Friday, 24 October 2008

Si Ompong Kembali Tertawa


Dental Implan


Dental Implan merupakan pilihan yang semakin populer untuk menggantikan gigi yang hilang saat ini. Implan dapat langsung ditanam ke tulang rahang dan berfungsi seperti akar gigi.

Jumlah dental implan meningkat tajam dari tahun 1993 sampai saat ini. Lebih dari 700.000 dental implan dipasang di USA dalam setahun. Sedangkan di Indonesia data yang pasti belum ada, tapi terjadi peningkatan tajam dalam lima tahun terakhir.

Produksi dan pemakaian implant semakin meningkat dewasa ini. Peningkatan produksi dan pemakaian implan ini dipicu oleh beberapa faktor:
1.Bertambahnya umur harapan hidup.
2.Membaiknya ekonomi secara global.
3.Pertambahan umur meningkat-kan jumlah penduduk yang kehilangan gigi.
4.Kesadaran masyarakat akan estetika semakin meningkat.
5.Kesadaran masyarakat akan keunggulan implan bila dibanding dengan protesa (gigi palsu) biasa.
6.Kegagalan dari mahkota dan jembatan gigi (crown and bridge).
7.Protesa lepasan yang kurang nyaman dan merepotkan karena harus dibuka dan dipasang.

Apakah dental implan itu?
Implan merupakan suatu bahan yang ditanam dalam tubuh dengan cara pembedahan untuk menggantikan fungsi suatu organ tubuh. Pada rahang yang tidak bergigi dapat ditanam suatu implan yang menggantikan fungsi akar gigi asli. Jadi dapat diartikan dental implan adalah suatu alat yang ditanamkan kedalam jaringan lunak atau tulang rahang melalui pembedahan dan berguna untuk memberikan dukungan serta retensi untuk restorasi gigi atau dengan kata lain merupakan protesa yang mempunyai akar palsu.

Implan umumnya terbuat dari titanium, sejenis metal yang dapat ditoleransi tubuh. Semakin lama, tulang rahang akan menyatu dengan implan lewat suatu proses yang dikenal sebagai osteointegrasi. Di atas implan kemudian dipasang crown (jaket) untuk kehilangan satu gigi, bridge (jembatan) untuk kehilangan lebih dari satu gigi, atau protesa yang berfungsi sebagai mahkota gigi.
Kelebihan Implan? Implan menjadi pilihan yang lebih baik dibandingkan protesa konvensional karena:
- Implan mirip gigi asli.
- Protesa lepasan tidak nyaman dipakai karena terasa ada benda asing di mulut. Sebagian besar pasien tidak
betah memakainya.
- Protesa lepasan sebagian walau cukup stabil tapi merepotkan. Karena harus dibuka setiap hari dan dapat
menyebabkan gigi sebelahnya berlubang, karena makanan sering terselip antara gusi dan gigi palsu. Pada
protesa penuh tanpa gigi cenderung tidak stabil, implan membantu menyangga protesa pada tempatnya
- Saat gigi hilang,tulang rahang akan menyusut. Implan dapat memperlambat proses ini.
- Implan stabil mendukung crown & bridge tanpa perlu mengasah kedua gigi sehat di samping gigi yang
hilang.

Sakitkah Pemasangan Implant?

Kebanyakan pasien mengaku sama sekali tidak sakit saat dan pasca pemasangan implant. Prosedur pemasangan implan dapat dilakukan dengan anestesi lokal maupun umum. Umumnya operasi pemasangan implan dilakukan dengan anestesi lokal sehingga pasien tetap sadar dan hanya sebagian daerah mulut yang akan dipasangi implan terasa baal. Pemasangan implan dengan anestesi umum biasanya dilakukan pada pasien yang tidak kooperatif (takut/cemas berlebihan) atau pada kasus sulit yang membutuhkan penambahan tulang yang rumit dan waktu operasi yang lama.

Kapan implan dipasang?
Implan boleh dipasang pada semua orang dewasa yang sehat (diatas 16 tahun). Implan umumnya dipasang setelah pencabutan gigi lebih dari 2 bulan. Tapi ada juga implan yang dipasang langsung setelah pencabutan gigi atau bersamaan dengan pencabutan gigi yang dikenal dengan istilah immediate implan. Pemilihan waktu pemasangan tergantung kasusnya. Pada prinsipnya bisa tidaknya implan dipasang tergantung ada tidaknya tulang sehat yang tersedia pada rahang kita. Untuk tulang yang sangat tipis dan rendah, biasanya dibutuhkan prosedur penambahan tulang (bone graft). Biasanya ini terjadi pada pasien yang sudah lama kehilangan gigi sehingga tulang menyusut (resorpsi).

Cara Pemasangan
Secara umum operasi pemasangan implan dapat dilakukan 1 atau 2 tahap, tergantung kasus dan produk implannya. Tahap 1 memasukkan implan kedalam tulang rahang. Sedangkan tahap 2 hanya membuka gusi untuk persiapan pemasangan gigi (crown) diatas implan.

Pada tahap 1, setelah implan dipasang, gusi dijahit kembali dan dibiarkan sembuh. Jahitan uumnya dibuka setelah 1 minggu. Lewat proses penyembuhan, tulang rahang akan bersatu dengan permukaan implan. Biasanya proses ini memerlukan waktu tiga bulan (prosedur normal) sampai enam bulan (prosedur penambahan tulang). Selama periode ini, gigi yang hilang diganti dengan protesa sementara sehingga kita tetap memiliki gigi. Bila penyembuhan sudah sempurna, prosedur bedah kedua dilakukan untuk membuang gusi diatas implan. Kemudian dilakukan pencetakan untuk pembuatan crown atau bridge.

Perawatan implan pada prinsipnya sama dengan perawatan gigi asli. Pemasangan implan umumnya adalah prosedur yang aman, selama dilakukan sesuai indikasi. Bahkan pasien pertama Prof.. Branemark (pakar implant terkemuka di dunia) yang dipasang implan tahun 1965 sampai sekarang (42 tahun) masih bertahan di mulut tanpa keluhan apapun.

Dari penelitian terakhir keberhasilan pemasangan implant lebih dari 90%. Adapun kegagalan implan yang mungkin terjadi karena:
- Infeksi tulang dan gusi disekitar implan bila kebersihan rongga mulut kurang diperhatikan
- Overload akibat tekanan kunyah yang terlalu besar diatas implan yang baru dipasang (sebelum
osteointegrasi terjadi)
- Pembuatan mahkota gigi yang tidak baik.Komplikasi tersebut umumnya terjadi pada individu yang
menderita penyakit sistemik seperti DM berat, osteoporosis, perokok berat, dsb. Hal ini tidak berarti pada
orang tsb tidak dapat dipasang implan, namun diperlukan kerjasama antara dokter gigi dan sejawat lain
agar kesehatan individu yang akan dipasang implan berada dalam kondisi prima sehingga mendukung
keberhasilan implan.

Tulisan ini sudah dimuat di Majalah Prioritas BCA, 2007

2 comments:

  1. Informasi yang saya dapat, di Indonesia dokter gigi yang benar-benar spesialis implan masih terbatas. Bagaimana memilih yang benar-benar ahlinya? Karena dari pengalaman saya (38th), rata-rata Dokter gigi (bukan spesialistikpun menyanggupi implan, itu justru membuat saya ragu). Saya termasuk 'calon pasien' implan pada posisi gigi L3, tapi tidak punya keberanian ketemu Drg lagi karena trauma dg treatment masa lalu. Ketakutan saya setara dengan, fenomena 'tukang gigi' yang marak praktek di tepi-tepi jalan dan selalu menyanggupi semua bentuk keluhan dan perawatan gigi diluar batas keahliannya, misal crown, bridge, dll. Sangat ironis, dengan enteng rata-rata akan bilang," Saya bisa,kita coba dulu... Bila nantinya ada keluhan (baca: gagal)dan saya tidak bisa, saya hubungkan dengan dokter lain."
    Waduuh!!
    Ini yang saya alami.Buat 'gigi' kok coba-coba...
    Begini kisahnya.
    Gigi saya no.3 (sisi atas antara gigi seri dan taring) posisinya agak masuk (gingsul). Karena terkena pengaruh bujukan tukang gigi (waktu itu masih SMA di Jogja), dipasanglah gigi palsu permanen di 'lem' didepannya. Selama 5 tahunan saya bertahan meski sebenarnya 'tidak nyaman'dengan begitu banyak keluhan, dan harus mondar-mandir ke dokter gigi disana.Termasuk menambah traumaku, gara-gara cabut gigi geraham di RSU Mun*****. Hanya berawal, mumpung sekalian ke dokter giginya, jadi sekali tepuk dua lalat. Eh ujung-ujungnya malah habis cabut geraham atas, ternyata diakarnya patah dan diobok-obok sisa akarny hingga tembus sampai rongga sinus, sehingga bila saya menutup mulut dan meniup, terasa udara bocor ke langit-langit. Beberapa kali harus kunjung membetulkan itu sampai di geser gusi sebelah buat di pakai menutup kekurangan (istilah Bapak Drg tsb ke Ibu Drg senior di situ yang sempat ikut menyaksikan: 'akan dia buat belalai gajah'. Saya tidak tahu adakah istilah itu di medis. Setelah sebulanan petualangan itu tanpa hasil, untunglah saya 'terkondisikan' berobat ke RS Panti Rapih Jogja, dan ditangani dengan tepat dan sangat memuaskan oleh Drg. Maskur (Bedah mulut). Terima kasih, Dok. Berkat anda, saya jadi bisa niup balon lagi. Dan tidak ngemut belalai gajah!
    Kembali ke kisah si Gingsul ya.
    Puncak kumat sakit gigi terjadi saat sudah di Jakarta. Sebegitu parahnya hingga jontor bibir dan gusi depan, maka tidak ada pilihan lain hrs diintratment. Intritment adalah istilah yang baru pertama kali saya dengar dari Drg yang menangani saya di RS Pers******** saat itu. Di waktu kemudian saya juga jadi tahu bahwa seharusnya gigi 1 disebelahnya tidak harus ikut di-intreatment. Kata-kata dokter yang selalu kuingat: "Ini syarafnya perlu dirawat..." .Kata-kata yang bagiku dan bagi banyak orang tentunya terasa nyaman. Yang ternyata arti sesungguhnya: 2 gigimu harus dibunuh!
    5 tahunan kemudian, si gingsul harus di-crown krn makin jelek itu gigi. Hanya tidak lebih dari 2 tahunan kemudian harus ganti crown oleh drg lain lagi krn tdk maksimal pemasangan tadinya (Oleh Drg.F****,Pros)di FKGM Universitas swasta terkenal di grogol. Terakhir crown (dan ditambahkan pin yang kelewatan sebelumnya) oleh drg lain lagi hingga sekarang (Drg C******,Consv)RS Her**** & Balai***....
    Tapi, selama inipun sebenarnya tersiksa. Saya serasa menggigit (maaf) bangkai tiap hari karena saya merasakan busuknya tiap hari. Kemanapun saya pergi, emoh ditinggal. Lari secepat apapun dia tidak ketinggalan dibelakang. Sangat setia menemani, bahkan sampai ke hal-hal yang sebenarnya sangat pribadi. Harus sangat sering gosok gigi dan kumur. Setiap balik ke Drg yang pasang crown terakhir itu, bahkan di rongent juga, dibilang masih bagus). Padahal dengan dental floss, sangat-sangat bahu menusuk. Bahkan saya dituduh terlalu berlebihan menanggapi masalah kecil. Kan cuma bau mulut, kata dokter. Wleleh-wleleh, cuma! Cumii kali! Saya sebenarnya pinginsecond opinion, tapi ya itu tadi...trauma. Ke dokter gigi serasa menyerahkan diri untuk rela di gorok lehernya.
    10 tahunan saya terganjal banyak urusan krn gigi ini.Banyak orang bau mulut yang minta ampun tetap PD, sayangnya saya termasuk bukan tipe itu. Lalu dari mana kira-kira bau busuk itu?
    Perkiraan saya sendiri ini, kemungkinan akarnya sudah rapuh setelah mati 10 tahunan, sehingga porous. Sisa makanan/bakteri reuni dibalik crown. Yah, semacam gedung megah didalamnya ada tindak kemaksiatan. Barangkali begitu ekuivalennya. Maka pikirku juga, akar sbg jaringan mati hrs dibuang total, dan diganti implant yang resist tdk bisa membusuk, tapi jg diterima tubuh (di artikel-artikel bilang biocompatible spt titanium). Nah, ya implant itu solusinya.
    Benar kan Dok ?
    Kembali ke masalah awal, siapa Dok yang bisa memberi solusi terbaik implant buat saya di Jakarta ini. Harapan saya, setelah implan ini saya jalani, petualangan saya tentang Si Gingsul selama puluhan tahun dapat berakhir.Harapan saya, Dokter gigi terakhirku ini tidak turut lagi dalam andil kesalahan pada Si Gingsul tercintaku. Bukan harapan yang berlebihan kan,Dok. TQ 4 Joinning and info-info balaz-na.....
    Buat nabung bayar implan yang masih mahal,
    bantuin suksesin bisnis online ini ya. Siapa tahu pada tertarik, tar kita rame-rame implant dan bikin partai. PARTAI IMPLANT, ATAU PARTAI DRG PROFESIONAL? ATAU PARTAI TUKANG GIGI?
    He..he..bercanda kok.@

    http://www.formulabisnis.com/?id=edy_wur
    It's Me

    ReplyDelete
  2. david asal medan .
    waduh cerita ga jauh beda mas, rasanya pengen kubunuh aja dokter gigiku yang pertama itu, gara2 dia terjadi reaksi beruntun yang mengakibatkan gigi depanku tewas dua, dan disampingnya terjadi pembusukan yang menahun dua lagi udah pada sekarat sama2 gigi depan atas, besar kemungkinan karena sisa makanan sering nyelip di protesa yg udah kupakai selama sembilan tahun. minimal 4 gigi depan atas harus di implant nich, tolong mas yah kabarin klo udah di implant. dan ga ketinggalan biayanya. Pengen Banget menjadi salah satu Si Ompong Kembali Tertawa.

    ReplyDelete