Tuesday, 17 July 2007

Tak Ada Sukses Sebelum Kegagalan


Hembing Wijayakusuma

Meski berkali-kali belum berhasil menciptakan racikan obat tradisional berbahan baku tumbuhan, ia tak pernah putus asa. Hampir setiap saat, orang pertama di Asia (atau ketiga di dunia) penerima penghargaan The Star of Asia Award 1990 dari The Open International University for Complementary Medicine di Perth, Australia, ini terus berpikir. “Tak ada istilah kegagalan dalam kamus saya. Tapi, waktunya belum ketemu,” ujar Prof. H.M. Hembing Wijayakusuma.

Sifatnya yang pekerja keras, rendah hati, dan mensyukuri nikmat Tuhan menjadi modal Hembing untuk menciptakan obat dari tumbuhan. Menurut pria berbobot 75 kilogram ini, manusia dalam kehidupannya sangat tergantung pada lingkungan dan sumber alam. “Lingkungan sebenarnya menyediakan berbagai macam kebutuhan manusia, tanpa harus bersusah payah,” katanya, berpesan.

Pada Agustus 2005, lelaki kelahiran 10 Maret 1940 ini menerima tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama dari Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono. Sebulan kemudian, ia pun menerima kunjungan Presiden Gambia Dr. Yahya A.J.J. Jammeh, untuk membahas cara menangani penyakit AIDS dan asma dengan pengobatan tradisional. Semua itu terjadi berkat dedikasinya yang tinggi terhadap dunia kesehatan di Indonesia.

Berikut petikan wawancara Manly dengan Ketua Umum Himpunan Pengobatan Tradisional dan Akupunktur se-Indonesia ini.

Mengapa Anda membuka The Hembing Center?
Awalnya karena saya suka membaca biografi para ilmuwan. Dari situlah saya termotivasi. Saya memang tidak sebesar mereka. Tapi, paling tidak saya punya sedikit kelebihan. Di antaranya, saat ini saya baru saja mampu mengobati penderita autis secara tuntas.

Bagaimana cara Anda mengembangkan klinik tersebut?
Sebagai langkah awal, saya mengobati orang bukan untuk mencari uang dan bisnis semata. Kalau seperti itu, tidak mungkin saya seperti sekarang. Ini kunci sukses saya. Saya berusaha memberikan pelayanan terbaik kepada pasien tanpa memandang status, warna kulit, agama, dan sebagainya. Yang penting, kondisi pasien setelah datang ke tempat saya mengalami kemajuan, sehat dari penyakit yang dideritanya selama ini.

Apa filosofi Anda saat mengobati pasien?
Saya mengambil filosofi dari Tiongkok: tidak ada sukses yang belum mengalami kegagalan. Saya percaya, karena saya bekerja demi kemanusiaan, pasti Tuhan akan memberikan saya inspirasi. Buktinya memang seperti itu.

Lantas, kiat Anda menyikapi pasien yang mengeluh penyakitnya belum bisa disembuhkan?
Tentu akan ditanggapi dengan baik. Biasanya, saya akan berusaha memberikan dukungan moral dan membesarkan hatinya. Sebagai pelayan kesehatan, saya akan memberikan pelayanan semaksimal mungkin kepada pasien yang berobat. Saya menyadari masih memiliki keterbatasan dan kekurangan. Kami berusaha memberikan pengobatan yang terbaik. Namun, tetap kesembuhan itu datangnya dari izin Tuhan Yang Maha Esa.

Siapa yang mengajari Anda membuat obat dari tumbuh-tumbuhan?
Dulu, buyut saya, namanya Y.F. Max. Ketika beliau sering mengobati orang, dari situlah saya tertarik. Dalam hati saya bertanya, mengapa saya tidak bisa seperti buyut? Kan saya masih darah dagingnya. Ternyata, dia melihat bakat saya. Sambil mengobati orang, dia juga menerangkannya kepada saya.

Mengapa Anda tertarik menggeluti dunia pengobatan tradisional?
Awalnya karena saya tahu, 90 persen dari sekitar 30 sampai 40 ribu tanaman yang tumbuh di Indonesia memunyai khasiat obat. Jadi, kenapa pula harus impor bahan baku? Secara kebetulan, keluarga saya memang sudah terbiasa bergelut dengan obat-obatan tradisional
Bagaimana proses Anda menemukan racikan obat?Membaca literatur dan referensi dari pakar ilmu kedokteran Tiongkok. Selain itu, saya pun belajar langsung ke negeri Cina dengan para pakar pengobatan tradisional Tiongkok serta bermacam perguruan tinggi ilmu kedokteran Timur.

Apakah kiat Anda menyebarluaskan pengobatan melalui tumbuhan?
Banyak. Mulai dari membuka praktik, menulis buku lebih dari 100 judul buku, menjadi pembicara di seminar kesehatan, hingga membuat album lagu bertemakan Pengobatan Melalui Kekayaan Alam. Meski suara saya terdengar ala kadarnya, sudah banyak judul lagu dan syair yang saya buat . Di antaranya, makan enak, jahe merah, sehat lahir batin, sehat dengan lidah buaya, dan sehat pinggang. Pokoknya, segala macam cara saya lakukan.

Apa yang Anda lakukan dalam menghadapi persaingan dengan “obat modern”?Saya tidak merasa adanya persaingan. Saya tak pernah menganggap obat tradisional lebih unggul dibandingkan obat modern. Buat saya, substansi dari berbagai metode pengobatanlah intinya, yaitu bagaimana kita mampu menolong dan melepaskan manusia dari cengkeraman penyakit yang menyiksa dan mematikan. Terpenting, kita harus mau eksplor dan tetap belajar sampai akhir hayat. Karena, pengalaman dan pengetahuan adalah pelajaran termahal ketimbang apa pun.

Apa komentar Anda terhadap keberhasilan obat modern dalam menyembuhkan penyakit?
Obat yang ada di pasaran berasal dari Barat dan sistemnya lain. Obat dari Barat lebih ke sindrom atau gejala saja. Sedangkan di Timur, dilakukan secara tuntas. Mulai dari gejala sebagai bahan diagnosa hingga proses penyembuhan. Kalau penyakit hilang, otomatis hilang sindromnya.

Langkah apa yang Anda lakukan mengenai penarikan obat tradisional di pasaran?
Saya harus tetap memberikan informasi kepada masyarakat, supaya mereka jeli dan peka terhadap obat-obatan yang ada di pasaran.

Apakah Anda mengekspor obat-obatan ke luar negeri?
Saya tidak pernah mengekspor obat-obatan yang saya buat. Tapi, pasien dari berbagai negara sengaja datang ke Indonesia hanya untuk konsultasi dengan saya.

Bagaimana cara Anda menjaga kesehatan?
Konsep saya, sebelum penyakit itu datang, saya cegah dahulu. Caranya dengan makan teratur, kalau capai saya istirahat. Kalau ada waktu, saya melakukan penelitian dan membaca buku.
Anda pernah stres?Saya tidak pernah stres. Karena, saya bersandar pada filosofi: musuh terbesar adalah diri kita sendiri. Jadi, tidak ada istilah susah.

Judul: Perjalanan Bocah Hiperaktif
Sifat keingintahuan Hembing di kala kecil begitu tinggi. Mulai dari mengutak-atik dinamo sepeda, jam tangan, hingga bereksperimen membuat obat racikan. Hebatnya, semua barang tak layak pakai mampu ia perbaiki. “Apa pun barang yang rusak di rumah, saya perbaiki,” kenang Hembing Wijayakusuma.

Awalnya, orangtua Hembing sempat kesal dan tidak setuju dengan aktivitas yang dilakoninya. Tapi, setelah ia berhasil membuat balsem dan sabun mandi berkhasiat untuk masuk angin, barulah orangtuanya terkagum-kagum. Melihat prestasi itu, Hembing pun memutuskan untuk memperdalam pengobatan tradisional. Untuk memperdalam ilmu tersebut, ia pun berkelana ke beberapa negara. “Seperti Cina, Hongkong, Korea, Taiwan, Jepang, Italia, dan beberapa negara Eropa lainnya,” katanya.

Lebih lanjut, single dad ini bercerita. Karena perkembangan ilmu kedokteran terus bergerak dan banyaknya penyakit baru, ia pun berupaya menyelesaikan pendidikan program Suture Embedding Therapy di Nanjing University of Traditional Medicine, Chinese Medicine for Institutions of Traditional, dan tuntas pada 2004. “Saya akan menuntut ilmu hingga ke liang lahat,” katanya, bangga.

Sepak terjangnya di dunia pengobatan tradisional memang terkesan murah dan efisien. Tapi, menurut guru besar Wonkwang University, Korea Selatan ini, hal itu bukanlah pengobatan kampungan. “Karena sudah jelas bukti-bukti keberhasilannya,” imbuhnya, menegaskan.

Haris Maryasno -- Tulisan ini sudah dipublikasikan di Majalah MANLY, Oktober, 2005

No comments:

Post a Comment