Friday, 24 October 2008

Investasi Tak Lekang Di Makan Waktu


Investasi Emas
Pergerakan harga emas seakan berbanding lurus dengan tingkat inflasi. Berapa pun tingkat inflasi, harga emas akan naik lebih tinggi.

Emas seakan diciptakan untuk mewakili segala hal yang indah. Bak sebuah magnet, benda satu ini mempunyai daya tarik tersendiri meski kecantikannya terpresentasikan dalam beragam bentuk dan media. Tak ada batasan bagi emas untuk bertransformasi. Benda ini tetap mampu membiaskan keelokannya sebagai logam berkasta tinggi.

Tetapi di luar itu, ternyata emas juga mempunyai “keindahan” lain. “Gold still represents the ultimate form of payment in the world." Sebagai logam mulia, emas merupakan satu-satunya benda yang bisa menjadi alat pembayaran yang diterima secara universal. Emas yang memiliki sifat kalis inflasi, dapat dijadikan produk alternatif sumber investasi.

Salah atu pemicu kenaikan harga emas adalah, semakin banyak negara yang menjadikan emas sebagai jenis investasi yang paling aman. Berdasarkan catatan sejarah, selama ratusan tahun, emas memang tak pernah kehilangan nilai. Bahkan harganya selalu naik seiring meningkatnya permintaan dunia. Disamping itu produk ini mampu memproteksi risiko penurunan nilai aset akibat inflasi secara alami. Pasalnya, pergerakan harga emas selalu berbanding lurus dengan tingkat inflasi. Berapa pun tingkat inflasi, harga emas akan naik lebih tinggi.

Hal ini bisa ditilik dari beberapa peristiwa pada masa lalu. Seperti yang diungkapkan oleh pakar perencana keuangan, Safir Senduk. Menurutnya, ketika Cina diserbu Jepang pada masa Perang Dunia, rakyat Cina panik dan mereka berbondong-bondong menyerbu emas sehingga harga emas naik luar biasa.

Peristiwa itu pun terjadi di Indonesia saat kerusuhan 1998 silam. Harga emas langsung mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Dalam selang satu dua hari saja, harganya langsung naik kurang lebih sebanyak 1,5 kali. Kejadian di atas tentunya semakin menguatkan fakta bahwa, bila terjadi inflasi yang cukup tinggi, maka harga emas akan naik lebih tinggi daripada laju inflasi. Jadi realisasinya, semakin tinggi inflasi maka tinggi pula kenaikan harga emas.

Sebagai gambaran, inflasi ditunjukkan dalam tiga tipe menurut keparahannya. Yaitu: Inflasi Moderat, Inflasi Ganas, dan Inflasi Hiper. Inflasi moderat terjadi apabila, laju inflasi hanya berada di bawah dua digit per tahun (di bawah 10 persen). Untuk inflaasi Ganas, berada pada dua digit per tahun (10 persen - 99 persen). Sedangkan Inflasi Hiper, adalah saat laju inflasi berada pada tiga digit per tahun (100 persen atau lebih).

Dengan demikian secara statistik ketika nilai inflasi menyentuh angka 10%, maka emas akan naik 13 %. Bila inflasi 20 persen, maka emas akan naik sebanyak 30 %. Tetapi bila inflasi mencapai 100 %, maka emas akan melonjak menjadi 200 %. Wow, sungguh menggiurkan. Dengan demikian, emas sebagai sebuah produk, menjadi alat yang cukup ampuh untuk memproteksi laju inflasi.

Tapi ada hal yang harus diketahui, harga emas akan cenderung konstan bila laju inflasi rendah. Bahkan, cenderung sedikit menurun apabila laju inflasi di bawah dua digit. Dengan demikian emas akan mempunyai nilai yang tinggi ketika terjadi inflasi moderat. Dan akan semakin tinggi lagi saat terjadi inflasi hiper.

Hebatnya lagi emas juga punya tingkat likuiditas yang baik, bisa dicairkan kapan saja. Agar emas memperoleh hasil imbal yang maksimal, alangkah baiknya jika memilih emas batangan sebagai investasi. Emas batangan menjadi produk investasi yang paling likuid dan menguntungkan. Sederhananya, ketika kita menjual emas batangan, maka nilai yang di terima relatif utuh. Dengan demikian ketika kita ingin berinvestasi dalam jangka waktu yang panjang pada emas batangan, menjadi pilihan terbaik.

Zaman sekarang, berinvestasi dalam bentuk perhiasan merupakan pilihan yang paling tidak menarik. Karena, saat membeli emas perhiasan, pembeli biasanya harus membayar ongkos pembuatan perhiasan itu. Saat perhiasan itu dijual, ongkos pembuatan tidak dihitung. Itulah yang membuat nilai jual kembali emas perhiasan lebih rendah daripada koin emas atau emas batangan.

Saat ini produk emas mampu menyesuaikan perkembangan dengan bisa diperjualbelikan sebagai komoditas di perdagangan berjangka (future trading/margin trading). Artinya kita tidak harus memegang emas tersebut secara fisik. Tetapi cukup dengan memiliki bukti administrasi atas kepemilikannya. ”Keanehan” sekaligus nilai lebih dari berinvestasi emas di Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) adalah berkurangnya risiko dan bisa menjual terlebih dahulu emas, saat harga mahal. Dan membelinya saat harga murah. Artinya, kita bisa mencari selisih jual beli dari komoditas emas yang kita perdagangkan tersebut.

Bagaimana cara untuk terjun dan merasakan atmosfir perburuan keuntungan di bursa berjangka. Langkah awalnya adalah, kita harus menyiapkan margin di muka (initial margin), dengan membuka rekening di salah satu pialang. Nilai kontrak dari itu sendiri dihitung atas nilai minimal setoran awal dengan ukuran kontrak adalah lot (1 lot = 1 kg), dan kadar emas logam mulia itu sendiri sebesar 99,99%.

Selanjutnya, nilai per kontrak (lot) akan berfluktuasi seiring dengan naik-turunnya harga emas di bursa. Kita bisa menutup posisi, meski belum saatnya jatuh tempo --dengan jalan mengambil posisi sebaliknya-- dari posisi awal Anda pada kontrak yang sama.

Sebagai penyempurnaan dari cara perdagangan di atas, akhir Desember 2006 silam, BBJ dan PT Aneka Tambang Tbk menerbitkan surat berharga emas (SBE) pada kuartal I/2007. Tindakan ini dilakukan atas dasar pertimbangan untuk menggairahkan lantai bursa itu sendiri.

Dijelaskan Direktur Utamat BBJ Hasan Zein Mahmud, kerja sama dengan BUMN pertambangan diharapkan dapat menambah likuiditas transaksi kontrak berjangka emas di lantai bursa. Selama ini yang menjadi kendala bursa adalah: sulitnya menyediakan fisik emas, sehingga membuat market maker (penentu harga) merugi dan akhirnya keluar dari bursa. Dengan menggandeng Antam, BBJ kini memiliki jaminan ketersediaan fisik emas, sehingga persoalan kelangkaan logam mulia tersebut akan teratasi. Pada gilirannya kemudian, emas menjadi salah satu pilihan investasi yang cerdas bukan hanya dilihat dari keindahannya tapi juga kegunaannya.

Bagaimana jika berinvestasi emas di tahun 2007? Boleh dibilang, tahun ini merupakan tahun pesta pora bagi investor komoditas emas. Diperkirakan, harga emas hingga kuartal kedua tahun 2007 bakal tetap tinggi. Perekaan itu berdasarkan pengalaman april 2006 silam, dimana harga emas mencetak rekor tertinggi selama hampir seperempat abad terakhir. Saat itu emas di New York Mercantile Exchange (Nymex) telah menembus harga US$ 603.10 troy ounce atau sekitar US$ 19,39 pergram. Dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, kenaikan sudah mencapai 40%. Bayangkan, dalam setahun investasi mana yang bisa memberi keuntungan segitu besar?

Salah atu pemicu kenaikan harga emas adalah, semakin banyak negara yang menjadikan emas sebagai jenis investasi yang paling aman. Cina, misalnya, beberapa tahun terakhir menjadikan emas sebagai cadangan devisa negara.


No comments:

Post a Comment