Hidangan seorang Babah tanah Jawa dan wanita pribumi Betawi menjadi santapan special tahun 1920-an. Seperti apa kenikmatannya masakan itu?
Alkisah ditahun 1920-an, seorang pria bernenek moyang shanghai, membuka Warong Shanghai bersama istrinya asal Betawi. Kala itu, suami-istri ini hanya menjual teh dan barang-barang kelontong saja. Namun seiring berjalannya waktu, warong ini terus berkembang. Dan, Babah Chan Mo Sang bersama Siti Djaenab kemudian merenovasi dan mulai menjual makanan Babah, masakan Betawi.
Aktivitas di kedai makanan yang terletak di pelabuhan Sunda Kelapa ini sungguh beragam. Mereka tak hanya mencicipi masakan Betawi. Tapi menjahit pakaian, mengesol sepatu, mencukur rambut, mengisap candu, minum-minum di bar, hingga dansa–dansi dibawah iringan musik jazz atau tanjidor, sungguh dinikmati para pelaut asal luar negeri.
Namun sayang, keceriaan para tamu di warung reyot yang terbuat dari gedek itu, tahun 1940 -an ditutup tanpa diketahui sebabnya. Ketika kedai ini ditutup, salah seorang ahli warisnya membongkar seluruh bangunan dan menyimpan semua inventaris barang. Mulai dari atap genteng, tiang besi penyangga, pintu-pintu, koran-koran lama tahun 1930-an, komik 1920-an, kursi cukur, alat penghisap candu, mesin jahit, sol sepatu dll. Semua disimpan, tanpa dipelihara.
Nah, untuk menghargai peninggalan sejarah masalah lalu kehidupan di Batavia tahun1920-an, Annette Anhar ingin “menghidupkan kembali“ kenangan itu di bilangan Kebon Sirih Jakarta. Menurut dara cantik ini, ia memiliki alasan tersendiri untuk membuka kembali Warong Shanghai. “Cerita warong Shanghai, buat saya mengandung sisi romantis dari kehidupan sederhana di salah satu sudut Batavia tahun 1920,” kata sang pemilik.
Untuk mengingat masa lalu dan menambah kenyamanan pengunjung, ruangan resto ini memiliki atmosfir The Beauty of Shanghai Art Deco. Dengan tata cahaya cozy, restoran yang diresmikan gubernur DKI Jakarta Sutiyoso 31 Agustus 2006, dipenuhi benda-benda bersejarah. Di salah satu sudut Jazz Room, misalnya. Selain dua buah kursi bercukur dan menyemir sepatu, alat musik tiup dan kumpulan foto pemain musik Jazz serta Tanjidor di Warong Shanghai kala itu, “Akan membawa kita ke dalam kehidupan Batavia tahun 1920-an,” ujar dara yang akrab disapa Annette ini.
Dengan mengusung konsep fine dining detail, menarik dan unik dari sisi makanan, Annette berharap pengunjung tak hanya bisa menikmati makanan dan minuman yang disajikannya Mostly about Indonesian Culinaire. “Tapi bisa juga menghargai sebuah sejarah kehidupan bangsa,” katanya, lantas tersenyum.
Menu main course yang menjadi andalan spesial restoran yang dipenuhi ornamen Cina ini, bisa Anda pilih, seperti: Ketoprak Japit Mak Leha, Tim Kepiting Kacang Hitam, Ikan Goreng Moelet Garing, dan Bebek Panggang Shanghai Blue. “Pokoknya dijamin enak,” katanya tanpa maksud berpromosi.
Masih di WSB 1920. Di lantai 3 terdapat sebuah ruang candu (opium room) yang bercerita kehidupan pertengahan abad 19 di kota Batavia. Saat memasuki ruang candu, puluhan sempoa menghiasi bagian dinding yang tertata apik dengan beberapa foto orang sedang menikmati candu. Di dalam ruangan candu berkapasitas 30 orang sebagai meeting room, exclusive dining room, Anda akan dibawa menghayal, bagaimana konyolnya Thauw Kay (sang tuan rumah), memimpin rapat sambil menikmati opium. “Di ruangan ini kita bisa melihat betapa konyol dan bodohnya masyarakat kita pada masa penjajahan,” tutur Annette mengengang, dengan wajah sumringah.
Haris Maryasno -- tulisan ini sudah dimuat di Majalah Prioritas BCA
Alkisah ditahun 1920-an, seorang pria bernenek moyang shanghai, membuka Warong Shanghai bersama istrinya asal Betawi. Kala itu, suami-istri ini hanya menjual teh dan barang-barang kelontong saja. Namun seiring berjalannya waktu, warong ini terus berkembang. Dan, Babah Chan Mo Sang bersama Siti Djaenab kemudian merenovasi dan mulai menjual makanan Babah, masakan Betawi.
Aktivitas di kedai makanan yang terletak di pelabuhan Sunda Kelapa ini sungguh beragam. Mereka tak hanya mencicipi masakan Betawi. Tapi menjahit pakaian, mengesol sepatu, mencukur rambut, mengisap candu, minum-minum di bar, hingga dansa–dansi dibawah iringan musik jazz atau tanjidor, sungguh dinikmati para pelaut asal luar negeri.
Namun sayang, keceriaan para tamu di warung reyot yang terbuat dari gedek itu, tahun 1940 -an ditutup tanpa diketahui sebabnya. Ketika kedai ini ditutup, salah seorang ahli warisnya membongkar seluruh bangunan dan menyimpan semua inventaris barang. Mulai dari atap genteng, tiang besi penyangga, pintu-pintu, koran-koran lama tahun 1930-an, komik 1920-an, kursi cukur, alat penghisap candu, mesin jahit, sol sepatu dll. Semua disimpan, tanpa dipelihara.
Nah, untuk menghargai peninggalan sejarah masalah lalu kehidupan di Batavia tahun1920-an, Annette Anhar ingin “menghidupkan kembali“ kenangan itu di bilangan Kebon Sirih Jakarta. Menurut dara cantik ini, ia memiliki alasan tersendiri untuk membuka kembali Warong Shanghai. “Cerita warong Shanghai, buat saya mengandung sisi romantis dari kehidupan sederhana di salah satu sudut Batavia tahun 1920,” kata sang pemilik.
Untuk mengingat masa lalu dan menambah kenyamanan pengunjung, ruangan resto ini memiliki atmosfir The Beauty of Shanghai Art Deco. Dengan tata cahaya cozy, restoran yang diresmikan gubernur DKI Jakarta Sutiyoso 31 Agustus 2006, dipenuhi benda-benda bersejarah. Di salah satu sudut Jazz Room, misalnya. Selain dua buah kursi bercukur dan menyemir sepatu, alat musik tiup dan kumpulan foto pemain musik Jazz serta Tanjidor di Warong Shanghai kala itu, “Akan membawa kita ke dalam kehidupan Batavia tahun 1920-an,” ujar dara yang akrab disapa Annette ini.
Dengan mengusung konsep fine dining detail, menarik dan unik dari sisi makanan, Annette berharap pengunjung tak hanya bisa menikmati makanan dan minuman yang disajikannya Mostly about Indonesian Culinaire. “Tapi bisa juga menghargai sebuah sejarah kehidupan bangsa,” katanya, lantas tersenyum.
Menu main course yang menjadi andalan spesial restoran yang dipenuhi ornamen Cina ini, bisa Anda pilih, seperti: Ketoprak Japit Mak Leha, Tim Kepiting Kacang Hitam, Ikan Goreng Moelet Garing, dan Bebek Panggang Shanghai Blue. “Pokoknya dijamin enak,” katanya tanpa maksud berpromosi.
Masih di WSB 1920. Di lantai 3 terdapat sebuah ruang candu (opium room) yang bercerita kehidupan pertengahan abad 19 di kota Batavia. Saat memasuki ruang candu, puluhan sempoa menghiasi bagian dinding yang tertata apik dengan beberapa foto orang sedang menikmati candu. Di dalam ruangan candu berkapasitas 30 orang sebagai meeting room, exclusive dining room, Anda akan dibawa menghayal, bagaimana konyolnya Thauw Kay (sang tuan rumah), memimpin rapat sambil menikmati opium. “Di ruangan ini kita bisa melihat betapa konyol dan bodohnya masyarakat kita pada masa penjajahan,” tutur Annette mengengang, dengan wajah sumringah.
Haris Maryasno -- tulisan ini sudah dimuat di Majalah Prioritas BCA
No comments:
Post a Comment