Friday, 24 October 2008

Riwayat Pendongkrak Imej


Custome Jewelry
Anda penikmat perhiasan yang ingin memiliki berlian namun kemampuan finansial terbatas? Kini impian Anda bisa menjadi kenyataan, dengan hadirnya kilau permata layaknya seperti berlian.

Bila di Eropa Barat dan Amerika nama-nama besar seperti Cartier, Van Cleef and Arpels, dan Coco Chanel, sudah sejak lebih separuh abad lalu membuat desain perhiasan yang mengikuti selera zaman. Pun begitu di Indonesia, desain perhiasan mengikuti selera zaman namun perkembangannya, jauh lebih lambat.

Harus diakui, jika bisnis aksesori perhiasan, tak bisa lepas dari tokoh mode dunia. Coco Chanel (1883-1971) yang hidup di Prancis, misalnya. Sebagai kiblat mode, tahun 1920, Chanel sudah menciptakan costume jewelry untuk keperluan memadupadankan karya busananya. Hasilnya, luar biasa. dengan menggunakan aksesori replika, adibusananya semakin berkibar dan merajalela sampai ke seluruh dunia. Tak heran bila orang tidak sekadar mencari busana Chanel, tapi aksesorisnya juga.

Begitu pula di Amerika. Otsby dan Barton, pakar aksesori perempuan asal negeri Paman Sam mengklaim, jika mereka orang pertama membuat dan mempopulerkan aksesori pda tahun 1917. Tapi sayangnya, kedua orang ini kalah pamor dengan nama besar Chanel. Padahal, hasil karya Otsby dan Barton ketika itu lumayan hebat. Mereka berani memakai batu mulia dengan ikatan emas. Berkat kelihaian mereka berdua, membuat masyarkat Amerika demam costume jewelry. Alasan memakai aksesori itu, membuat nyaman pengguna dibandingkan terbuat dari berlian.

Costume jewelry adalah aksesori yang serasi dipakai di mana pun. Bisa diajak kompromi dan pantas tampil dalam event mana pun, bahkan untuk santai sekali pun.

Perkembangan custome jewelry di luar negeri begitu maju. Mereka memiliki penggemar yang saling menghargai. Begitu juga pencintanya selalu menunggu hasil karya para hobiis yang terbaik. Pada umumnya, ada waktu-waktu tertentu digelar lelang. Inilah yang ditunggu kolektor costume jewelry untuk berburu dan menambah koleksi di kotak perhiasan.

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Para penggemar costume jewelry di Indonesia cukup banyak. Mereka kebanyakan kaum berkecukupan. Awalnya mereka melihat ketika berada di luar negeri, bahwa custome jewelry, ternyata tak kalah indah dan menawan dibandingkan dengan yang terbuat dari berlian.

Ditambah lagi harganya yang lebih murah dibandingkan dengan yang terbuat dari intan. Akibatnya, bila para ibu-ibu berduit piknik keluar negeri, mereka membawa oleh-oleh ”perhiasan imitasi” itu.

Dari peristiwa ini kemudian menyebar dan banyak peminat yang memesan pada mereka yang suka shopping ke luar negeri. Mulailah era costume jewelry populer di Indonesia. Tapi karena mereka membeli di luar negeri maka harga jualnya menjadi mahal. Akhirnya, kenapa tak membuat produk dalam negeri sehingga harganya bisa ditekan? Toh banyak referensi yang menuntun bagaimana cara membuat dan di mana saja bahan-bahan itu diperoleh.

Bisnis Custome Jewelry

Pada awalnya, aksesori itu dipakai untuk diri sendiri. Biasanya untuk mengganti perhiasan berlian yang terkesan mewah. Dengan memakai costume jewelry di pesta-pesta resmi mereka agak enteng perasaannya, tak takut dijambret. Costume jewelry tak kalah menarik dengan jenis perhiasan lain. Bahkan seorang perempuan dengan pakaian daerah pun, tampak anggun jika mengenakannya.

Di Indonesia, bisnis costume jewelry sudah booming sejak lima tahun lalu. Hal ini terjadi, juga banyaknya para penghobi perhiasan menciptakan kreasi baru untuk digunakan sendiri. Rasa kepuasan pun muncul ketika koleksinya itu “dilirik” orang yang berminat memilikinya. Biasanya miliknya itu dilepas saat diiming-imingi uang pengganti. Di sinilah kemudian penggemar itu membuat lagi sehingga kegemarannya jadi bisnis yang menggiurkan.

Selain itu, ada lagi tipe orang yang gemar membuat untuk diri sendiri dengan bentuk nan rumit. Biasanya, karyanya itu dihiasi bahan-bahan cukup mahal. Unsurnya dari batu mulia (safir, rubi, emerald dan sebagainya), mutiara dan kristal. Tapi biasanya koleksinya itu akan pindah tangan pula jika ditawari harga tinggi. Atau ada juga yang membuat untuk dihadiahkan pada seseorang.

Nilai sebuah perhiasan ditentukan dari warna, desain, cutting dan kilau yang dipancarkannya. Semakin banyak cutting, akan semakin menentukan kecemerlangan batu. Perhiasan bebatuan lebih banyak dibeli untuk keperluan fesyen dan koleksi.

Dunia mode bertabur gemerlap kilau batu mulia, tak hanya sebagai pemanis penampilan. Akan tetapi lebih menunjukkan pada jati diri dan karakter si pemakai. Julukan sang pendongkrak imej, bukan sekadar bualan. Dengan hadirnya kilau permata yang menghiasi tubuh si pemakai, citra prestisius dan trendi langsung menyertai.

Melihat prilaku ini, langsung dilirik para industri perhiasan dunia mengincar konsumen Indonesia. Beberapa produsen perhiasan terkemuka, langsung membidik Indonesia. Tujuannya, selain mengejar volume penjualan, juga memperkuat citra internasional. Pasalnya, masyarakat perkotaan pasti sudah tak asing lagi dengan beberapa merk merek perhiasan seperti: Cartier, Felice, Folli Follie, Diamantez dan Korleoff.

Sebut saja produsen perhiasan yang masuk ke Indonesia, Tiffani & Co, Felice Jewelry dan Kong Fook. Butik perhiasan Tiffani & Co asal New York ini membuka gerainya di Plaza Indonesia Jakarta dengan beberapa koleksi fine jewelry berbahan Platinum, emas dan berlian. Sedangkan Feclice Jewelry dan Kong Fook asal Singapur, mengandalkan koleksi perhiasannya terbuat dari emas dan platinum.

Para industriawan pendongkrak imej asal luar negeri tak salah jika membidik pasar konsumen di Indonesia. Pasalnya, negara dengan jumlah penduduk lebih dari 220 juta ini merupakan pangsa pasar sangat besar . Belum lagi ditambah tingkat konsumerisme masyarakat cukup tinggi. Hal tersebut membuat trend aksesori semakin meluas di antara kaum social Indonesia. (

Haris Maryasno. Tulisan ini sudah dipublikasikan di Majalah PRioritas BCA-2007)

No comments:

Post a Comment