Tuesday, 4 November 2008

Gairah Cinta Sang Ketua


Ketika seks dan kekuasaan dikaitkan maka tidak ada yang salah. Malah, kedua hal tersebut seolah sekeping koin. Kesalahan tentu ada jika dipandang dari aspek moral. Ternyata, dalam dunia tunduk-menunduk (politik), moral pun tidak teridentifikasi. Mungkin, ia sudah menjadi abu-abu. Tidak lagi putih,apalagi hitam.

Suara rakyat adalah suara Tuhan (Vox populi vox Dei). Itu juga berlaku di Filipina. Rakyat telah bicara dan telah menentukan pilihannya, kepada Joseph "Erap" Estrada, untuk memimpin Philipina (1998-2001). Buat mantan bintang film yang akrab disapa Erap ini, kemenangannya kala itu menjadi prestasi besar, mengingat pemilihan umum pada 11 Mei 1998 merupakan kompetisi antara 10 calon presiden.

Di tengah euforia kemenangan itu, Erap masih saja berseloroh tentang sejarah hidupnya yang penuh dengan wiski, wanita, judi, dan berbagai kesenangan duniawi. "Saya dan Bill Clinton punya kemiripan, terutama dalam hal skandal seks. Hanya, Clinton kena skandalnya, sedangkan saya dapat seksnya," katanya. Gurauan itu tentu saja mendapatkan tepuk tangan gemuruh para pendengar dan pengagumnya. Tapi, karena ulahnya yang tak bisa menyesuaikan diri dengan jabatannya sebagai kepala negara, perangainya sebagai bintang film tak berhasil diubah. Kebiasaan dahulu bersama lingkungannya diteruskan di istana.

Setiap bangsa selalu memiliki ”legenda” menarik untuk terus diperbincangkan. Entah mengenai keadaan masyarakat melalui kenyataan alam kebudayaannya, keunikan adat-istiadatnya, sejarah permulaannya sampai dengan tampilnya figur-figur tertentu yang ikut terlibat secara langsung dalam setiap gerak laju proses perjalanan sejarahnya.

Semua itu seakan menjadi horison tersendiri bagi bangsa yang bersangkutan. Jika bangsa Amerika Serikat memiliki John F Kennedy, China dengan Mao Ze Dong, yang begitu fenomenal dicatat sejarah. Maka Indonesia memiliki Sukarno.

Selain dikenal sebagai Bapak Revolusi, Sukarno juga menyimpan keunikan yang penting untuk dinikmati. Selama hidupnya, Sukarno telah meninggalkan banyak jejak, baik sebagai aktor sejarah maupun sebagai pribadi. Ratusan buku dan ribuan tulisan yang menggambarkan jejakjejak kehidupannya, baik yang ditulis oleh Sukarno sendiri maupun oleh orang lain seakan menegaskan suatu pernyataan tentang betapa fenomenalnya sosok yang satu ini.

Selain tak jengah mengobarkan semangat perlawanan terhadap segala tindak diskriminasi penjajahan, dia juga dikenal sebagai seorang pencinta dan pemuja perempuan. Jiwa pencintanya yang memukau telah sanggup menaklukkan beberapa perempuan, di samping terdapat kenyataan lain yang berbicara bahwa, tidak sedikit perempuan yang memuja Sukarno mati-matian.

Banyak hal yang membuat para istri dan mantan istri Bung Karno (BK) menilai BK adalah suami dan bapak yang bertanggung jawab. Sikapnya penuh perhatian, telaten, dan tak pilih kasih.
Romantika, dialektika, dan harmoni kehidupan cinta Sukarno semenjak remaja sebagai pria pencinta dan pemuja perempuan sangat dirasakan benar oleh kesembilan istrinya. Semuanya tertuturkan secara manis oleh mereka dalam buku Istri-Istri Sukarno ini karangan Reni Nuryanti dkk.

Gairah Cinta Kawan Ketua.

Menurut moral komunis, dansa itu borjuistis. Toh, Mao Zedong, mantan Ketua Partai Komunis Cina, melakukannya dengan para dara cantik di ruangan tertutup. Beberapa di antaranya dibawa berasyik masyuk ke kamarnya. Istrinya saja empat, dan "mainan"nya entah berapa.

Mao selain melihat kaum tani sebagai pendukung revolusi, ia juga ingin memanfaatkan tenaga kaum perempuan. Saat itu, 1919, Mao, yang memimpin Gerakan Empat Mei cabang Changsha, Hunan, siap melancarkan aksi "pakai Buatan Sendiri: Tolak barang-barang Jepang." Ia pun menghimpun para gadis muda dan memerintahkan mereka menggedor toko-toko. Jika menemukan barang-barang buatan Jepang, minta Kawan Ketua, paksa pemilik toko untuk memusnahkannya. Padahal, Cina belum lagi Swasembada.

Waktu itu kenang Mao, "Tak seorang pun punya waktu untuk bercinta." Memang, para cewek dan cowok tidur bersisian tanpa niat jorok. Istirahat malam satu-dua jam setelah letih bertugas, membuat mereka tak sempat berpikir macam-macam. Malahan Mao, bersama Cai Hesen dan saudara perempuannya yang cantik, Cai Chang, pernah bersumpah "tidak akan pernah menikah".

Nah. Apa lacur, sumpah "tiga pahlawan" itu dilanggar oleh ketiganya. Ketua Mao malahan sampai kawin empat kali. Pertama dengan gadis pilihann ayah, tiga dan lainnya mencari sendiri: Yang Kaihui, He Zizhen, dan Jiang Qing. Toh, Mao masih bermain cinta dengan beberapa wanita lain. Termasuk dengan Li Zhizui, dokter pribadinya.

Hubungan dengan dokter Li, terungkap dalam Reader's Digest, Juni 1995, dengan judul: "The Secret Life of Chairman Mao". Cerita itu diungkapkan sendiri oleh Li. Kisah asmara Li dimulai tahun 1955, ketika ia menjadi dokter pribadi Mao. Hanya dalam tempo seminggu sejak pertemuan pertama dengan Mao, ia langsung dites oleh Mao dan dinyatakan lulus. Padahal saat itu, Li menjabat Direktur sebuah klinik di sebuah kompleks hunian para pejabat senior Partai Komunis Cina (PKC) di Zhongnanhai.

"Kaisar petani" ini sangat benci dokter. Mao tak menyikat giginya. Setiap bangun tidur, ia mencuci mulutnya dengan air teh dan mengunyah daunnya. Ternyata Mao amat enerjik. Banyak bekerja malam, dan ia mampu terjaga sampai 48 jam.

Tak heran, bila tengah malam, menjadi kebiasaan ketua Mao mengadakan pertemuan. Ia tak punya banyak teman, dan jarang bertemu keluarganya. Li selain berparas cantik, juga sangat pandai. Tak heran bila tengah malam Mao selalu mengajaknya diskusi segala hal. Mulai dari sejarah, filsafat Cina hingga melakukan segala hal.

Salah satunya ketika Mao merencanakan sebuah pesta dansa dan ia di undang menghadirinya. Padahal, dansa-dansi di kalangan kaum komunis sudah lama dianggap sebai perilaku "borjuistis" serta terlarang. Tapi dibalik dinding Zhongnanhai, yang pintu-pintunya tertutup rapat, Mao berpesta dansa sekali seminggu.

Malam itu, Mao dan Li hadir di ruangan yang sangat besar. Dan, begitu tiba, Mao langsung dikerubungi wanita muda nan cantik. Perempuan-perempuan itu dipilih karena kecantikannya. Bukan karena bakat seni dan keandalan politiknya. Mereka didatangkan untuk menyenangkan hati Ketua. Sebuah band memainkan faxtrot, waltz, dan tango. Mao berdansa dengan mereka secara bergantian. Selesai dansa, setiap pasangan harus duduk berbincang-bincang dengannya. Dan, pesta baru berakhir menjelang pukul dua dini hari.

Pada 1960-an, ranjang Mao dipindahkan bersebelahan dengan ruang dansa. Li, sering memergoki Mao membimbing seorang wanita cantik, dan kemudian menutup pintunya rapat-rapat. Jelas, Mao mengikuti cara para penguasa terdahulu. Kaisar Kuning, konon, dapat "hidup abadi" karena bercinta dengan seribu perawan. Ternyata Mao sangat takut menjadi tidak perkasa diranjang. Ia menganggap kemampuan seks laki-laki hanya akan bertahan sampai usia 60 tahun. Karena itu, Dokter Li acapkali menyuntiknya dengan ekstrak tanduk rusa --obat kuat-- tradisional Cina. Dan itu salah satu tugas Li.

Mao Zedong (Mao Tse-tung) lahir pada 26 Desember 1893 di Shaosan, sebuah desa di Siangtan, tak jauh dari Changsa, ibukota Propinsi Hunan. Ayahnya menginginkan ia kawin dengan seorang gadis berusia 14 tahun. Mao terperanjat. Meski ia terpaksa menerima paksaan ayahnya, Mao mengaku tak pernah menyentuh istrinya seujung jaripun.

Menurut buku Mao, susunan Ross Terrill (1990), tiga istri Mao berikutnya merupakan pilihannya sendiri. Istri keduanya berusia delapan tahun lebih muda. Yang Kaihui adalah anak perempuan Profesor Yang, gurunya sendiri. Nona Yang gadis yang ramping, berwajah bundar, dan terlalu pucat untuk seorang gadis Cina. Kegilaan Mao kepadanya telah tumbuh sejak masa menetapnya Yang lebih awal di Beijing. Hubungan mereka berkembang lebih jauh.

Profesor Yang meninggal karena hubugan fisik mereka berdua yang terlalu dalam. Hubungan mereka dimulai sebagai "perkawinan coba-coba", yang tak disukai Profesor Yang. Mereka tak serumah. Mereka bertemu diantara patung-patung di kamar Mao di jalan raya Utara Beijing atau di rumah keluarga Yang yang lebih hangat dan nyaman.

Dari penikahan ini, Mao dikaruniai 3 anak. Anak pertama diberi nama Anying tahun 1921(Pantai Pahlawan) dan setahun kemudian, Yang Kaihui menjadi anggota PKC. Anak kedua: Anqing tahun 1923(Pantai Cemerlang). Dan anak ketiga diberi nama Anlog tahun 1927.

Pertengahan tahun 1928, Mao jatuh cinta pada He Zizhen. Gadis berusia 18 tahun, ketika menangkap tatapan Mao. Ia cerdas dan lasak. Salah seorang komandan Mao menulis ttg ai lu (kekasih revolusioner) Kawan Ketua. "Ia menawan dan juga ranum. Ia bicara secara jelas dan akurat. Sepasang matanya bagaikan kristal. Bertemu dengannya memberimu perasaan manis madu." Gadis inipun dinikahinya secara resmi tahun 1930 di Yenan dan melahirkan 3 anak. Sebelum berlangsungnya pernikahan --di tahun yang sama-- Changsha tempat Mao dan Yang menikah, dikuasai kaum nasionalis. Kaihui pun disiksa dan dibunuh dan anak-anaknya selamat.

Masih cerita diseputar kisah Pemimpin pertama Republik Rakyat China. Tahun 1937, Mao hadir dalam suasana acara makan malam di gua perlindungan Agnes Smedley, seorang feminis Amerika lainnya adalah Nym Wales dan Lily Wu --aktris cantik yang cukup "Shanghai" (modern). Merah bibirnya dan berambut panjang, mampu menjerat mata dan hati Mao.

Di Yenan, Zizhen meradang saat mengetahui petualangan cinta Mao dan Lily Wu. Pun begitu dengan pernikahannya yang ke empat Mao dengan Lan Ping berparas cantik sehingga mendapat julukan “Si Apel Biru.” Tahun 1959, Apel Biru menjadi anggota politbiro (biro politik) PKC, selanjutnya ia mneyusun barisan utnuk menggantikan Mao. Ia pun mengganti namanya dengan Jiang Qing (Air, Air Segar atau Sungai Biru).

Peta arah politik pun terus berubah dan itu berdampak pada Mao yang mendapat tekanan dari seluruh penjuru mata angin. "Ketika beban terlau berat," kata Mao suatu kali, "kematian adalah jalan keluar." Bagi Mao itulah jalan keluar dari beban sejarah yang dipikulnya, dan dari penyakit yang dideritanya: alzheimer (pikun) dan amyotrophic lateral sclerosis --penyakit yang menyerang jaringan saraf tulang belakang-- yang (waktu itu) belum ada obatnya.

Dan kini, Mitos Dao memang banyak dipakai di bumi Tiongkok, bahwa pria tua yang mengencani wanita muda atau sebaliknya, akan awet muda. Pemimpin besar Cina, Mao Zedong, konon menganut aliran Dao guna menunda ketuaannnya.

(Haris Maryasno. Tulisan ini sudah dimuat di Majalah Male Emporium, Mei-2008)

No comments:

Post a Comment