Peter F GonthaKisah perjalanan hidup pria ini begitu berwarna. Ia pernah menjalani pahitnya kehidupan, sepahit empedu. Dan menikmati manis kehidupan, semanis madu. Pahit kehidupan, dilakoninya saat ia kuliah menyelesaikan sarjana muda akuntansinya di Praehap Institute Belanda.
Saat itu, Peter Frans Gontha muda, untuk tetap bisa hidup, harus bekerja sebagai sopir taksi, pelayan restoran, kelasi, hingga menjadi pembersih karat kapal. "Kalau ingin sukses, kita harus mulai dari bawah," kata lelaki kelahiran Semarang, 4 Mei 1948, ini.
Peter Gontha merupakan sosok pekerja keras, pintar, ulet, ceplas-ceplos, dan bersahabat. Ia adalah segelintir dari profesional yang sukses menjadi pengusaha, melalui rintisan dari bawah. Sudah banyak perusahaan yang didirikan putra pasangan V Willem Gontha dan Alice ini, antara lain Plaza Indonesia Realty (The Grand Hyatt Jakarta), Bali Intercontinental Resort, Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI), Surya Citra Televisi (SCTV), PT Chandra Asri Indonesia, PT Tri Polyta Indonesia, serta Indovision. "Saya seorang pekerja profesional yang digaji dan kemudian banyak mendirikan perusahaan besar," kata mantan pemilik harian The Indonesia Observer dan Mandiri.com ini tanpa bermaksud membusungkan dada.
Banyak hal yang menarik dari kisah suksesnya, Berikut petikan wawancara MANLY dengan bos Q TV dan penggagas Java Jazz ini, suatu hari di rumahnya yang nyaman di bilangan Permata Hijau, Jakarta Selatan.
Awalnya Anda seorang profesional. Tapi kini bisa disebut sebagai entrepreneur? Sebetulnya, entrepreneur atau tidak, pertama bergantung lucky. Kedua, visi. Tapi kadang entrepreneur, kalau sudah terlalu besar, juga sudah tidak bisa kontrol. Itu pun berbahaya. Sebetulnya, menjadi entrepreneur kelas menengah itu lebih enak daripada pengusaha kelas tinggi. Sebab, lebih tidak pusing. Saya mempunyai satu filosofi di dalam perusahaan "Lebih banyak karyawan, lebih pusing". Ha-ha-ha.
Mengapa begitu?
Karena berhubungan atau bernegosiasi dengan manusia jauh lebih sulit daripada bernegosiasi dengan pipa. Pipa tak bisa bicara. Manusia bisa protes, bisa bantah, bisa kasih pendapat.
Cara Anda menghadapi anak buah yang kritis?
Kadang, ada kritis yang membangun, kita terima. Tapi kalau kritisnya cuma kritik saja, saya kurang berkenan. Misalnya, ia tidak kerja banyak, tapi minta naik gaji. Tapi, kalau orangnya memang sudah menghasilkan dan kerja banyak, dia minta apa pun pasti saya kasih.
Seperti apa gaya dan sikap Anda memimpin anak buah?
Sebetulnya seorang pemimpin itu seperti navigator. Misalnya, tolong bawa saya ke pulau A. Menurut saya, pulau A itu bagus. Kemudian, untuk menjalankan kapalnya, kita serahkan kepada perwira pertamanya. Jika perwiranya ingin ke pulau A tapi harus melalui pulau C terlebih dahulu, saya harus bertanya alasannya. Kenapa harus seperti itu? Kalau alasannya tepat, ya, kita ikuti.
Menurut Anda, apa sih entrepreneurship itu?
Entrepreneurship itu membeli barang dengan harga murah, kemudian dikemas dengan bagus dan baik. Setelah itu, dijual dengan harga tinggi. Nah, kita selalu mencari kesempatan, di mana orang mau beli barang yang kita jual.
Apa orang pintar secara akademis bisa menjadi pengusaha yang sukses?
Menjadi seorang pebisnis yang sukses tak hanya mengandalkan kepintaran akademis. Ia juga harus memunyai naluri yang peka, berani mengambil risiko. Selain itu, kita harus bergaul, mengetahui psikologi orang, dan cara orang lain berpikir.
Hanya itu?
Tidak. Yang paling penting adalah bagaimana kita bisa menempatkan diri kita pada orang yang sedang kita ajak negosiasi. Kalau kita di tempatnya, apa sih yang ia pikirkan? Itu penting sekali, sehingga kita tahu dengan pasti apa maunya. Nah, di situlah negosiasi.
Bagaimana menjadi negosiator yang baik?
Pertama, kita harus punya track record, kedua jujur. Jujur itu dilakukan saat kita sudah berkolaborasi dengan mereka. Tapi masalahnya, terkadang kita sudah jujur, tapi orang tetap saja curiga, ha-ha-ha.
Jiwa entrepreneur Anda dari siapa?
Ayah saya seorang profesional yang bekerja di Pertamina. Ibu saya menjual sayur atau Suplier di Caltex dan Stanvac, Prabumulih, Sungai Gerong, Pendopo, Sumatera Selatan. Tapi bukan jual sayuran atau ayam. Ia biasa membeli barang di pasar, kemudian dikemas dengan baik, dikirim pakai pesawat.
Anda pernah gagal dalam berbisnis?
Pernah. Waktu saya membuat Indovision dan menurut saya sudah oke. Tapi tiba-tiba terjadi krisis moneter. Pinjaman kami pakai dolar dan saya berpikir, waktu dolar terus naik, nanti juga turun. Tapi kenyataannya tidak. Nah, itu salah satu kegagalan total saya.
Sikap Anda?
Terima saja. Mau ngapain lagi? Kita harus mencoba. Kalau sudah berbuat salah, terkadang orang bisa memperbaikinya dengan lebih baik.
Seperti apa cara Anda menghadapi masalah dalam bisnis?
Saya mau kasih contoh kiasan orang Cina. Kalau kita masuk ke satu lubang janganlah menangis. Tapi cari cara bagaimana bisa keluar dari lubang itu. Kalau tidak, ya kita akan dimakan cacing atau ular. Jadi, kita harus selalu berusaha, berjuang, dan berani melakukan terobosan. Seorang pemimpin tidak boleh berdiam diri. Ia harus berani mengambil risiko dengan menyuarakan dan membela ide yang dimilikinya.
Kiat Anda menghadapi pesaing bisnis?
Harus dihadapi secara kesatria. Tapi, kadang pesaing bisnis itu, kalau dia banyak akalnya, kita akan kalah di akal saja. Saya tidak merasa punya pesaing. Tapi, pesaing yang banyak merasakan saya menjadi pesaingnya. Itu saja masalahnya. Intinya, saya harus bekerja keras, cerdik, dan berani mengambil risiko.
Lebih sulit mana, mengelola usaha kecil atau besar?
Sama sulitnya. Misalnya, saya ingin menulis artikel pendek atau panjang, sama sulitnya. Mau bikin sesuatu yang kecil atau sesuatu yang besar, sama sulitnya. Bahkan kadang-kadang artikel yang pendek jauh lebih susah, dibandingkan menulis artikel panjang. Ya, mendingan membuat yang besar saja. Toh, sama pusingnya. Contoh lainnya, Java Jazz. Saya bilang, bikin festival kecil atau festival besar, sulitnya sama. Jadi sekalian saja bikin yang besar. Itu filosofinya.
Anda menjadi pengusaha apakah ingin mengejar uang yang berlimpah?
Saya bukan tipe pengejar uang. Saya seorang yang menilai uang sebagai hiburan, dan menikmati hidup itu menjadi tantangan utama. Saya nggak pernah berpikir untuk mengerjakan sesuatu karena nilai uangnya.
Apakah untuk mencapai sukses itu perlu proses?
Soal itu, saya menggunakan istilah buah anggur. Untuk menjadi anggur yang baik dan mahal, harus melalui banyak pemrosesan, seperti harus digiling, dihancurkan, diinjak, digiling, disaring terus berulang-ulang hingga akhirnya ditaruh dalam bejana dan disimpan bertahun-tahun. Dilupakan orang sampai akhirnya bisa menjadi minuman anggur yang berharga. Bahkan buah anggur yang mahal harganya dilihat dari tahun berapa anggur tersebut diproduksi. Semakin lama anggur disimpan, semakin mahal harganya.
Lantas?
Begitu juga dengan Tuhan. Semakin lama kita izinkan Tuhan membentuk kita, maka semakin berharga kita di mata Tuhan dan semakin besar upah yang layak kita terima. Akan tetapi untuk meraih hasil yang baik, kita harus kuat menghadapi pemrosesan yang Tuhan izinkan. Kita harus rela menderita bersama Tuhan, memiliki hati yang rela untuk dibentuk, dihancurkan bahkan mungkin dilupakan orang lain. Tapi percayalah Tuhan Maha Adil, lebih besar harga yang rela kita bayar, maka lebih besar pula upah yang layak kita terima. Kapan Anda merasa sukses?Saya tak pernah menikmatinya. Karena segala sesuatu yang saya jalankan adalah jangka panjang. Contohnya, saya bangun stasiun televisi RCTI dan SCTV.
Menurut Anda, waktu itu apa sih?
Seorang pemimpin harus mengerti bahwa satu jam yang disia-siakan adalah bahwa satu jam yang disia-siakan adalah menyia-nyiakan kesempatan besar. Ibu saya pernah mengatakan dan itu tak akan saya lupakan, "Bahwa kita mempunyai kesempatan sama untuk mencapai cita-cita kita". Ingat, bahwa hari, jam, dan detik terus berjalan. Waktu adalah "majikan" bagi kesempatan yang sama untuk semuanya. Setiap manusia memiliki waktu, jam, menit, dan detik yang sama setiap hari. Orang yang berada (kaya-red) juga tidak dapat membeli jam tambahan sehari. Ilmuwan juga tidak dapat menciptakan penemuan menit baru atau jam tambahan setiap harinya.
Kemudian?
Kita tidak dapat menabung waktu untuk kita pergunakan esok hari. Namun, waktu sangat "pemaaf ". Berapa banyak pun waktu yang telah kita sia-siakan, besok masih merupakan hari penuh dengan 24 jam. Namun, sukses itu bergantung bagaimana kita mempergunakan waktu, perencanaan maupun penentuan prioritas. Bagi saya, melalui pengalaman saya faktanya adalah "waktu lebih berharga dari uang", dan dengan menyia-nyiakan waktu kita pun menyia-nyiakan kesempatan kita untuk meraih sukses. Saya berharap filosofi ini dapat dipergunakan sehari-hari dalam berusaha maupun dalam kehidupan berkeluarga.
Siapa yang menunjang keberhasilan Anda?
Istri, istri, dan istri.
Anda sudah puas dengan keadaan sekarang?
Puas sekali.
Tulisan ini sudah dipublikasikan di Majalah MANLY APRIL 2006
Saat itu, Peter Frans Gontha muda, untuk tetap bisa hidup, harus bekerja sebagai sopir taksi, pelayan restoran, kelasi, hingga menjadi pembersih karat kapal. "Kalau ingin sukses, kita harus mulai dari bawah," kata lelaki kelahiran Semarang, 4 Mei 1948, ini.
Peter Gontha merupakan sosok pekerja keras, pintar, ulet, ceplas-ceplos, dan bersahabat. Ia adalah segelintir dari profesional yang sukses menjadi pengusaha, melalui rintisan dari bawah. Sudah banyak perusahaan yang didirikan putra pasangan V Willem Gontha dan Alice ini, antara lain Plaza Indonesia Realty (The Grand Hyatt Jakarta), Bali Intercontinental Resort, Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI), Surya Citra Televisi (SCTV), PT Chandra Asri Indonesia, PT Tri Polyta Indonesia, serta Indovision. "Saya seorang pekerja profesional yang digaji dan kemudian banyak mendirikan perusahaan besar," kata mantan pemilik harian The Indonesia Observer dan Mandiri.com ini tanpa bermaksud membusungkan dada.
Banyak hal yang menarik dari kisah suksesnya, Berikut petikan wawancara MANLY dengan bos Q TV dan penggagas Java Jazz ini, suatu hari di rumahnya yang nyaman di bilangan Permata Hijau, Jakarta Selatan.
Awalnya Anda seorang profesional. Tapi kini bisa disebut sebagai entrepreneur? Sebetulnya, entrepreneur atau tidak, pertama bergantung lucky. Kedua, visi. Tapi kadang entrepreneur, kalau sudah terlalu besar, juga sudah tidak bisa kontrol. Itu pun berbahaya. Sebetulnya, menjadi entrepreneur kelas menengah itu lebih enak daripada pengusaha kelas tinggi. Sebab, lebih tidak pusing. Saya mempunyai satu filosofi di dalam perusahaan "Lebih banyak karyawan, lebih pusing". Ha-ha-ha.
Mengapa begitu?
Karena berhubungan atau bernegosiasi dengan manusia jauh lebih sulit daripada bernegosiasi dengan pipa. Pipa tak bisa bicara. Manusia bisa protes, bisa bantah, bisa kasih pendapat.
Cara Anda menghadapi anak buah yang kritis?
Kadang, ada kritis yang membangun, kita terima. Tapi kalau kritisnya cuma kritik saja, saya kurang berkenan. Misalnya, ia tidak kerja banyak, tapi minta naik gaji. Tapi, kalau orangnya memang sudah menghasilkan dan kerja banyak, dia minta apa pun pasti saya kasih.
Seperti apa gaya dan sikap Anda memimpin anak buah?
Sebetulnya seorang pemimpin itu seperti navigator. Misalnya, tolong bawa saya ke pulau A. Menurut saya, pulau A itu bagus. Kemudian, untuk menjalankan kapalnya, kita serahkan kepada perwira pertamanya. Jika perwiranya ingin ke pulau A tapi harus melalui pulau C terlebih dahulu, saya harus bertanya alasannya. Kenapa harus seperti itu? Kalau alasannya tepat, ya, kita ikuti.
Menurut Anda, apa sih entrepreneurship itu?
Entrepreneurship itu membeli barang dengan harga murah, kemudian dikemas dengan bagus dan baik. Setelah itu, dijual dengan harga tinggi. Nah, kita selalu mencari kesempatan, di mana orang mau beli barang yang kita jual.
Apa orang pintar secara akademis bisa menjadi pengusaha yang sukses?
Menjadi seorang pebisnis yang sukses tak hanya mengandalkan kepintaran akademis. Ia juga harus memunyai naluri yang peka, berani mengambil risiko. Selain itu, kita harus bergaul, mengetahui psikologi orang, dan cara orang lain berpikir.
Hanya itu?
Tidak. Yang paling penting adalah bagaimana kita bisa menempatkan diri kita pada orang yang sedang kita ajak negosiasi. Kalau kita di tempatnya, apa sih yang ia pikirkan? Itu penting sekali, sehingga kita tahu dengan pasti apa maunya. Nah, di situlah negosiasi.
Bagaimana menjadi negosiator yang baik?
Pertama, kita harus punya track record, kedua jujur. Jujur itu dilakukan saat kita sudah berkolaborasi dengan mereka. Tapi masalahnya, terkadang kita sudah jujur, tapi orang tetap saja curiga, ha-ha-ha.
Jiwa entrepreneur Anda dari siapa?
Ayah saya seorang profesional yang bekerja di Pertamina. Ibu saya menjual sayur atau Suplier di Caltex dan Stanvac, Prabumulih, Sungai Gerong, Pendopo, Sumatera Selatan. Tapi bukan jual sayuran atau ayam. Ia biasa membeli barang di pasar, kemudian dikemas dengan baik, dikirim pakai pesawat.
Anda pernah gagal dalam berbisnis?
Pernah. Waktu saya membuat Indovision dan menurut saya sudah oke. Tapi tiba-tiba terjadi krisis moneter. Pinjaman kami pakai dolar dan saya berpikir, waktu dolar terus naik, nanti juga turun. Tapi kenyataannya tidak. Nah, itu salah satu kegagalan total saya.
Sikap Anda?
Terima saja. Mau ngapain lagi? Kita harus mencoba. Kalau sudah berbuat salah, terkadang orang bisa memperbaikinya dengan lebih baik.
Seperti apa cara Anda menghadapi masalah dalam bisnis?
Saya mau kasih contoh kiasan orang Cina. Kalau kita masuk ke satu lubang janganlah menangis. Tapi cari cara bagaimana bisa keluar dari lubang itu. Kalau tidak, ya kita akan dimakan cacing atau ular. Jadi, kita harus selalu berusaha, berjuang, dan berani melakukan terobosan. Seorang pemimpin tidak boleh berdiam diri. Ia harus berani mengambil risiko dengan menyuarakan dan membela ide yang dimilikinya.
Kiat Anda menghadapi pesaing bisnis?
Harus dihadapi secara kesatria. Tapi, kadang pesaing bisnis itu, kalau dia banyak akalnya, kita akan kalah di akal saja. Saya tidak merasa punya pesaing. Tapi, pesaing yang banyak merasakan saya menjadi pesaingnya. Itu saja masalahnya. Intinya, saya harus bekerja keras, cerdik, dan berani mengambil risiko.
Lebih sulit mana, mengelola usaha kecil atau besar?
Sama sulitnya. Misalnya, saya ingin menulis artikel pendek atau panjang, sama sulitnya. Mau bikin sesuatu yang kecil atau sesuatu yang besar, sama sulitnya. Bahkan kadang-kadang artikel yang pendek jauh lebih susah, dibandingkan menulis artikel panjang. Ya, mendingan membuat yang besar saja. Toh, sama pusingnya. Contoh lainnya, Java Jazz. Saya bilang, bikin festival kecil atau festival besar, sulitnya sama. Jadi sekalian saja bikin yang besar. Itu filosofinya.
Anda menjadi pengusaha apakah ingin mengejar uang yang berlimpah?
Saya bukan tipe pengejar uang. Saya seorang yang menilai uang sebagai hiburan, dan menikmati hidup itu menjadi tantangan utama. Saya nggak pernah berpikir untuk mengerjakan sesuatu karena nilai uangnya.
Apakah untuk mencapai sukses itu perlu proses?
Soal itu, saya menggunakan istilah buah anggur. Untuk menjadi anggur yang baik dan mahal, harus melalui banyak pemrosesan, seperti harus digiling, dihancurkan, diinjak, digiling, disaring terus berulang-ulang hingga akhirnya ditaruh dalam bejana dan disimpan bertahun-tahun. Dilupakan orang sampai akhirnya bisa menjadi minuman anggur yang berharga. Bahkan buah anggur yang mahal harganya dilihat dari tahun berapa anggur tersebut diproduksi. Semakin lama anggur disimpan, semakin mahal harganya.
Lantas?
Begitu juga dengan Tuhan. Semakin lama kita izinkan Tuhan membentuk kita, maka semakin berharga kita di mata Tuhan dan semakin besar upah yang layak kita terima. Akan tetapi untuk meraih hasil yang baik, kita harus kuat menghadapi pemrosesan yang Tuhan izinkan. Kita harus rela menderita bersama Tuhan, memiliki hati yang rela untuk dibentuk, dihancurkan bahkan mungkin dilupakan orang lain. Tapi percayalah Tuhan Maha Adil, lebih besar harga yang rela kita bayar, maka lebih besar pula upah yang layak kita terima. Kapan Anda merasa sukses?Saya tak pernah menikmatinya. Karena segala sesuatu yang saya jalankan adalah jangka panjang. Contohnya, saya bangun stasiun televisi RCTI dan SCTV.
Menurut Anda, waktu itu apa sih?
Seorang pemimpin harus mengerti bahwa satu jam yang disia-siakan adalah bahwa satu jam yang disia-siakan adalah menyia-nyiakan kesempatan besar. Ibu saya pernah mengatakan dan itu tak akan saya lupakan, "Bahwa kita mempunyai kesempatan sama untuk mencapai cita-cita kita". Ingat, bahwa hari, jam, dan detik terus berjalan. Waktu adalah "majikan" bagi kesempatan yang sama untuk semuanya. Setiap manusia memiliki waktu, jam, menit, dan detik yang sama setiap hari. Orang yang berada (kaya-red) juga tidak dapat membeli jam tambahan sehari. Ilmuwan juga tidak dapat menciptakan penemuan menit baru atau jam tambahan setiap harinya.
Kemudian?
Kita tidak dapat menabung waktu untuk kita pergunakan esok hari. Namun, waktu sangat "pemaaf ". Berapa banyak pun waktu yang telah kita sia-siakan, besok masih merupakan hari penuh dengan 24 jam. Namun, sukses itu bergantung bagaimana kita mempergunakan waktu, perencanaan maupun penentuan prioritas. Bagi saya, melalui pengalaman saya faktanya adalah "waktu lebih berharga dari uang", dan dengan menyia-nyiakan waktu kita pun menyia-nyiakan kesempatan kita untuk meraih sukses. Saya berharap filosofi ini dapat dipergunakan sehari-hari dalam berusaha maupun dalam kehidupan berkeluarga.
Siapa yang menunjang keberhasilan Anda?
Istri, istri, dan istri.
Anda sudah puas dengan keadaan sekarang?
Puas sekali.
Tulisan ini sudah dipublikasikan di Majalah MANLY APRIL 2006
No comments:
Post a Comment