Pentingnya mengendalikan kolesterol untuk menghindari faktor-faktor risiko terkena penyakit jantung koroner.
Mulanya, merasakan nyeri di dada. Namun, karena keluhan tersebut dianggap sepele dan kerap diabaikan, suatu saat bisa berakibat fatal. Sang pasien meninggal dunia karena terkena serangan jantung, yang disebabkan penyakit jantung koroner.
Seperti dijelaskan Prof. Dr. dr. Budhi Setianto, Sp.JP (K), Divisi Preventive and Rehabilitation di Pusat Jantung Nasional, Slipi, Jakarta, “ Untuk mendeteksi dini seseorang terkena penyakit jantung sesungguhnya mudah.” Yaitu, diawali gejala sakit di dada, berdebar, sesak napas, serta pingsan mendadak. Bila sakit di dada lebih dari 20 menit, ia menyarankan agar segera dibawa ke rumah sakit yang bisa menangani masalah jantung. Ketidakpahaman orang mengenai hal ini, membuat angka kematian akibat serangan jantung sepertiganya terjadi di luar rumah sakit.
Lantas, apa itu Penyakit Jantung Koroner (PJK)? Pada PJK terjadi penyempitan pembuluh darah koroner, yaitu pembuluh darah yang menyediakan/mensuplai darah dan oksigen untuk otot jantung. Penyempitan ini terjadi karena proses aterosklerosis atau terjadi penebalan dari dinding pembuluh darah arteri akibat kolesterol dan lemak yang mengendap di dinding bagian dalam arteri.
Kolesterol merupakan komponen asam lemak dalam darah. Zat ini sangat diperlukan tubuh untuk proses-proses tertentu bagi kelangsungan hidup. Di antaranya untuk membentuk hormon, membentuk sel, dan merawat sel-sel saraf.
Namun, dalam jumlah berlebih kolesterol menjadi ancaman serius bagi tubuh, bahkan bisa menyebabkan kematian. Penyakit yang disebabkan kolesterol antara lain aterosklerosis (penyempitan pembuluh darah), penyakit jantung koroner, stroke, tekanan darah tinggi, dan hiperkolesterolemia.
Lebih lanjut, Budhi mengingatkan agar masyarakat menjalankan pola hidup sehat. Sarannya, menghindari factor-faktor risiko penyebab timbulnya penyakit jantung seperti merokok, konsumsi makanan berlemak dan olahraga tidak teratur, hingga stress. “Dari segi biayanya pun lebih ekonomis dalam pencegahan daripada pengobatan,” katanya. Penyakit jantung koroner ini, dua kali lebih besar mengancam orang-orang yang mempunyai kadar kolesterol 200-240 mg persen dibandingkan mereka yang kadarnya di bawah 240 mg persen.
Namun, bagaimana bila pasien tak mampu beli obat jantung yang harganya relatif mahal? Tak ada salahnya untuk menggunakan Obat Generik Berlogo (OGB). Menurut pengalaman Budhi, pemberian OGB kepada pasien tak bermasalah. Pasalnya, “OGB ini memang disediakan untuk masyarakat sebagai obat alternatif dengan harga terjangkau, namun khasiatnya diakui,” ujarnya.
“Soal mutu, OGB tak perlu diragukan selama diproduksi mengikuti CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik),” tekan Budhi.
Dimuat:Koran Tempo, 11 Juli 2007, hal. B5
Seperti dijelaskan Prof. Dr. dr. Budhi Setianto, Sp.JP (K), Divisi Preventive and Rehabilitation di Pusat Jantung Nasional, Slipi, Jakarta, “ Untuk mendeteksi dini seseorang terkena penyakit jantung sesungguhnya mudah.” Yaitu, diawali gejala sakit di dada, berdebar, sesak napas, serta pingsan mendadak. Bila sakit di dada lebih dari 20 menit, ia menyarankan agar segera dibawa ke rumah sakit yang bisa menangani masalah jantung. Ketidakpahaman orang mengenai hal ini, membuat angka kematian akibat serangan jantung sepertiganya terjadi di luar rumah sakit.
Lantas, apa itu Penyakit Jantung Koroner (PJK)? Pada PJK terjadi penyempitan pembuluh darah koroner, yaitu pembuluh darah yang menyediakan/mensuplai darah dan oksigen untuk otot jantung. Penyempitan ini terjadi karena proses aterosklerosis atau terjadi penebalan dari dinding pembuluh darah arteri akibat kolesterol dan lemak yang mengendap di dinding bagian dalam arteri.
Kolesterol merupakan komponen asam lemak dalam darah. Zat ini sangat diperlukan tubuh untuk proses-proses tertentu bagi kelangsungan hidup. Di antaranya untuk membentuk hormon, membentuk sel, dan merawat sel-sel saraf.
Namun, dalam jumlah berlebih kolesterol menjadi ancaman serius bagi tubuh, bahkan bisa menyebabkan kematian. Penyakit yang disebabkan kolesterol antara lain aterosklerosis (penyempitan pembuluh darah), penyakit jantung koroner, stroke, tekanan darah tinggi, dan hiperkolesterolemia.
Lebih lanjut, Budhi mengingatkan agar masyarakat menjalankan pola hidup sehat. Sarannya, menghindari factor-faktor risiko penyebab timbulnya penyakit jantung seperti merokok, konsumsi makanan berlemak dan olahraga tidak teratur, hingga stress. “Dari segi biayanya pun lebih ekonomis dalam pencegahan daripada pengobatan,” katanya. Penyakit jantung koroner ini, dua kali lebih besar mengancam orang-orang yang mempunyai kadar kolesterol 200-240 mg persen dibandingkan mereka yang kadarnya di bawah 240 mg persen.
Namun, bagaimana bila pasien tak mampu beli obat jantung yang harganya relatif mahal? Tak ada salahnya untuk menggunakan Obat Generik Berlogo (OGB). Menurut pengalaman Budhi, pemberian OGB kepada pasien tak bermasalah. Pasalnya, “OGB ini memang disediakan untuk masyarakat sebagai obat alternatif dengan harga terjangkau, namun khasiatnya diakui,” ujarnya.
“Soal mutu, OGB tak perlu diragukan selama diproduksi mengikuti CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik),” tekan Budhi.
Dimuat:Koran Tempo, 11 Juli 2007, hal. B5

Terima kasih atas infonya...
ReplyDeleteSangat bermanfaat...
Blog yang bagus...
ReplyDeleteSalam kenal..