Wednesday, 5 November 2008

Dari Sandal Jepit Sampai Mobil


Banyak Penduduk Banjir Produk

Cina, “sang naga” Asia, terlihat cepat mengambil peluang di pasar global. Cina yang sebelumnya menutup diri dengan kebijakan ekonomi sentralistik, mulai membuka diri bagi perdagangan dan investasi asing.

Cina memang negara "tirai bambu" yang unik. Negara besar dengan penduduk terbanyak di dunia itu, memang oke. Selain sebagai negara besar, Cina juga ternyata lebih berkembang dalam segala hal. Mulai dari otomotif, elektronik, beras, tekstil, peralatan medis, obat-obatan, dan kebutuhan rumah tangga. Satu lagi yang tak kalah bergengsi adalah, prestasi olahraga. Luar biasa.

Soal produktivitas, semua mengakui bahwa Cina sangat unggul dalam hal ini. Sebagai gambaran, untuk membuat sepatu seharga US$ 12-14, dalam sehari pekerja di Cina mampu menghasilkan sekitar 16 pasang. Sementara dengan kondisi yang sama, pekerja Indonesia hanya mampu menghasilkan 10 pasang. Cina mau tidak mau harus diakui semakin menggurita.

Murah dan banyak. Begitulah cara Cina menjajakan hasil produknya di banyak negara. Akibatnya, barang-barang itu tak hanya masuk ke negara-negara berkembang seperti, Indonesia. Akan tetapi juga merambah ke beberapa maju yaitu:Amerika dan Eropa. Akibatnya, banyak industri di setiap negara yang khawatir pasar ekspornya akan berkurang. Dan mau tidak mau, setiap industri harus bersiap-siap melakukan repositioning strategi bisnisnya untuk menghadapi persaingan dengan produk Cina.

Selain repositioning, negara-negara maju melakukan sistem kuota terhadap produk Cina. Amerika contohnya, tak segan-segan menaikkan harga produk Cina menjadi mahal. Caranya, negeri Paman Sam menaikkan nilai tukar Yuan.

Kemudian, kapan barang produksi Cina mulai menggebrak pasar Indonesia? Mungkin tak ada yang bisa menjawab secara pasti. Namun barangkali, salah satu yang fenomenal dan bisa dijadikan sebagai tanda kehadiran barang-barang produksi Cina adalah: ketika tahun 1991, motor Cina atau yang lebih dikenal dengan "mocin" meramaikan pasar otomotif di tanah air.

Mocin yang diproduksi di wilayah Mopei Cina itu, harganya murah, persediaan banyak, mereknya ragam, bentuk dan spesifikasinya tak jauh berbeda dengan motor buatan Jepang. Merek-merek motor buatan Jepang yang sudah puluhan tahun menjadi raja di pasar otomotif Indonesia, seperti mendapat saingan baru. Masyarakat pun memiliki banyak pilihan.

Kala itu, Motor Cina alias “mocin” langsung saja naik daun dan ada dimana-mana. Orang banyak yang membeli, tetapi ada juga yang ragu-ragu memakainya. Bahkan, tidak sedikit yang mencibirnya.

Harga motor, mobil, pakaian, kaus, porselen, kursi, mainan anak-anak, kimia organik, barang plastik dan aneka jenis barang elektronik dari telepon seluler, CD, VCD, sampai DVD dapat dijual dengan harga amat dahsyat murahnya Lebih kurang sepertiga dari harga yang ditawarkan oleh negara yang selama ini dikenal mempunyai struktur biaya produksi yang amat efisien: Jepang. Tidak heran kalau produk barang China merajalela di pasaran dunia.

Produk impor dari Cina terbesar di Indonesia. Hebatnya lagi, dapat menggeser produk Jepang. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), Cina menjadi negara pengekspor terbesar di Indonesia dalam periode Januari-September 2006. BPS mencatat nilai impor kumulatif sepuluh komoditas Cina dalam periode itu mencapai US$ 4,007 miliar, meningkat 16,54 persen dibanding periode yang sama tahun 2005, US$ 3,437 miliar. Nilai impor dari Cina itu, menyisihkan nilai
impor Jepang yang hanya tercatat US$ 3,975 miliar.

***

MENGAPA murah? Tak bisa dipungkiri, bila di setiap toko di tanah air ini, pasti terselip hasil produk cina. Itulah kenyataannya. Begitu banyak produk dari Cina berkualitas "cukup" bagus yang dapat dijangkau oleh masyarakat berkantong tipis. Kata “murah dan bagus” bagi mereka, bukan berarti merendahkan hasil jerih payah rakyat Cina. Tetapi memang demikian adanya.

Jawabannya, ada beberapa kemungkinan yang harus diperhatikan. Diantaranya: Penyelundupan, pratik dumping dan biaya produksi. Untuk penyelundupan, barang-barang asing dapat masuk ke Indonesia lantaran lemah dan keroposnya pengawasan di wilayah pantai Indonesia serta korupnya di lingkungan pabean. Bukan hanya produk dari China. Segala macam produk dari beragam negara dapat masuk ke pasar Indonesia lewat penyelundupan. Dalam hal ini yang patut disalahkan bukan produsen China, melainkan pihak Indonesia yang tidak serius menangani penyelundupan.

Kemungkinan kedua adalah praktik dumping. Yaitu: praktik menjual barang di pasar luar negeri dengan harga yang lebih rendah dari harga di pasar dalam negeri. Selama beberapa tahun, 1999-2003, China memang mengalami deflasi panjang. Hal ini menekan para pengusaha untuk mengadakan praktik tidak sehat itu. Daripada barang menumpuk di gudang, lebih baik banting harga. Indonesia yang mengalami krisis ekonomi, menjadi sasaran empuk dan menjanjikan.

Bila itu tidak mungkin juga, sepertinya kita mesti berpaling pada kemungkinan yang ketiga, yaitu ongkos produksi. Pasalnya, tenaga buruh di Cina relatif murah dan mendapat pembayaran yang tidak layak. Ada peraturan perburuhan yang bagus, tetapi semuanya dilanggar. Sebagai contoh di salah satu pabrik di Guangzhou, buruh-buruh tidak memperoleh perlakuan yang layak. Para buruh dipaksa bekerja lebih dari delapan jam setiap hari, menjadi hal biasa. Termasuk hari minggu. Para buruh diberi "hari libur" dua kali dalam sebulan. Tapi itu pun dihitung sebagai "izin".

Untuk gaji, memang patokan UMR seperti di Indonesia. Akan tetapi tidak ditaati oleh para manajer. Bila ada buruh yang berontak, dengan semena-mena sang manajer memecatnya. Meski ada Serikat Buruh tetap saja telah dikooptasi oleh pengusaha.

Maka tidak heran bahwa Cina merupakan "surga" bagi investor asing yang ingin kiprahnya tidak mengalami halangan dari serikat buruh. Buruh dapat dipaksa bekerja berapa jam pun, dengan gaji berapa pun, tanpa santunan apa pun, semua itu tergantung manajer. Ongkos produksi dengan demikian dapat ditekan serendah mungkin.

Selain itu, salah satu faktor yang membuat barang-barang Cina murah adalah, merajalelanya korupsi di Indonesia. Dan itu menyebabkan pengusaha Cina berhasil mendapatkan bahan mentah murah, lalu setelah melewati pemrosesan, dikirim lagi ke Indonesia.

Contoh klasik adalah kayu. Orang-orang Indonesia membeli produk kayu Ciina yang sebenarnya berasal dari Indonesia. Menariknya, produk buatan Cina ini lebih murah daripada produk buatan Indonesia. Jadi, bukan hanya penyelundupan ke dalam yang merugikan, juga penyelundupan ke luar. China dalam hal ini tidak bisa dipersalahkan begitu saja. Memang pengusaha China memanfaatkan kelemahan Indonesia, tetapi kesalahan tetap ada pada pihak Indonesia. Yang harus diacungi jempol adalah, kecerdikan para pengusaha Cina.

Untuk Indoensia, faktor yang harus dierhatikan adalah: adanya penyelundupan-ke dalam maupun ke luar Indonesia yang sudah mengakar. Produk murah dari Cina seakan-akan dapat melenggang begitu saja memasuki pasar Indonesia. Sebagai catatan: orang di Daratan Cina sendiri merasa heran dengan produk-produk yang sedemikian murah. Akan tetapi, mereka amat kritis dengan produk-produk murah karena tahu yang murah belum tentu bagus.

Haris Maryasno. (Sudah diposting di Majalah Prioritas BCA 2007)

1 comment:

  1. berapahargasatukodidalamsatukodiadaberapasize?

    ReplyDelete