Penyakit mata yang menyebabkan proses hilangnya pengelihatan, dapat dicegah dengan obat-obatan, terapi laser dan pembedahan.
Di Indonesia, glaukoma menempati posisi nomor dua setelah katarak sebagai penyebab kebutaan. Tidak hanya mereka yang berusia 40 tahun keatas, penyakit ini juga dapat menyerang bayi dan orang berusia muda.
Seperti dijelaskan Dr. Lylys Surjani, SpM, spesialis mata Gleni International Hospital Medan, glaukoma adalah kondisi gangguan mata yang disebabkan oleh peningkatan tekanan di dalam bola mata (kornea), sehingga menyebabkan kerusakan syaraf optik, yang memicu penurunan daya penglihatan. “Penderita glaukoma akan mengalami kerusakan serabut syaraf mata sehingga tercipta blind spot (daerah tidak melihat/titik buta) para kornea,” ujarnya.
Ahmed valve ditanamkan pada bola mata dengan cara operasi. Bila tekanan bola mata berada pada 18 mmHg maka klep tersebut akan terbuka sehingga cairan yang tersumbat bisa keluar, sehingga tekanan bola mata otomatis akan turun. Sebaliknya, klep akan tertutup kembali bila tekanan sudah berada di bawah 18 mmHg. “Kalau saya menerngkanke pasien, membuat parit,” paparnya.
Gangguan mata yang tak bisa dihindari karena merupakan kondisi bawaan atau keturunan. Jenis glaukoma ini akan merusak tajam penglihatan secara perlahan tanpa rasa sakit, sehingga penderita tidak menyadari terjadinya kebutaan.
Glaukoma primer sudut tertutup
Sudut bilik mata depan tertutup secara mendadak sehingga menghambat aliran cairan bola mata yang pada akhirnya menimbulkan tekanan pada bola mata. Akibatnya, tekanan TIO mendadak naik sehingga menyebabkan berbagai gejala klinis, seperti daya penglihatan menurun, tampak pelangi bila melihat lampu, sakit kepala, rasa mual disertai muntah. Bila glaukoma ini tidak segera diobati akan menyebabkan kebutaan. Glaukoma jenis inilah yang banyak terjadi di Indonesia.
Glaukoma sekunder
Terjadi karena sudut bilik mata depan rusak akibat faktor eksternal, seperti kecelakaan/trauma, obat-obatan tertentu (steroid), tumor, reaksi peradangan dan pembuluh darah yang tak normal.
Glaukoma konginetal
Glaukoma jenis ini sebenarnya jarang terjadi. Pasalnya penderita glaukoma kongenital terjadi sejak lahir. Sudut bilik mata depan terbentuk secara tidak normal sejak lahir. Kelainan glaukoma kongenital biasanya ditandai bola mata yang lebih besar dari normal, mata terlihat tidak jernih (kornea mata), keluar air mata bila melihat cahaya.
Oleh: Haris Maryasno
Sudah dimuat di Majalah Prioritas BCA-20-2008

waa.. nulis ttg kesehatan juga mas.. qraiin ttg foto2 ajah...
ReplyDeletehehe..
kapan2 hunt2 brg lagi yaa....