
Cara Kerja Orang Jepang
Pencapaian Jepang dalam bidang ekonomi sangat mengagumkan. Siapa pun pasti tidak menduga, sebuah bangsa yang tidak berfisik besar dapat mengalahkan bangsa Barat yang dikenal lebih maju dan beradab. Mengapa hal itu bisa terjadi?
Setelah Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak terkena bom atom sekutu (Amerika), perlahan namun pasti, Jepang berhasil bangkit. Untuk membangun kembali semangat bangsa Jepang terutama perekonomian, rakyat Jepang mencari peluang kerja baru untuk menghasilkan produk bermutu. Caranya, mereka mendatangkan ahli dari Amerika Serikat dan diolah kembali oleh ahli Jepang agar sesuai aspek budaya Jepang.
Langkah berikutnya, Jepang mengimpor beragam buku dari barat, kemudian diterjemahkan dalam bahasa Jepang. Seiring dengan dibangunnya institut penerjemahan, terjemahan buku-buku import kedalam bahasa Jepang, sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan. Kemudian, mengirim tim pengusaha Jepang ke Amerika dan belajar beragam disiplin ilmu. Setelah ilmu diserap, mereka meniru ciptaan Barat dan berusaha memperbaikinya sehingga menjadi barang yang lebih baik, bermutu tinggi dan sesuai dengan kehidupan masyarakat Asia.
Harus diakui, bangsa Jepang memiliki keberanian, keyakinan, disiplin dan komitmen kerjanya sangat tinggi. Mereka berusaha bekerja sungguh-sungguh dan terus belajar mencari peluang baru. Tak heran jika rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun. Dan itu sangat tinggi bila dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), serta Perancis (1680 jam/tahun). Akibatnya, fenomena Karoshi (mati karena kerja keras) mungkin hanya ada di Jepang. Sebagian besar literatur menyebutkan bahwa; dengan kerja keras inilah sebenarnya kebangkitan dan kemakmuran Jepang bisa tercapai.
Untuk tata ruang kantor khas Jepang: mulai pimpinan hingga staf teknis duduk pada satu ruangan yang sama - tanpa sekat. Semua bisa melihat bahwa semuanya bekerja. Satu orang membaca koran, pasti akan ketahuan. Semua sistem perkantoran berlandaskan kejujuran, kerja keras, inovasi, kreatif dan pantang menyerah. Dengan itu, mereka percaya akan cepat maju dan meningkat, sekaligus sangat efisien.
Contoh lain di supermarket. Bila seorang customer menanyakan sebuah barang, petugas supermarket tak sekadar menunjukkan dimana letak barang itu berada. Tapi langsung mengantar dan memastikan customer memegang barang yang dicarinya. Setelah itu, petugas kembali ke posisi semula. Hal itu tidak berarti jumlah petugas supermarket di Jepang demikian banyaknya hingga mereka berkesempatan jalan-jalan di dalam supermarket yang sangat besar. Justru sebaliknya, jumlah petugas selalu sesuai dengan kebutuhan, dan mereka selalu bergerak seperti semut.
Selain kerja keras, loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa. Orang Jepang, sangat jarang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan.
Terakhir, Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja bersifat individualistik. Kerja dalam kelompok menjadi salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa: “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok”. Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan rin-gi adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam rin-gi. Bagaimana dengan Indonesia?
Pencapaian Jepang dalam bidang ekonomi sangat mengagumkan. Siapa pun pasti tidak menduga, sebuah bangsa yang tidak berfisik besar dapat mengalahkan bangsa Barat yang dikenal lebih maju dan beradab. Mengapa hal itu bisa terjadi?
Setelah Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak terkena bom atom sekutu (Amerika), perlahan namun pasti, Jepang berhasil bangkit. Untuk membangun kembali semangat bangsa Jepang terutama perekonomian, rakyat Jepang mencari peluang kerja baru untuk menghasilkan produk bermutu. Caranya, mereka mendatangkan ahli dari Amerika Serikat dan diolah kembali oleh ahli Jepang agar sesuai aspek budaya Jepang.
Langkah berikutnya, Jepang mengimpor beragam buku dari barat, kemudian diterjemahkan dalam bahasa Jepang. Seiring dengan dibangunnya institut penerjemahan, terjemahan buku-buku import kedalam bahasa Jepang, sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan. Kemudian, mengirim tim pengusaha Jepang ke Amerika dan belajar beragam disiplin ilmu. Setelah ilmu diserap, mereka meniru ciptaan Barat dan berusaha memperbaikinya sehingga menjadi barang yang lebih baik, bermutu tinggi dan sesuai dengan kehidupan masyarakat Asia.
Harus diakui, bangsa Jepang memiliki keberanian, keyakinan, disiplin dan komitmen kerjanya sangat tinggi. Mereka berusaha bekerja sungguh-sungguh dan terus belajar mencari peluang baru. Tak heran jika rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun. Dan itu sangat tinggi bila dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), serta Perancis (1680 jam/tahun). Akibatnya, fenomena Karoshi (mati karena kerja keras) mungkin hanya ada di Jepang. Sebagian besar literatur menyebutkan bahwa; dengan kerja keras inilah sebenarnya kebangkitan dan kemakmuran Jepang bisa tercapai.
Untuk tata ruang kantor khas Jepang: mulai pimpinan hingga staf teknis duduk pada satu ruangan yang sama - tanpa sekat. Semua bisa melihat bahwa semuanya bekerja. Satu orang membaca koran, pasti akan ketahuan. Semua sistem perkantoran berlandaskan kejujuran, kerja keras, inovasi, kreatif dan pantang menyerah. Dengan itu, mereka percaya akan cepat maju dan meningkat, sekaligus sangat efisien.
Contoh lain di supermarket. Bila seorang customer menanyakan sebuah barang, petugas supermarket tak sekadar menunjukkan dimana letak barang itu berada. Tapi langsung mengantar dan memastikan customer memegang barang yang dicarinya. Setelah itu, petugas kembali ke posisi semula. Hal itu tidak berarti jumlah petugas supermarket di Jepang demikian banyaknya hingga mereka berkesempatan jalan-jalan di dalam supermarket yang sangat besar. Justru sebaliknya, jumlah petugas selalu sesuai dengan kebutuhan, dan mereka selalu bergerak seperti semut.
Selain kerja keras, loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa. Orang Jepang, sangat jarang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan.
Terakhir, Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja bersifat individualistik. Kerja dalam kelompok menjadi salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa: “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok”. Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan rin-gi adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam rin-gi. Bagaimana dengan Indonesia?
No comments:
Post a Comment