Wednesday, 30 April 2008

Indonesia Mini



Pasar Tanah Abang

Pasar Tanah Abang tak lagi tampak kotor, semrawut, becek, panas dan dipenuhi para pencopet. Perubahan fisik pada pasar yang identik “Indonesia Mini”, kini tampak lebih modern, aman dan nyaman. Tak heran, bila kini telah berdiri gedung mewah lainnya yang juga menjadi pusat grosir tekstil seperti: Metro Tanah Abang dan Jakarta City Center (JACC). yang turut menyemarakkan ramainya pusat grosir tekstil terbesar di Indoneisa dan Asia Tenggara.

Pesona dan image Pasar Tanah Abang tak lagi hanya untuk kaum ibu-ibu. Hal ini dibuktikan hadirnya Miss Universe 2007 Riyo Mori, yang didampingi Puteri Indonesia 2007 Putri Raemaswati dan aktris Titi Kamal, meresmikan soft launching Pusat btuik yang merupakan grosir butik pertama di Indonesia di area Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta.

Nama besar Pasar Tanah Abang, menjadi magnet besar bagi para pengusaha di seluruh pelosok negeri Indonesia untuk meraih keuntungan. Di tempat inilah, beragam etnis, agama suku, dan golongan melebur menjadi satu demi menggerakkan roda perekonomian nasional yang sempat terhenti lantaran pasar ini terbakar pada tahun 2003.

Pasar Tanah Abang memang menggiurkan untuk dijadikan lahan bisnis. Melihat derasnya arus lalu-lintas uang di pasar ini, telah membuka peluang bisnis lainnya. Meski tak memiliki toko untuk menjaja tekstil dan turunannya, berjualan pun dapat dilakukan melalui dunia maya. Itulah hebatnya pasar yang usianya sudah ratusan tahun ini.

Di tempat inilah, miliaran rupiah setiap harinya beredar demi kemajuan perekonomian Indonesia. Di wilayah ini pula, BCA kembali membuka satu kantor cabang pembantu yang terletak di lantai Low Ground Pusat Grosir Metro Tanah Abang (PGMTA). Semoga dengan bertambahnya KCP BCA di wilayah Pasar Tanah Abang ini, dapat turut andil memuluskan laju perekonomian Indonesia tahun 2008. Semoga!

***

Tak Lekang Dimakan Waktu

Wisata belanja yang kali ini kita kunjungi bukanlah pasar sembarang pasar. Ini, Pasar Tanah Abang, tempat berkumpulnya berbagai etnis pedagang dan pembelinya. Seperti apa wajahnya dahulu dan sekarang?

Pasar Tanah Abang, memang selalu menjadi bahan pembicaraan sejak dahulu hingga sekarang. Nama pasar ini telah dikenal sejak tahun 1735-an, ketika Justinus Vinck, seorang Belanda pemilik tanah di daerah Tanah Abang, mendirikan pasar di atas tanah miliknya. Kala itu, Pasa Tanah Abang dibuka setiap hari sabtu dan bersaing dengan Pasar Weltervreden alias Pasar Senen. Hiruk pikuknya keramaian pasar Tanah Abang tempo dulu, taklepas dari keberadaan mengalirnya Kali Krukut dekat Pasar Tanah Abang, yang dijadikan tempat parkir perahu para pedagang yang menjual maupun membeli barang di pasar ini.

Pasar Tanah Abang bagaikan pasar legendaris dari Batavia. Pusat keramaian ini tak hanya menjadi lokasi favorit bagi para pedagang untuk berniaga, melainkan juga sebagai tempat belanja yang banyak didatangi para pembeli dari segala penjuru dunia dan tanah air sendiri. Selain karena barang-barangnya tersedia dalam banyak pilihan, Pasar Tanah Abang pun terkenal karena harga-harga barangnya yang murah dengan kualitas yang tak kalah bagus dengan tempat lainnya.

Menurut catatan sejarah, menjelang akhir abad ke-19 Tanah Abang mulai ramai dihuni oleh etnis Timur Tengah. Hingga tahun 1920 jumlah etnis Arab di kawasan Tanah Abang mencapai sekitar 13 ribu orang. Berdirinya pasar ini tidak lepas dari sejarah lahirnya kampung-kampung tua di Jakarta. Nama pasar ini dulunya adalah nama sebuah wilayah yang disebut Kampung Tanah Abang.

Pada tahun 1970-an Pasar Tanah Abang dibangun hampir bersamaan dengan dibangunnya Pasar Senen. Kedua pasar ini dulunya dijadikan pusat perdagangan utama. Perkembangan kedua pasar inilah yang tidak disia-siakan oleh pedagang dari Sumatera Barat. Bahkan selanjutnya kedua pasar ini dikenal pula sebagai pusatnya urang awak mengadu peruntungan di kota Jakarta.

Perkembangan penduduk makin pesat. Apalagi setelah arus urbanisasi mengalir lancar dari daerah-daerah lain di Indonesia. Pasar Tanah Abang pun tak luput dari incaran pendatang untuk mengadu nasib. Makin maraknya pedagang etnis Cina di Pasar Tanah Abang, berawal setelah peremajaan pasar itu diresmikan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, tahun 1975. Seiring berjalannya waktu, Pasar Tanah Abang mulai diramaikan para pedagang dari Pontianak, Kalimantan.


Pasar Tanah Abang Berubah Wajah

Pasar Tanah Abang khususnya Blok A makin menggeliat dari waktu ke waktu. Tempat ini berkembang menjadi sebuah tempat dengan konsep layanan yang mempertahankan nilai-nilai tradisional dan diperkaya dengan pilihan lokasi yang modern.

Transaksi jual beli, terjadi layaknya pasar-pasar tradisional lain. Ya, transaksi jual-beli dengan tawar menawar, biasa terjadi di pasar-pasar tradisional lain. Kelebihan yang ada di Pasar Tanah Abang saat ini adalah, luar biasa. Dahulu pengunjung harus membersihkan sandalnya lantaran tanah merah menempel di sandal (seperti 300-an tahun silam ketika Pasar Tanah Abang baru dibuka). Atau pengunjung tak perlu repot membawa kipas tangan ketika udara panas dan gerah. Bahkan, ketakutan dicopet karena membawa “dompet gemuk” berisi uang tunai.

Sekarang, Pasar Tanah Abang menyediakan fasilitas yang dihadirkan demi kenyamanan para pembelinya. Pasca peristiwa kebakaran pada tahun 2002 lalu, pasar ini telah dipugar dan beberapa pedagangnya direlokasi ke dalam sebuah gedung megah, bertingkat 19. Tempat ini dikenal sebagai Blok A, Pasar Tanah Abang.

Menurut Mediarto Prawiro, Direktur Utama PT Priamanaya, perusahaan yang mengelola Pasar Tanah Abang Blok A menyatakan, bangunan yang sudah mulai berfungsi sejak Juni 2005, berdiri diatas tanah seluas seluas 151.202 meter persegi dengan beragam fasilitas standar mal.

Diantaranya: 149 unit eskalator, 4 unit passenger lift (capsule), 4 unit passenger lift biasa, 8 unit lift barang (kapasitas 1.000 dan 2.000 kilogram), pusat jajan, fasilitas AC central, masjid megah bergaya Timur Tengah dan Betawi serta ratusan petugas keamanan setiap shiftnya untuk 3 kali shift. “Sekarang ini, belanja di Tanah Abang sudah nyaman dan aman,” tuturnya bangga.

Selain itu, lanjut Mediarto, Pasar Tanah Abang Blok A yang dikelolanya, juga dipenuhi aneka ragam merk Bank. Mulai dari bank kecil hingga papan atas, semua berdiri berdampingan plus Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Soal transaksi pembayaran antara pedagang dan pembeli, dipastikan pembeli tak harus membawa banyak uang tunai. Pasalnya, hampir setiap kios yang telah difasilitasi line telepon, menggunakan mesin transaksi pembayaran untuk Kartu Debet dan Kredit.

Pasar yang dikenal macet dengan hiruk pikuknya kendaraan bermotor roda dua dan empat ini, kini berkurang setelah tersedianya area parkir yang mampu menampung 2000 mobil. Setidaknya, “fasilitas ini dapat mengurangi tingkat kemacetan lalu lintas di area Tanah Abang,” tambahnya.


Ciri khas Blok A-Pasar Tanah Abang sebagai pusat grosir tekstil dan garmen, khususnya busana muslim tak lantas hilang. “Los-los yang menghuni Blok A, memang diprioritaskan bagi para pedagang tekstil. Dari Pintu Utama Lt. semi basement 2, pengunjung akan disuguhi pemandangan aneka warna dan corak kain/tekstil yang tersusun rapi,” katanya. Selain itu, kata Mediarto, penerangan yang ada di dalam ruangan gedung, menambah indah kombinasi warna yang muncul dari pajangan-pajangan produk yang dijual.

Kehadiran Pasar Tanah Abang, hadir di Indonesia bukan cuma sebagai tempat berbelanja. Di dalamnya, pengunjung bisa mendapatkan lebih dari itu. Tempat ini dikunjungi lebih dari 60 ribu pengunjung setiap harinya. Apalagi pada saat bulan bulan puasa, setiap harinya pasar ini dipadati hingga 2 juta orang.

Akhirnya, ini Pasar Tanah Abang. Pasar tua yang telah berumur 300 tahun lebih, tak lekang dimakan zaman. Batavia punya legenda.

***

Mendulang Uang di Dunia Maya

Bisnis online memang punya banyak kelebihan. Target marketnya tak terbatas, 24 jam sehari, serta dapat bisa menjalankan bisnis di mana pun berada sepanjang terhubung dengan internet. Lalu, bagaimana orang Indonesia yang baru menekuni bisnis internet ini bisa menghasilkan uang?

Tak banyak orang yang percaya bagaimana bisa internet dapat menjadi sumber penghasilan baru bagi masyarakat. Tetapi memang kenyataannya, teknologi internet memang tak hanya merevolusi cara berkomunikasi antar manusia di berbagai belahan bumi, namun juga merevolusi cara manusia bekerja dan menghasilkan uang.

Usaha tanpa modal adalah sesuatu hal yang tidak mungkin dalam bisnis. Begitu pula dalam bisnis via internet. Paling tidak biaya ke warnet, tenaga yang anda keluarkan untuk bekerja online dan biaya pendaftaran merupakan modal awalnya. Semakin bekerja keras maka semakin besar pula hasil yang akan Anda peroleh. Masuk akal bukan?

Ini seperti yang dilakukan tiga orang calon pengusaha sukses di dunia maya yaitu: Hasan Basri, Purwoko Widodo dan Khairul Yanis. Ketiga orang ini membuat situs GrosirTanahAbang DotCom yang merupakan nama kelompok usaha dan juga toko grosir pakaian di Metro Tanah Abang (Pusat Grosir Metro Tanah Abang, Lt 4 Blok A No. 128 Tanah Abang - Jakarta Pusat).

Menurut Hasan Basri, GrosirTanahAbang.com. yang berdiri Februari 2006, hampir dipastikan dari nol. Bagaimana tidak murah, untuk menyewa nama domain situs, cukup Rp 150 ribu/tahun. Adapun hosting-nya Rp 50 ribu/bulan untuk kapasitas 100 MB. Biaya operasional per bulan tak kurang dari Rp1 juta.

Soal keuntungan yang diperoleh, ia tak menjawabnya. Yang pasti jualan secara online ini berlangsung selama 24 melalui email atau mengirimkan pesan singkat (SMS) melalui nomor handphone yang sudah disediakan. Tak heran, bila dalam sebulan Hasan sudah bisa meraih keuntungan. Dimata Hasan, untuk bisa sukses bisnis online dibutuhkan saling kepercayaan antara dirinya dengan pedagang dan pembeli. “Pokoknya, uang muka pembeli, kita setorkan ke pedagang. Sisanya, setelah barang terkirim 3-4 hari untuk pulau Jawa. Dan 5-7 hari di luar luar jawa,” ungkap Hasan yang selalu menyiapkan katalog secara online, dan di update setiap saat dibandingkan sistem brosur yang harus menunggu kiriman atau datang langsung
yang tidak memungkinkan bagi pembeli di daerah.

Hasan dan kawan-kawannya yang membidik sgmen pedagang grosir daerah, menjual jaket (75%), kaus dan kemeja dengan harga bervariasi. Tak heran, bila ia setiap harinya disibuki 20-an lebih pelanggan setianya. “Dua puluh orang pembeli terbesar saja, kami sudah sibuk. Lainnya adalah bonus dan calon pelanggan potensial kami,” ujarnya bangga.

Nama lain yang juga sukses berdagang grosir via ranah internet adalah Irwanto Jo, pemilik situs Tanah-Abang.com. Situs ini menjual pakaian wanita dari jenis kaus, jaket, manset, rajut, jins, busana Muslim dan baju tidur. Menurut Irwanto, usaha onlinenya ini bermula dari keisengannya membantu penjualan toko miliknya tahun 2002. Akan tetapi melihat prospek bisnis yang baik dimasa mendatang, sejak pertengahan tahun 2006 segera ditangani secara serius dengan menambah investasi, enam investasi, karyawan dan produk yang lebih bervariasi. “Untuk bisa Break even perhari adalah 8 lusin. Atau membeli secara online perhari sekitar 40 orang,” ujar Irwanto yang sudah bisa kembali modal usahanya ini dalam tempo enam bulanlamanya.

Situs tanah-abang.com yang memiliki target pasar para retailer dan pemakai langsung, menggunakan sistem pembayaran melalui bank, setelah pembeli mengisi formulir order minimal 6 potong per item. “60% pembayaran melalui BCA. Setelah itu, pesanan kirim selama 1-4 hari,” ungkap Irwanto yang menerima pesanan baran dari seluruh penjuru Indonesia dan negara-negara tetangga. Soal barang-barang rusak dalam pengiriman ke pemesan, Hasan dan Irwanto sama-sama bersepakat akan menggantinya.

Bicara produk pakaian yang dijual Irwanto cukup bervariasi meski ratusan item jumlahnya. Pasalnya, hampir setiap hari selalu ia perbarharui. Soal keuntungan dari penjualan produk, ia hanya mengambil margin harga yang sudah sedikit dinaikkan dari modalnya. “Pembeli membayar ke kita secara kontan dan kita membayar kepada supplier sebagian besar(60%) secara kontan. Sisanya kita lunasi dalam waktu 1 bulan,” kata Irwanto yang menggunakan jasa pengiriman barang dengan, Tiki dan Adam, Pos dll.

Bila diamati, mereka yang sukses memang menjaga kualitas produk dan delivery-nya, sehingga order via online benar-benar dipenuhi dengan spesifikasi yang diminta. Termasuk, memberikan garansi bila barang kiriman cacat. Selain itu, mereka cukup rajin mempromosikan produk dan situsnya. Nah, siapa lagi mau menyusul berdagang secara online seperti mereka?

Oleh: Haris Maryasno

Artikel ini pernah dimuat Majalah Prioritas BCA 2007


No comments:

Post a Comment