
Sampah Dilebur, Rupiah Mengucur
Sampah selalu bertambah, tapi lahan untuk tempat pembuangan sampah tak pernah bertambah. Maka dari itu dibutuhkan sitem pemanfaatan sampah menjadi bernilai ekonomis dengan dampak lingkungan yang minimal.
Kalau Fauzi Wibowo Gubernur DKI bingung caranya mengeyahkan sampah di Jakarta, Drs. Ss. Abbas Ras, M.Eng. justru sedang pusing mencari timbunan sampah yang cukup banyak. Untuk apa Kepala Subbidang Pengelolaan Limbah, Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi BATAN ini, mencari tumpukan sampah seabrek-abrek? “
Ternyata peneliti satu ini ingin mengubah sampah menjadi peluang bisnis menjanjikan. Seperti: Pupuk Kompos Padat, Pupuk Organik Cair, Batu Bata, Batu beton yang tahan hingga berusia dua ratus tahun lebih, plastik, dan bahan daur ulang. Meski dibeberapa negara tetangga seperti: Malaysia dan India, berhasil mengolah sampah menjadi gas methan dan listrik.
Menurut Abbas, bila ingin mengais rezeki dari bisnis mengolah sampah menjadi barang bermanfaat, bisa dimulai dari lingkungan terkecil. Misalnya, membuat tempat pengolahan sampah di sebuah lingkungan perumahan dengan teknologi PSBL (Pengolahan Sampah Berwawasan Lingkungan) yang mengedepankan prinsip 4M (mudah, murah, manfaat, massal). Dengan lahan seluas 1000 m2 dan 1000 rumah, metode PSBL tidak akan menimbulkan polusi.
Mengapa? “Karena sampah-sampah tersebut sudah dimasukkan ke dalam kantong berdasarkan jenisnya. Sampah organik dimasukkan ke dalam kantong hijau, sampah anorganik kantong kuning. Sedangkan limbah B3 kantong merah,” katanya. Sampah-sampah yang diletakkan di depan rumah lanjut Abbas, langsung diangkut petugas kebersihan perumahan ke instalasi PSBL dan langsung diolah agar tidak menimbulkan bau, penyakit dan polusi.
Pengelolaan sampah pada Instalasi PSBL meliputi pemilahan, fermentasi, pengabuan, pengolahan, dan pengemasan menjadi barang bermanfaat. “Buat skala perumahan diproyeksikan untuk mengolah semua sampah menjadi pupuk padat, pupuk cair, bahan pakan ternak, bata, blok beton (bahan konstruksi taman, turap sungai, reklamasi, dan pemecah gelombang), dan bahan daur ulang,” ujarnya.
Idealnya, lokasi instalasi PSBL terletak di pinggir sungai dan/atau di dekat pasar. Pemilihan lokasi di pinggir sungai, karena Metode PSBL memerlukan banyak air untuk proses fermentasi, pembuatan bata dan blok beton. Sementara lokasi Instalasi PSBL dekat pasar dipilih untuk memperkecil biaya angkutan sampah dan menghindari kemacetan lalu-lintas.
Produksi PSBL skala perumahan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat sekitar. Umumnya produksi PSBL berupa pupuk kompos padat, pupuk organik cair, plastik, bata, dan blok beton. Untuk timbulan sampah 12 m3/hari, jumlah jenis produk PSBL dapat disimulasikan seperti tercantum pada Tabel di bawah ini.
Tabel Produksi PSBL Skala Perumahan Kapasitas Sampah 12 m3/hari
| No. | Nama Produk | Kapasitas | Harga Satuan | Jumlah Harga |
| 1 | Pupuk Kompos Padat | 500 kg | 500/kg | 250.000 |
| 2 | Pupuk Organik Cair | 100 liter | 8.000/liter | 800.000 |
| 3 | Plastik | 200 kg | 1.000/kg | 200.000 |
| 4 | Bata | 300 buah | 200/buah | 60.000 |
| 5 | Blok Beton | 100 buah | 500/buah | 50.000 |
| 6 | Bahan Daur Ulang | 200 kg | 300/kg | 60.000 |
| Total Hasil per Hari |
|
| 1.420.000 |
Bicara biaya investasi, menurut Abbas dapat disesuaikan dengan fokus kebutuhan produk. Bila produk yang dihasilkan Insralasi PSBL berupa pupuk kompos padat, pupuk organik cair, plastik, bata dan blok beton; biaya investasi PSBL diharapkan dapat kembali dalam jangka waktu 3-4 tahun. Dalam hal ini pengembalian biaya investasi PSBL tergantung dari hasil penjualan produksi.
Bila penjualan produksi dapat dilakukan sebanyak 90%, maka biaya investasi dapat dilakukan dalam waktu 3 tahun. Akan tetapi bila penjualan produksi hanya 70%-80%, maka biaya investasi dapat dilakukan dalam waktu 4 tahun. Untuk mempercepat pengembalian biaya investasi, Divisi Kebersihan Perumahan dapat bekerja sama dengan Divisi Pertamanan Perumahan, serta instansi Pemerintah dan swasta terkait lainnya. Anda tertarik?
Oleh: Haris Maryasno
Tulisan ini pernah dimuat di Majalah PRIORITAS BCA-21- 2008,
wah ini yang hebat dan perlu digalakkan bos.. gw tertarik, tapi tantangan terberatnya mengedukasi masyarakat untuk memilah sampah dari rumah
ReplyDelete