Friday, 24 October 2008

Perhiasan Dari Masa Ke Masa


Dibalik Cerita Cangkang Kerang

Menghiasi tubuh dengan perhiasan sudah digemari wanita sejak manusia purba. Seperti apa bentuk perhiasannya?

Seorang peneliti asal Norwegia, Christopher Henshilwood, sungguh terkagum-kagum heran, melihat puluhan cangkang kerang siput ciptaan Tuhan yang ditemukannya di sebuah goa Blombos, Afrika Selatan. Cangkang kerang ini menurut Henshilwood telah membawa berita bagus bahwa manusia purba pun sudah memiliki insting untuk menghias dirinya.

Rumah kerang siput laut Nassarius kraussianus yang banyak ditemukan pada lapisan goa berusia 75.000 tahun itu, menurut Henshilwood, dilubangi dengan cara yang sama, seperti untuk dirangkaikan menjadi kalung atau gelang.

Henshilwood menyatakan dalam laporan jurnal ilmiah Science menduga, cangkang-cangkang itu memang digunakan untuk kalung atau gelang. Ini juga menunjukkan bahwa spesies manusia, Homo sapiens, sudah aktif secara artistik membuat hiasan diri sekitar 35.000 tahun silam. Masa itu adalah masa di mana diketahui manusia purba mulai membuat lukisan di dinding, seperti yang ditemukan di goa-goa di selatan Eropa.

Kesukaan manusia sejak masa purba terhadap perhiasan bukan hal baru. Menurut Sumarah Adhyatman dan Redjeki Arifin mencatat di dalam buku Manik-manik di Indonesia, juga ditemukan penggunaan perhiasan emas dan manik-manik sejak zaman prasejarah. Peristiwa sejarah ini bisa ditemukan di beberapa kuburan batu yang menyimpan perhiasan dengan perkakas dari besi, perungu dan perhiasan dari masa tahun 400 sebelum Masehi. Benda benda itu bisa ditemukan di daerah: Pasemah, Sumatera, Gunung Kidul, Jawa Tengah, di Besuki, Jawa Timur, dan di Gilimanuk, Bali.

Bukti penggunaan perhiasan dari manik-manik pada masa lalu, diakui Adhyatman dan Arifin, juga terdapat pada relief Candi Borobudur yang berasal dari abad kesembilan Masehi. Sementara pada masa Kerajaan Majapahit (1293-1527) perhiasan dalam bentuk kalung dan giwang menjadi bagian yang penting pada kelompok kalangan terhormat dan bangsawan.

Di dalam buku Majapahit Terracotta Art (Dian Rakyat, 1977) tertulis, para perempuan Majapahit sudah sadar mode yang diperlihatkan oleh berbagai gaya rambut dan perhiasan para perempuan Majapahit. Sebuah patung terakota yang memperlihatkan giwang bulat berukuran besar serta kalung manik, dipakai ketat pada leher. Sementara patung kepala lain dengan ukiran cukup detail memperlihatkan seorang perempuan dengan posisi sosial cukup tinggi mengenakan mahkota serta giwang berbentuk bunga dengan lima helai daun yang terbuat dari emas.

Gerakan kesenian baru Art Nouveau di Eropa, menjadi media psikologi kepada pemahaman orang terhadap disain batuan berharga, antara abad ke 19 dan 20. Karakteristik perhiasan yang sangat menonjol di era ini adalah cenderung untuk asimetri. Tujuannya untuk memberi rasa ketidakstabilan yang diperkuat dengan bentuk lengkung dan sulur. Bentuk lain yang banyak muncul pada era itu adalah sosok perempuan. Baik dalam bentuk perempuan sebagai bunga atau perempuan penggoda.

Dalam gerakan Art Nouveau, disain menjadi lebih penting dibandingkan dengan nilai perhiasan secara materi. Sebuah perhiasan dinilai lebih berharga karena bentuk, warna, dan teksturnya. Karena itu, perhiasan tidak selalu terbuat dari logam mulia dan batuan berharga. Ciri khas perhiasan Art Nouveau, menggabungkan Enamel, perak, campuran timah putih dan timah hitam, opal, kerang mutiara (mother-of pearl), dan tanduk, dengan logam dan batuan berharga seperti emas, zamrud, dan berlian.

Akhirnya dengan seiring perkembangan zaman, kenikmatan untuk menghias diri tak pernha surut. Akan tetapi yang berubah adalah, cara pandang manusia terhadap perhiasan sesuai perkembangan dan keinginan zaman.

(Haris Maryasno. Tulisan ini sudah dipublikasikan di Majalah Prioritas BCA-2007)

No comments:

Post a Comment