Tuesday, 4 November 2008

The Bodyguard


Selling Secure

Meski maut mengancam, disitulah lumbung uang berada. Menjual keahlian menyelematkan orang lain dan memberi rasa aman, menjadi peluang bisnis cukup menggiurkan.

Kisah wafatnya Perdana Menteri Pakistan Benazir Bhutto 30 Desember 2007, membuat sore di belahan Asia Selatan ini terkoyak.Wajah Pakistan berubah muram. Pasalnya, tokoh besar dari dinasti Bhutto ini harus mengalami nasib tragis setelah ukiran timah panas merobek kepalanya. Benazir ditembak oleh seseorang yang melompat ke bak mobil di belakangnya seusai melakukan pertemuan terbuka di kota yang menjadi basis pemilihnya, Rawalpindi, tempat dinas intelijen dan militer negeri itu berpangkalan. Akhirnya mantan penguasa Pakistan pada tahun 1988-1990 dan 1993-1996 ini meninggal di sebuah rumah sakit di Rawalpindi satu jam setelah serangan.

Sebelum kisah tragis itu terjadi, sebenarnya Benazir sudah sadar bahwa keselamtan dirinya kian hari terancam. Hal ini dapat dilihat dari pesan elektronik yang dikirimkan Benazir kepada temannya setelah percobaan pembunuhan yang gagal pada Oktober 2007. Dalam "e-mail" itu, Benazir menuduh Presiden Musharraf gagal melindunginya. “Jika celaka di Pakistan, saya akan menganggap Musharraf bertanggung jawab", demikian tulis Benazir dalam e-mail pada Oktober 2007, yang disiarkan oleh wartawan CNN Wolf Blitzer. Blitzer menerima "email itu dari teman Benazir dan juru bicara Amerika Serikat (AS), Mark Siegel.

Tragedi di atas seolah menjadi penegasan bahwa keamanan semakin mahal harganya. Terutama bagi orang-orang yang hidupnya berada di lingkungan sangat rawan. Tapi disatu sisi, justru membuka celah pasar untuk menumbuhkan jenis usaha pemberian rasa aman. Bisnis turunan dari jasa keamanan itu salah satunya: jasa pengamanan pribadi (body guard).

Barang dagangan satu ini laris dijajakan kapan saja. Saat kondisi ekonomi sedang berkibar atau terpuruk, bisnis ini tetap dibutuhkan. Di kota besar seperti: Jakarta, Tokyo, Singapur atau beberapa kota besar asia lainnya, memiliki pengawal pribadi sudah menjadi “perangkat wajib” yang harus dimiliki. Terutama di kalangan politisi, pengusaha, dan selebritas. Mengapa? Karena pada dasarnya masyarakat jenis inilah tingkat keselamatan jiwanya lebih terancam ketimbang masyarakat biasa. Rasa cemas itulah yang dibidik para pebisnis untuk membuka sebuah usaha unik: menawarkan jasa pengamanan. Dan, tampaknya jasa itu cukup laku.

Buktinya, setiap tahunnya pertumbuhan permintaan jasa keamanan di Indonesia –khususnya--diperkirakan meningkat dari 20% menjadi 30%. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan di negara Asia Tenggara lainnya.

Lantas, bagiamana cara menjalankan roda bisnis ini? Di Singapura para pengelola bisnis ini memilih menggunakan media Teknologi Informasi untuk memasarkan “produknya”. Calon penyewa bisa mencari informasi mengenai keberadaan seorang bodyguard melalui website yang telah disediakan. Di website tersebut informasi yang diberikan sangatlah lengkap. CV dari para bodyguard itupun disertakan. Bagi yang berminat menyewanya tinggal mengisi aplikasi yang disediakan dalam konten website tersebut. Selanjutnya peminat bisa langsung berhubungan dengan bodyguard incarannya melalui email.

Sedangkan di Indonesia masing-masing perusahaan jasa keamanan memiliki cara sendiri dalam menggamit klien.Ada yang memilih mempromosikan dirinya secara frontal lewat media. Ada juga yang mengandalkan referensi dari klien yang puas. Karena menurut beberapa pelaku bisnis ini, kepuasan klien menjadi promosi yang paling bagus dan efektif. Selain itu bisa juga lewat lintas pergaulan. Medianya sendiri bisa beragam. Mulai dari klab malam sampai acara keagamaan. Dengan semakin bertambahnya relasi, otomatis kesempatan untuk mendapatkan klien juga semakin besar.

Untuk urusan tarif sendiri bisa sangat beragam. Hal itu tergantung dari profesionalitas dan cara kerja para “tukang pukul” pribadi tersebut. Jika berpatokan dari harga di luar negeri maka standarnya lumayan tinggi yaitu: USD50-100 per jam. Di Indonesia meski belum bisa dikatakan tinggi tetapi bukan berarti harga yang ditawarkan juga murah. Sebagai contoh, honor satu pengawal pribadi beberapa tahun lalu saja sudah mencapai Rp 2,5 juta per hari. Atau untuk menyewa beberapa bodyguard sekali event saja biayanya bisa mencapai 5-6 juta rupiah.

Bodyguard sungguh pekerjaan berbahaya. Sekilas gambaran seorang bodyguard adalah: sosok yang berwajah sangar, dingin, berbadan tegap dan berotot. Gambaran tersebut tak sepenuhnya salah meski tak pula sepenuhnya benar. Karena bisa saja representasi seorang bodyguard itu bertampang dan berbadan biasa saja. Dan bisa jadi pengawal priadi yang seperti ini justru lebih berbahaya. Keberadaannya yang tidak terlampau mencolok membuat musuhnya sering tidak menduga kalau dialah sang bodyguard yang sebenarnya.
Tapi satu hal yang pasti seorang bodyguard harus memiliki fisik yang prima. Pasalnya, bukan tak mungkin dia harus siap siaga selama 24 jam demi keamanan kliennya. Disamping itu idealnya seorang bodyguard bukan sekedar jago bela diri dan pegang senjata saja. Dia juga harus memiliki multi talent. Jeli dalam berpikir, memiliki insting yang kuat terlatih dan sigap, mengantisipasi bahaya yang mengancam.

Bahkan juga dituntut kemampuan personality dan relationship yang bagus. Dia harus fleksibel dalam bergaul dan mampu melebur dalam lintas pergaulan apapun. Untuk urusan keluwesan barangkali para bodyguard perempuan lebih punya kelebihan. Seorang bodyguard perempuan bahkan bisa leluasa menemani bosnya makan malam dengan klien dalam suatu pertemuan. Sedangkan bodyguard lelaki biasanya tak boleh masuk ruang makan, hanya standbye di lobby hotel atau di ruang tunggu restoran saja.

Bodyguard sendiri harus mengetahui siapa dan apa yang dikawal. Di mana, dengan apa mengawalnya, mengapa harus dikawal, bagaimana mengatasi masalah yang terjadi terhadap klien tersebut. Karena klien yang dihadapi sangat beragam dan mempunyai karakter yang berbeda-beda. Seperti contohnya Pemerintah Korea Selatan yang menyediakan jasa bodyguard atau pengawal kepada siswa yang menjadi sasaran bully atau perlakuan intimidatif dari siswa lain. Pendekatannya tentu berbeda lagi.

Bully adalah istilah bahasa Inggris untuk menyebut tindakan-tindakan menakut-nakuti, mempermalukan atau memaksa orang melakukan sesuatu, khususnya dengan menggunakan kekuatan fisik atau kata. Para pengawal tersebut yang bisa jadi seorang polisi atau satpam, akan menyertai si siswa ke ruang kelas. Mengapa langkah ini diambil oleh pemerintah Korea Selatan karena praktik Bullying di negara tersebut menjadi masalah serius pada siswa tingkat sekolah menengah, dan memicu beberapa kasus bunuh diri. Seorang siswi SMU menggantung diri setelah rekan-rekan satu kelasnya menyebut diri terlalu jelek. Kasus lainnya seorang bocahSD bunuh diri setelah dijauhi oleh rekan-rekan satu kelasnya lantaran menjadi murid peringkat satu di kelasnya.

Mengingat standar seorang bodyguard tidak sembarangan maka upaya untuk merekrut calon anggotanya juga tidak main-main. Para calon bodyguard profesional harus mempunyai kesiapan fisik yang menunjang. Tinggi badan yang ideal dan proporsional, kecerdasan mumpuni dan tentu saja nyali yang besar.

Setelah memenuhi kriteria tersebut biasanya calon agen keamanan partikelir ini akan dibekali dengan kecakapan untuk menjadi seorang penjaga keamanan profesional. Materi yang diberikan: 35 persen teori dan sisanya praktik di lapangan. Dalam praktiknya calon bodyguard ini juga dibekali dengan kemampuan mengoperasikan beragam senjata. Termasuk senjata api. Dan satu hal, bodyguard harus memiliki senjata rahasia.

Bicara teori, calon bodyguard diajarkan: bagiamana ia harus bisa dealing dengan fans, reporotercetak dan elelktronik, paparazzi, bergerak di tengah kerumunan, berjalan di red carpet, saat di dalam kendaraan, di toilet, klien menerima award, berpidato. Semua diajarkan secara demi keselamatan klien.

Bisnis bodyguard ini, tumbuh di Asia dengan karakter yang berbeda-beda di masing-masing negara. Jepang, contohnya. Karena dibentuk oleh akar budaya samurai yang dikenal sangat kuat mempertahankan prinsip, maka ada kecenderungan para bodyguard mewarisi nilai tersebut. Selain tidak pernah setengah-setengah dalam menjaga kliennya, mereka juga dikenal dengan kesetiannya yang tinggi. Berbeda lagi dengan di Indonesia. Disamping tak mempunyai kesetiaan setinggi para bodyguard di Jepang, para agen partikelir di Indonesia juga masih sangat terpengaruh oleh budaya etnis.

Masing-masing etnis di Indonesia mempunyai kelompok keamanan yang akarnya berasal dari etnis yang sama. Hal ini bisa dilihat pada pecalang di Bali, kelompok jawara pasar Banten, atau blater di Madura. Sedangkan bisnis bodyguard di Korea secara terang-terangan sudah melibatkan wanita sebagai personilnya. Mungkin di negara lain di Asia juga ada beberapa agen keamanan swasta perempuan tetapi cara mengemasnya untuk di jual ke pasar belum seberani di Korea.

Sebelum berkembang menjadi komoditas bisnis seperti sekarang, praktik penggunaan tenaga outsourcing dalam sektor keamanan memiliki akar historis yang panjang. Nama-nama besar seperti: The Great of Alexander atau kaisar Kubilai Khan pernah menggunakan jasa mereka. Dalam sejarah nusantara praktik kepemilikan prajurit dan punggawa perang juga sudah lama dimulai oleh para tuan tanah dan raja-raja kecil. Elit-elit desa, punya jawara dan centeng, bahkan sampai sekarang budaya tersebut masih bisa dilihat.

Pasar grosir Tanah Abang adalah saksi sejarah dalam hubungan antara pasar-pedagang dengan keamanan-centeng yang sudah berusia lebih dua setengah abad. Karena sudah menjadi rahasia umum bahwa pasar Tanah Abang tak ubahnya lahan subur untuk tumbuhnya praktik palak, pungli, upeti, copet, calo, pemerasan, dan lainnya. Kondisi ini melahirkan cerita soal centeng-centeng penjaga pasar tersebut. Salah satu nama legendaris sebagai ksatria dari Tanah Abang adalah adalah Sabeni. Namanya terkenal sekolong Betawi jauh sebelum perang kemerdekaan pecah.

Sedangkan di Jepang kisah para pengawal keamanan yang dikenal dengan samurai sedikit banyak terkait dengan peristiwa restorasi Meiji pada masa pemerintahan Keshogunan Tokugawa atau zaman Edo. Pada masa tersebut para samurai terbelah dua antara yang tetap memegang prinsip dengan mereka yang mau menjual diri kepada siapapun yang membutuhkan tenaga mereka.

Kalaupun sampai bisnis ini dari hari ke hari posisinya semakin mapan hal ini tentu menunjukkan bahwa pangsa pasarnya juga semakin ramai. Salah satu penyebab ramainya pasar tersebut adalah konsumennya makin banyak. Sebenarnya siapa saja para pemakai jasa bodyguard ini sangat mudah ditebak. Mereka tentu dari kalangan orang berduit yang tingkat kenyamanan dan keamanan hidupnya semakin sempit.

Mungkin kita masih ingat cerita Nina Wang, wanita terkaya di Asia yang meninggal beberapa waktu lalu. Semasa hidupnya wanita yang diperkirakan Majalah Forbes memperkirakan mempunyai total total kekayaan sebesar 4,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp39 triliun kemana-mana selalu ditemani oleh 50 bodyguard. Pun tak berbeda jauh dengan artis Bollywood Mallika Sherawat dan Celina Jaitley.

Meski tak sebanyak Nina Wang keduanya juga selalu dikawal oleh para bodyguard. Mallika, artis sensasional Bollywood bahkan muncul untuk yang pertama kalinya di hadapan publik dengan ditemani pengawal pribadinya. Saat itu, ia merasa butuh seseorang yang bisa menjauhkan dirinya dari bahaya yang mengancam keselamatannya. Menurutnya, jasa pengawal pribadi memberikan kepastian lebih akan keselamatannya. Ya ternyata makin terkenal justru semakin tidak nyaman. (Haris Maryasno-dari berbagai sumber)

Tulisan ini sudah diterbitkan di Majalah Male Emporium 2008

No comments:

Post a Comment