Asal Mula Nama di Jakarta
Pemda dan DPRD DKI Jakarta rupanya menghadapi kesulitan untuk memberi nama-nama pahlawan nasional pada jalan-jalan utama Jakarta. Seperti nama Harmoni, yang dikenal selama ratusan tahun, diganti jadi Jl Majapahit.
Boplo di kawasan Menteng/Cikini yang berasal dari nama NV De Bouwploeg, sebuah perusahaan real estate yang membangun kawasan Menteng tahun 192-1930-an diganti jadi Jl RP Panji Suroso. Nama Kampung Sawah Besar yang hampir seusia kota Jakarta diganti jadi Jl Samanhudi, Jakarta Pusat.
Saat Batavia sering diserang gerilyawan Islam Banten dari arah Grogol dan Tangerang, maka Belanda membangun benteng. Karena lebih sering menghadapi monyet-monyet yang berkeliaran, katimbang musuh, maka tempat penjagaan itu dinamai Jaga Monyet. Sekaligus jadi nama kampung di sekitarnya.
Di dekat Pal Meriam, terdapat kampung Solitude, yang juga penduduknya kebanyakan warga Betawi. Solitude berasal dari kata bahasa Inggris yang berarti 'kesunyian'. Karena kala itu banyak anggota tentara Inggris yang mati ketika menggempur Batavia. Mayatnya bergeletakan di rawa-rawa. Hingga dinamakan Rawa Bangke. Entah kenapa nama yang punya sejarah kota Jakarta diganti jadi Rawa Bunga.
Mungkin banyak yang ingin tahu asal nama Kampung Petamburan, yang merupakan tetangga dari pusat pertokoan dan pebelanjaan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Pada masa lalu rumah penduduk masih jarang dan banyak tumbuh pohon jati disekitarnya. Suatu ketika di daerah ini meninggal seorang penabuh tambur. Ia kemudian dimakamkan di bawah pohon jati, sehingga jadilah nama kampung Jatipetamburan.
Kampung Pejambon baru ada sejak Daendels membuka daerah ini dengan sebutan Weltevreden. Kata 'pejambon' berasal dari kata 'penjaga Ambon'. Penjagaan tersebut berada di sebuah jembatan yang melintasi kali Ciliwung dan penjaganya orang Ambon. Pejambon juga tempat tinggal Nyai Dasima ketika dia menjadi nyai (istri piaraan) tuan Willem, seorang pembesar Inggris. Dia kemudian menjadi istri Samiun, tukang sado dari Kwitang, dan dibunuh oleh Bang Puase, jagoan Kwitang, atas perintah Hayati, istri tua Samiun.
Rupanya nama kawasan itu tidak ada hubungbannya dengan sulit, atau pluit, semacam pluit wasit sepakbola atau polisi. Ternyata nama kawasan tersebut berasal dari fluit, lengkapnya fluitschip yang berarti kapal (layar) panjang berlunas ramping.
Glodok
Asalnya dari kata grojok yang merupakan sebutan dari bunyi air yang jatuh dari pancuran air. Di tempat itu dahulu kala ada semacam waduk penampungan air kali ciliwung. Orang tionghoa dan keturunan tionghoa menyebut grojok sebagai glodok. Karena orang tionghoa sulit mengucap kata grojok seperti layaknya orang pribumi.
Kwitang
Dulu di wilayah tersebut sebagian tanah dikuasai dan dimiliki oleh tuan tanah yang sangat kaya raya sekali bernama Kwik Tang Kiam. Orang Betawi jaman dulu menyebut daerah itu sebagai kampung si kwi tang dan akhirnya lama-lama tempat tersebut dinamai kwitang.
Senayan
Dulu daerah senayan adalah milik seseorang yang bernama wangsanaya yang berasal dari Bali. Tanah tersebut disebut orang-orang dengan sebutan wangsanayan yang berarti tanah tempat tinggal atan tanah milik wangsanaya. Lambat laun akhirnya orang menyingkat nama wangsanayan menjadi senayan.
Menteng
Daerah Menteng Jakarta Pusat pada zaman dahulu kala merupakan hutan yang banyak pohon buah-buahan. Karena banyak pohon buah menteng orang menyebut wilayah tersebut dengan nama kampung menteng. Setelah tanah itu dibeli oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1912 sebagai lokasi perumahan pegawai pemerintah Hindia Belanda maka daerah itu disebut menteng.
Jalan Jaksa
Dahulu di wilayah ini tempat kostnya pelajar asal Indonesia yang sekolah hukum Belanda.
Matraman
disinilah basisnya sultan Agung yang ingin menyerang batavia. Nah,karena sultan Agung dari mataram maka tempat tersebut dikenal dengan Mataraman. Seiring berjalannya waktu, sebutan tersebut berubah menjadi: Matraman.
Tanah Abang
Tanah Abang dulunya tanah sekitar situ berwarna merah (abang dalam bahasa Jawa bila tidak salah). Saat ini berwarna "emas" karena mahalnya tanah disana.
Pademangan
Pademangan yang bersebelahan dengan Kemayoran adalah dua daerah yang dipimpin oleh Demang Betawi (lokal) dan Mayor (londo).
Kebayoran
Kebayoran dulunya tanah Tuan Bayor Belanda.
Karet Tengsin
Karet Tengsin dulunya adalah Perkebunan karet milik etnis China bernama Tieng Shin. Karena orang pribumi susah menyebutnya menjadi Tengsin.
Kuningan
Kuningan adalah dulunya tempat menetapnya seorang Pangeran dari Cirebon bernama Pangeran Koeningan.
Buncit
dulunya di jalan buncit raya sekarang ada pedagang kelontong China berperut gendut (Buncit) yang terkenal.
Bangka
Dahulu di tempat ini banyak ditemukan mayat (bangke/bangkai) orang yang dibuang di kali krukut.
Cilandak
Konon di sana pernah ditemukan seekor landak raksasa.
Di sana banyak ditemukan alang-alang tinggi (tegalan) yang dipotong dengan parang (golok).
Blok A/M/S
Dahulu tempat ini dijadikan sebagai tempat pembukaan perumahan baru yag ditandai dengan blok. Mulai A-S. Sayang, saat ini hanya tersisa 3 blok saja.
Dulunya tempat berkumpul tukang rumput yang menjualnya untuk kalangan meneer Belanda yang tinggal di kampung elit, Menteng.
Kalimalang
Karena kali/sungai yang mengalir di sepanjang jalan tersebut tidak mengarah kelaut (utara) melainkan kearah barat(silang/ malang).
Lebak Bulus
Lebak artinya kolam, Bulus artinya penyu atau kura-kura. Dinamakan lebak bulus soalnya dulu disini menjadi pusat penjualan penyu atau kura-kura yang disimpan di kolam-kolam.
(Naskah: Dari beragam sumber. foto: dokumentasi:forum.detik.com dan sumber lainnya)



No comments:
Post a Comment