
Apa saja kunci sukses gebrakan ekonomi China sehingga bisa tumbuh dan maju pesat? Apa yang bisa dipelajari Indonesia untuk mengejar ketertinggalan?
Presiden China Deng Xiaoping seusai mengadakan perjalanan ke selatan tahun 1992 berpidato untuk mendorong percepatan modernisasi China. Pidato Deng yang memicu pertumbuhan ekonomi pasar China adalah sikap tegas membiarkan daerah tertentu menjadi lebih kaya terlebih dahulu. Cina meroket sejak Deng Xiao Ping mengubah dari high centrally planned economy ke Managed market economy.
Ya, genderang globalisasi kian membenarkan Teori Angsa Terbang untuk relokasi foot loose industry, dan Cina makin menjadi tanah impian para investor. Bagaimana Cina menghias diri secara atraktif dengan berbagai pull factor bagi penanaman modal asing, penting diperhatikan.
Menurut DR. I. Wibisono, kepala Centre for Chinese Studies, Fakultas ilmu Budaya, Universitas Indonesia, sudah banyak orang salah memberikan komentar terhadap Cina. Bahwa, bila negara yang dikuasai partai tunggal, akan mengalami kesulitan dalam hal pembangunan, stabilitas politik. “Tapi buat Cina tidak terjadi. Sebab, partai tunggal itu diisi oleh kader-kader yang memiliki komitmen tinggi pada pembangunan nasional,” ujarnya.
Untuk itu tak heran bila, setengah dari kader partai Komunis di Cina sebanyak 40 juta orang, berada pada pucuk pimpinan perusahaan swasata dan BUMN Cina. “Merekalah yang memegang pernanan kunci perekonomian dan stabilitas Cina. Kader partai ini adalah orang-orang mengerti soal binsis dan lulusan dari sekolah bisnis,” ujarnya. Dan, “Mereka para kader partai yang mau berbisnis secara sungguh-sunguh,” katanya saat memaparkan makalahnya berjudul: China Highlights di acara Seminar Nasional : Dragons At Your Door, Hotel Four Seasons, Jakarta, awal Juni 2007 silam.
Ya, Cina mereformasi habis-habisan dirinya sendiri. Mulai dari penerapan sistem kendali terpusat, meningkatkan pelayanan birokrasi, membangun infrastruktur, memperbaiki kualitas pekerja, “basmi” koruptor tanpa ampun, membangun zona pengembangan ekonomi.
Sebagai salah satu pemain utama dalam perekonomian dunia, Cina menggunakan strategi Cost Innovation yang menjadi catatan penting bagi pasar global saat ini. Usaha yang disebut zou chuqu (jalan menuju global ini), akan mengubah kemapanan kompetisi global.
Prof. Peter J. Williamson, pengamat ekonomi dan bisnis global, mengatakan: “Karena Sang Naga Cina sukses melawan aturan lama yang ada,” ujarnya singkat. Menurutnya, ada tiga buah aturan lama yang ditentang para pengusaha swasta Cina saat ini.
Yaitu: Aturan Lama: 1. Teknologi tinggi untuk produk yang berkualitas dan segmen yang tinggi. Aturan Baru: Teknologi dengan biaya rendah. 2. Aturan Lama: Keberagaman dan penyesuaian dengan biaya premium. Aturan baru: Keberagaman dengan biaya rendah. 3. Aturan Lama: Produk niche berarti volume kecil dan harga tinggi. Aturan Baru: Produk niche dengan biaya rendah.
Kemudian, apa yang harus dilakukan para pengusaha Indonesia untuk bisa bersaing dengan Cina? Menurut Prof. Peter J. Williamson, ada tiga pilihan untuk Perusahaan Indonesia. 1. Menguasai trik dari inovasi biaya. 2 Agresif bersaing di Cina untuk meraih pangsa pasar yang belum tertangkap. 3. Menjalin kerjasama dengan Cina untuk meningkatkan daya saing Indonesia dan Global.
Kemudian, bagaimana Indonesia dapat menguasai inovasi biaya seperti Cina? Menurut Prof. Peter J. Williamson adalah: Mindset. Artinya, menggunakan biaya rendah dengan cara yang unik. “Bukan biaya rendah saja. Tapi teknologi tinggi dengan biaya rendah, keragaman dengan biaya rendah dan produk khusus dengan biaya rendah,” katanya. Selain itu lanjutnya, “Menggunakan sumberdaya teknik/desain/layanan yang berbiaya rendah, menggunakan teknologi alternatif dan murah, open-architecture wave dan fokus pada celah kompetitor,” ujarnya serius.
Lain halnya dengan Tandean Rustandy, MBA., selaku CEO PT Arwana Citramulia Tbk. Arwana bisa survive dalam persaingan dengan produk keramik Cina karena beberapa hal. Yaitu: “Arwana Citramulia memiliki pangsa pasar berbeda, mempunyai 3 lokasi Plant yang berbeda, Dan “Kita memahami selera konsumen serta leadership dalam menjalankan roda usaha,” katanya sungguh-sungguh.
Bicara maraknya produk Cina ke Indonesia, menurut Komisaris Independen BCA DR. Cyrillus Harinowo, Indonesia sebenarnya mampu bersaing dengan Cina di pasar internasional, khususnya untuk barang kualitas menengah ke atas. “Untuk berkompetisi dengan Cina, pengusaha nasional sebaiknya memproduksi produk-produk dengan mutu medium dan berkualitas," ujarnya.
Lantas dimana peranan perbankan dalam hal ini? Menurut Hari, BCA akan mensupport perusahaan yang ingin melakukan ekspor ke Cina atau import ke Indonesia dari sisi financing. “Ini sebuah potensi dan menjadi market interest. Suatu ketika BCA akan membuka kembali kantor di Cina dan akan bermanfaat sekali,” ujarnya.
(Haris Maryasno. Tulisan ini sudah dipublikasikan di Majalah Prioritas BCA-2007)
Ya, genderang globalisasi kian membenarkan Teori Angsa Terbang untuk relokasi foot loose industry, dan Cina makin menjadi tanah impian para investor. Bagaimana Cina menghias diri secara atraktif dengan berbagai pull factor bagi penanaman modal asing, penting diperhatikan.
Menurut DR. I. Wibisono, kepala Centre for Chinese Studies, Fakultas ilmu Budaya, Universitas Indonesia, sudah banyak orang salah memberikan komentar terhadap Cina. Bahwa, bila negara yang dikuasai partai tunggal, akan mengalami kesulitan dalam hal pembangunan, stabilitas politik. “Tapi buat Cina tidak terjadi. Sebab, partai tunggal itu diisi oleh kader-kader yang memiliki komitmen tinggi pada pembangunan nasional,” ujarnya.
Untuk itu tak heran bila, setengah dari kader partai Komunis di Cina sebanyak 40 juta orang, berada pada pucuk pimpinan perusahaan swasata dan BUMN Cina. “Merekalah yang memegang pernanan kunci perekonomian dan stabilitas Cina. Kader partai ini adalah orang-orang mengerti soal binsis dan lulusan dari sekolah bisnis,” ujarnya. Dan, “Mereka para kader partai yang mau berbisnis secara sungguh-sunguh,” katanya saat memaparkan makalahnya berjudul: China Highlights di acara Seminar Nasional : Dragons At Your Door, Hotel Four Seasons, Jakarta, awal Juni 2007 silam.
Ya, Cina mereformasi habis-habisan dirinya sendiri. Mulai dari penerapan sistem kendali terpusat, meningkatkan pelayanan birokrasi, membangun infrastruktur, memperbaiki kualitas pekerja, “basmi” koruptor tanpa ampun, membangun zona pengembangan ekonomi.
Sebagai salah satu pemain utama dalam perekonomian dunia, Cina menggunakan strategi Cost Innovation yang menjadi catatan penting bagi pasar global saat ini. Usaha yang disebut zou chuqu (jalan menuju global ini), akan mengubah kemapanan kompetisi global.
Prof. Peter J. Williamson, pengamat ekonomi dan bisnis global, mengatakan: “Karena Sang Naga Cina sukses melawan aturan lama yang ada,” ujarnya singkat. Menurutnya, ada tiga buah aturan lama yang ditentang para pengusaha swasta Cina saat ini.
Yaitu: Aturan Lama: 1. Teknologi tinggi untuk produk yang berkualitas dan segmen yang tinggi. Aturan Baru: Teknologi dengan biaya rendah. 2. Aturan Lama: Keberagaman dan penyesuaian dengan biaya premium. Aturan baru: Keberagaman dengan biaya rendah. 3. Aturan Lama: Produk niche berarti volume kecil dan harga tinggi. Aturan Baru: Produk niche dengan biaya rendah.
Kemudian, apa yang harus dilakukan para pengusaha Indonesia untuk bisa bersaing dengan Cina? Menurut Prof. Peter J. Williamson, ada tiga pilihan untuk Perusahaan Indonesia. 1. Menguasai trik dari inovasi biaya. 2 Agresif bersaing di Cina untuk meraih pangsa pasar yang belum tertangkap. 3. Menjalin kerjasama dengan Cina untuk meningkatkan daya saing Indonesia dan Global.
Kemudian, bagaimana Indonesia dapat menguasai inovasi biaya seperti Cina? Menurut Prof. Peter J. Williamson adalah: Mindset. Artinya, menggunakan biaya rendah dengan cara yang unik. “Bukan biaya rendah saja. Tapi teknologi tinggi dengan biaya rendah, keragaman dengan biaya rendah dan produk khusus dengan biaya rendah,” katanya. Selain itu lanjutnya, “Menggunakan sumberdaya teknik/desain/layanan yang berbiaya rendah, menggunakan teknologi alternatif dan murah, open-architecture wave dan fokus pada celah kompetitor,” ujarnya serius.
Lain halnya dengan Tandean Rustandy, MBA., selaku CEO PT Arwana Citramulia Tbk. Arwana bisa survive dalam persaingan dengan produk keramik Cina karena beberapa hal. Yaitu: “Arwana Citramulia memiliki pangsa pasar berbeda, mempunyai 3 lokasi Plant yang berbeda, Dan “Kita memahami selera konsumen serta leadership dalam menjalankan roda usaha,” katanya sungguh-sungguh.
Bicara maraknya produk Cina ke Indonesia, menurut Komisaris Independen BCA DR. Cyrillus Harinowo, Indonesia sebenarnya mampu bersaing dengan Cina di pasar internasional, khususnya untuk barang kualitas menengah ke atas. “Untuk berkompetisi dengan Cina, pengusaha nasional sebaiknya memproduksi produk-produk dengan mutu medium dan berkualitas," ujarnya.
Lantas dimana peranan perbankan dalam hal ini? Menurut Hari, BCA akan mensupport perusahaan yang ingin melakukan ekspor ke Cina atau import ke Indonesia dari sisi financing. “Ini sebuah potensi dan menjadi market interest. Suatu ketika BCA akan membuka kembali kantor di Cina dan akan bermanfaat sekali,” ujarnya.
(Haris Maryasno. Tulisan ini sudah dipublikasikan di Majalah Prioritas BCA-2007)
No comments:
Post a Comment