrol dorongan atau mengantisipasi konsekuensi dari pilihan yang telah mereka lakukan.

Perilaku manusia seperti ini telah dikendalikan oleh interaksi yang kompleks dalam otak. Namun, sejumlah ilmuwan telah memperkirakan, pengendali utama ada di bagian depan otak. Tumor di bagian ini akan menghalangi aliran darah sehingga mengganggu kemampuannya untuk berpikir secara waras, seperti halnya orang yang sedang mabuk.

Sumber: www.indomedia.com

Tulisan ini sudah dipublikasikan di majalah MANLY, April 2006

No comments:

Post a Comment