Friday, 24 October 2008

Menggenggam Untung Dari Tumbuhan


Biofuel


Selain dapat meningkatkan industri dalam negeri dan mengurangi impor bahan bakar minyak, pengembangan bio-energi dapat menciptakan lapangan kerja. Lahan tandus dapat kembali diolah, ditanami bahan baku bioenergi, sehingga arus urbanisasi ke kota dapat ditekan.  
 
Seiring dengan kebutuhan, tingkat manipulasi energi oleh manusia kian besar. Hal ini tak pelak menuntut pengeksploitasian sumber-sumber energi yang semakin gencar. Namun, pengeksploitaasian itu masih terbatas pada energi tak terbarukan, seperti minyak bumi, gas alam, dan batu bara.

Sungguh sangat disayangkan, sumber energi yang selama ini selalu menjadi primadona itu akan segera habis. Sedangkan kebutuhan energi senantiasa meningkat tiap saatnya. Dua hal yang saling bertentangan. Lalu, apa solusinya?

Dari berbagai macam masalah yang terjadi dalam penggunaan bahan bakar fosil terutama Bahan Bakar Minyak (BBM), sudah saatnya sumber energi baru yang terbarukan sekaligus ramah lingkungan dikembangkan. Bioetanol dan Bioenegi merupakan alternatif penyedia energi dunia.

Bioetanol merupakan senyawa alkohol yang diperoleh lewat proses fermentasi biomassa dengan bantuan mikroorganisme. Bahan baku pembuatan bioetanol dapat berupa ubikayu, jagung, ubijalar, dan tebu. Semuanya merupakan tanaman penghasil karbohidrat yang sangat mudah ditemukan di Indonesia karena iklim dan keadaan tanah Indonesia yang mendukung pertumbuhan tanaman tersebut.

Sedangkan biodiesel digunakan dalam bidang industri untuk menggantikan peran solar sebagai bahan bakar. Selain ramah lingkungan, teknologinya yang lebih mudah, serta relatif lebih murah. Bahan baku pembuatan biodiesel bisa minyak sawit dan minyak jarak yang diolah menjadi Pure Plant Oil dan Bio Diesel yang dapat menggantikan minyak solar.

Di Indonesia, ubi kayu dinilai sebagai sumber karbohidrat yang paling potensial untuk diolah menjadi bioetanol. Hal ini karena ubikayu memiliki daya tahan yang tinggi terhadap penyakit,dapat diatur waktu panennya serta dapat tumbuh di tempat yang kurang subur. Namun, kadar patinya tergolong rendah (30%)-bandingkan dengan jagung (70%) dan tebu (55%).

Brazil merupakan negara yang telah berhasil mengembangkan bioetanol. Di Brazil pada tahun 1990-an, etanol telah menggantikan 50% kebutuhan bensin untuk keperluan transportasi. Dari angka ini, bioetanol telah mampu menurunkan emisi CO2 hingga 18%.



Prospek pengembangan

Kebutuhan energi yang tinggi dengan daya beli masyarakat Indonesia yang rendah dapat diatasi dengan penggunaan bioetanol. Pasalnya, biaya produksi bioetanol cenderung lebih murah bila dibandingkan dengan bensin.

Bioetanol merupakan komoditas yang menjanjikan bagi Indonesia. Paling tidak ada tiga faktor yang menyebabkan cerahnya prospek pengembangan bioetanol. Faktor-faktor itu antara lain adalah: 1. kebutuhan energi yang tinggi dengan daya beli yang kecil dari masyarakat, 2. mudahnya mendapatkan bahan baku dengan harga yang murah, 3. ketersediaan lahan yang relatif memadai.

Menurut Drs. Indra Winarno, MSi., Komisaris Utama PT Molindo Raya Industrial, bila usaha bioetanol dan biodiesel yang kini ia geluti, sudah banyak digunakan beberapa SPBU di Jakarta dan Surabaya. “Jadi, kami menjual dulu ke Pertamina,” katanya.

Lelaki penggemar musik jazz ini menyatakan, Indonesia sudah tertinggal jauh dari Brazil yang lebih dahulu berjuang keras memproduksi bioetanol dan biodisel. “Ketika krisis moneter, Brazil berhasil bangkit menjadi negara kaya nomor satu di dunia untuk masalah minyak,” ujarnya.

Lebih jauh ia mengatakan, bioethanol yang ia produksi berasal dari tanaman-tanaman menggandung gula. Diantaranya: tetes tebu, sagu, jagung dan singkong. Namun diantara bahan-bahan tersebut, lanjut Indra, tetes tebu dan singkong memiliki peluang paling besar untuk dikembangkan secara massal. “Tetes tebu merupakan sisa dari pabrik pembuatan gula yang biasanya dibuang atau dibuat pupuk oleh petani,” ujarnya.

Diakui Indra, tujuh tahun sudah ia melakukan penelitian untuk bisa memproduksi bahan bakar alternatif pengganti Bahan Bakar Minyak (BBM) bensin yang berasal dari fosil. “Sekarang, mobil-mobil di pabrik, sudah mengunakan bioetanol,” tuturnya. Dan, “Kita perusahaan pertama di Indonesia pembuat Bioethanol untuk bahan bakar kendaraan sejak tahun 2003, yang di campur dengan premium maupun pertamax,” ucapnya bangga.

Bicara biaya produksi bioetanol, sangat dipengaruhi oleh bahan bakar yang digunakan dalam proses produksinya. Saat ini, Pada kapasitas produksi bioetanol 60 kiloliter per hari, biaya pokok produksinya Rp 2.400. Sementara itu, dengan harga minyak mentah mendekati 60 dollar AS per barrel, biaya pokok produksi BBM meningkat mendekati Rp 4.000 per liter.

Brazil merupakan negara yang mampu memproduksi bioetanol dengan harga termurah. Ini karena listrik dan steam yang digunakan dalam proses dapat dipenuhi melalui pembakaran ampas tebu, sehingga biaya produksinya cuma separuh harga bensin.

Di lain pihak, dengan produktifitas rata-rata bioetanol 5.000 liter/ha per- tahun, jika diasumsikan konsumsi seluruh bensin sebesar 16 juta kilo per-tahun dapat diproduksi dengan budidaya bahan baku seluas 3,2 juta hektar saja (1,7% dari luas daratan Indonesia). Jika dalam waktu dekat ini, bahan baku serat selulosa (jerami dan sejenisnya) dapat bersaing dengan pati-patian dan gula, jumlah lahan yang digunakan menjadi lebih sedikit. Selain itu, di Indonesia dengan lautnya yang luas berpotensi dibudidayakan ganggang laut yang juga dapat menjadi bahan baku bioetanol.

Prospek bisnis.

Dilihat dari segi bisnis, bioetanol mempunyai prospek yang bagus. Sebagai gambaran, biaya investasi kilang bioetanol kapasitas 100 kL/hari berkisar antara Rp 2-3 milyar per-kiloliternya. Dengan harga etanol yang dihitung sama dengan bensin saja, pembangunan 1 pabrik ukuran ini akan menghemat devisa untuk impor bensin sebesar 33.000 kL/tahun x Rp 5.450,- /liter atau Rp 179.850.000.000,-.

Dari sudut pandang pemerintah, penggunaan bioetanol juga sangat menguntungkan. Dengan asumsi subsidi untuk BBM Rp 89.2 triliun dan seperempat BBM kita adalah bensin, maka diperoleh angka Rp 22,3 triliun yang dapat digunakan untuk membangun pabrik bioetanol 89 buah @ kapasitas 100 kL/hari.

Bioetanol yang dihasilkan adalah 2.937.000 kL/tahun atau mensubsitusi hampir 20 % kebutuhan bensin di tanah air dengan penghematan devisa Rp 89,2 triliun. Ini nantinya akan berdampak pada tersedianya lapangan pekerjaan besar-besaran bagi masyarkat, terutama karyawan pabrik maupun petani.Butuh kebijaksanaan pemakaian.

Terlepas dari analisa bagusnya prospek pengembangan bioetanol dan biodiesel, masyarakat, pelaku bisnis dan pemerintah diwajibkan untuk bijaksana dalam mengambil langkah. Selain kebaikan-kebaikan yang telah dipaparkan ternyata pengembangan bioetanol dan biodiesel disinyalir mempunyai kekurangan.

Kekurangan tersebut antara lain adalah:
1.Penggunaan karbohidrat yang besar berpotensi untuk menyaingi kebutuhan makanan pokok,
2.Berpotensi menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati melalui monokultur bahan baku berikut praktek-praktek pertanian yang merusak kualitas lahan
3.Penggunaan lahan yang besar berpotensi terhadap pembukaan lahan (sangat mungkin hutan).

Melihat beberapa kelebihan dan kekurangan yang dimiliki bioetanol dan biodiesel, sudah saatnya Indonesia menggunakan kedua jenis bahan bakar alternatif tersebut. Akan tetapi harus diimbangi dengan perundang-undangan yang baik serta pengembangan teknologi yang sepadan. Pada masa yang akan datang diharapkan bahan baku bioetanol dan biodiesel lebih banyak berasal dari selulosa (missal: limbah kayu hasil penggergajian) maupun ganggang. Alasannya, tidak berpotensi bersaing dengan kebutuhan pangan pokok serta tidak memerlukan pembukaan lahan yang besar di daratan.

(Haris Maryasno. Sudah dipublikasikan di Majalah Prioritas BCA-2007)

No comments:

Post a Comment