Pasar Tanah Abang tak lagi tampak kotor, semrawut, becek, panas dan dipenuhi para pencopet. Perubahan fisik pada pasar yang identik “Indonesia Mini”, kini tampak lebih modern, aman dan nyaman. Tak heran, bila kini telah berdiri gedung mewah lainnya yang juga menjadi pusat grosir tekstil seperti: Metro Tanah Abang dan Jakarta City Center (JACC). yang turut menyemarakkan ramainya pusat grosir tekstil terbesar di Indoneisa dan Asia Tenggara.
Pesona dan image Pasar Tanah Abang tak lagi hanya untuk kaum ibu-ibu. Hal ini dibuktikan hadirnya Miss Universe 2007 Riyo Mori, yang didampingi Puteri Indonesia 2007 Putri Raemaswati dan aktris Titi Kamal, meresmikan soft launching Pusat btuik yang merupakan grosir butik pertama di Indonesia di area Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta.
***
Tak Lekang Dimakan Waktu
Wisata belanja yang kali ini kita kunjungi bukanlah pasar sembarang pasar. Ini, Pasar Tanah Abang, tempat berkumpulnya berbagai etnis pedagang dan pembelinya. Seperti apa wajahnya dahulu dan sekarang?
Pasar Tanah Abang, memang selalu menjadi bahan pembicaraan sejak dahulu hingga sekarang. Nama pasar ini telah dikenal sejak tahun 1735-an, ketika Justinus Vinck, seorang Belanda pemilik tanah di daerah Tanah Abang, mendirikan pasar di atas tanah miliknya. Kala itu, Pasa Tanah Abang dibuka setiap hari sabtu dan bersaing dengan Pasar Weltervreden alias Pasar Senen. Hiruk pikuknya keramaian pasar Tanah Abang tempo dulu, taklepas dari keberadaan mengalirnya Kali Krukut dekat Pasar Tanah Abang, yang dijadikan tempat parkir perahu para pedagang yang menjual maupun membeli barang di pasar ini.
Menurut catatan sejarah, menjelang akhir abad ke-19 Tanah Abang mulai ramai dihuni oleh etnis Timur Tengah. Hingga tahun 1920 jumlah etnis Arab di kawasan Tanah Abang mencapai sekitar 13 ribu orang. Berdirinya pasar ini tidak lepas dari sejarah lahirnya kampung-kampung tua di Jakarta. Nama pasar ini dulunya adalah nama sebuah wilayah yang disebut Kampung Tanah Abang.
Perkembangan penduduk makin pesat. Apalagi setelah arus urbanisasi mengalir lancar dari daerah-daerah lain di Indonesia. Pasar Tanah Abang pun tak luput dari incaran pendatang untuk mengadu nasib. Makin maraknya pedagang etnis Cina di Pasar Tanah Abang, berawal setelah peremajaan pasar itu diresmikan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, tahun 1975. Seiring berjalannya waktu, Pasar Tanah Abang mulai diramaikan para pedagang dari Pontianak, Kalimantan.
Pasar Tanah Abang Berubah Wajah
Pasar Tanah Abang khususnya Blok A makin menggeliat dari waktu ke waktu. Tempat ini berkembang menjadi sebuah tempat dengan konsep layanan yang mempertahankan nilai-nilai tradisional dan diperkaya dengan pilihan lokasi yang modern.
Transaksi jual beli, terjadi layaknya pasar-pasar tradisional lain. Ya, transaksi jual-beli dengan tawar menawar, biasa terjadi di pasar-pasar tradisional lain. Kelebihan yang ada di Pasar Tanah Abang saat ini adalah, luar biasa. Dahulu pengunjung harus membersihkan sandalnya lantaran tanah merah menempel di sandal (seperti 300-an tahun silam ketika Pasar Tanah Abang baru dibuka). Atau pengunjung tak perlu repot membawa kipas tangan ketika udara panas dan gerah. Bahkan, ketakutan dicopet karena membawa “dompet gemuk” berisi uang tunai.
Sekarang, Pasar Tanah Abang menyediakan fasilitas yang dihadirkan demi kenyamanan para pembelinya. Pasca peristiwa kebakaran pada tahun 2002 lalu, pasar ini telah dipugar dan beberapa pedagangnya direlokasi ke dalam sebuah gedung megah, bertingkat 19. Tempat ini dikenal sebagai Blok A, Pasar Tanah Abang.
Menurut Mediarto Prawiro, Direktur Utama PT Priamanaya, perusahaan yang mengelola Pasar Tanah Abang Blok A menyatakan, bangunan yang sudah mulai berfungsi sejak Juni 2005, berdiri diatas tanah seluas seluas 151.202 meter persegi dengan beragam fasilitas standar mal.
Diantaranya: 149 unit eskalator, 4 unit passenger lift (capsule), 4 unit passenger lift biasa, 8 unit lift barang (kapasitas 1.000 dan 2.000 kilogram), pusat jajan, fasilitas AC central, masjid megah bergaya Timur Tengah dan Betawi serta ratusan petugas keamanan setiap shiftnya untuk 3 kali shift. “Sekarang ini, belanja di Tanah Abang sudah nyaman dan aman,” tuturnya bangga.
Pasar yang dikenal macet dengan hiruk pikuknya kendaraan bermotor roda dua dan empat ini, kini berkurang setelah tersedianya area parkir yang mampu menampung 2000 mobil. Setidaknya, “fasilitas ini dapat mengurangi tingkat kemacetan lalu lintas di area Tanah Abang,” tambahnya.
Ciri khas Blok A-Pasar Tanah Abang sebagai pusat grosir tekstil dan garmen, khususnya busana muslim tak lantas hilang. “Los-los yang menghuni Blok A, memang diprioritaskan bagi para pedagang tekstil. Dari Pintu Utama Lt. semi basement 2, pengunjung akan disuguhi pemandangan aneka warna dan corak kain/tekstil yang tersusun rapi,” katanya. Selain itu, kata Mediarto, penerangan yang ada di dalam ruangan gedung, menambah indah kombinasi warna yang muncul dari pajangan-pajangan produk yang dijual.
Mendulang Uang di Dunia Maya
Bisnis online memang punya banyak kelebihan. Target marketnya tak terbatas, 24 jam sehari, serta dapat bisa menjalankan bisnis di mana pun berada sepanjang terhubung dengan internet. Lalu, bagaimana orang Indonesia yang baru menekuni bisnis internet ini bisa menghasilkan uang?
Tak banyak orang yang percaya bagaimana bisa internet dapat menjadi sumber penghasilan baru bagi masyarakat. Tetapi memang kenyataannya, teknologi internet memang tak hanya merevolusi cara berkomunikasi antar manusia di berbagai belahan bumi, namun juga merevolusi cara manusia bekerja dan menghasilkan uang.
Ini seperti yang dilakukan tiga orang calon pengusaha sukses di dunia maya yaitu: Hasan Basri, Purwoko Widodo dan Khairul Yanis. Ketiga orang ini membuat situs GrosirTanahAbang DotCom yang merupakan nama kelompok usaha dan juga toko grosir pakaian di Metro Tanah Abang (Pusat Grosir Metro Tanah Abang, Lt 4 Blok A No. 128 Tanah Abang - Jakarta Pusat).
Menurut Hasan Basri, GrosirTanahAbang.com. yang berdiri Februari 2006, hampir dipastikan dari nol. Bagaimana tidak murah, untuk menyewa nama domain situs, cukup Rp 150 ribu/tahun. Adapun hosting-nya Rp 50 ribu/bulan untuk kapasitas 100 MB. Biaya operasional per bulan tak kurang dari Rp1 juta.
Soal keuntungan yang diperoleh, ia tak menjawabnya. Yang pasti jualan secara online ini berlangsung selama 24 melalui email atau mengirimkan pesan singkat (SMS) melalui nomor handphone yang sudah disediakan. Tak heran, bila dalam sebulan Hasan sudah bisa meraih keuntungan. Dimata Hasan, untuk bisa sukses bisnis online dibutuhkan saling kepercayaan antara dirinya dengan pedagang dan pembeli. “Pokoknya, uang muka pembeli, kita setorkan ke pedagang. Sisanya, setelah barang terkirim 3-4 hari untuk pulau Jawa. Dan 5-7 hari di luar luar jawa,” ungkap Hasan yang selalu menyiapkan katalog secara online, dan di update setiap saat dibandingkan sistem brosur yang harus menunggu kiriman atau datang langsung
yang tidak memungkinkan bagi pembeli di daerah.
Hasan dan kawan-kawannya yang membidik sgmen pedagang grosir daerah, menjual jaket (75%), kaus dan kemeja dengan harga bervariasi. Tak heran, bila ia setiap harinya disibuki 20-an lebih pelanggan setianya. “Dua puluh orang pembeli terbesar saja, kami sudah sibuk. Lainnya adalah bonus dan calon pelanggan potensial kami,” ujarnya bangga.
Nama lain yang juga sukses berdagang grosir via ranah internet adalah Irwanto Jo, pemilik situs Tanah-Abang.com. Situs ini menjual pakaian wanita dari jenis kaus, jaket, manset, rajut, jins, busana Muslim dan baju tidur. Menurut Irwanto, usaha onlinenya ini bermula dari keisengannya membantu penjualan toko miliknya tahun 2002. Akan tetapi melihat prospek bisnis yang baik dimasa mendatang, sejak pertengahan tahun 2006 segera ditangani secara serius dengan menambah investasi, enam investasi, karyawan dan produk yang lebih bervariasi. “Untuk bisa Break even perhari adalah 8 lusin. Atau membeli secara online perhari sekitar 40 orang,” ujar Irwanto yang sudah bisa kembali modal usahanya ini dalam tempo enam bulanlamanya.
Oleh: Haris Maryasno

No comments:
Post a Comment