Wednesday, 26 November 2008

Ini Medan, Bung!


Dahulu kota ini dikenal dengan nama Tanah Deli yang dilintasi beberapa sungai dan semuanya bermuara ke Selat Malaka. Kini beragam adat istiadat, warna kulit dan kepercayaan bercampur menjadi satu di kota ini. Seperti apa ceritanya?

Semboyan “Ini Medan, Bung!” pasti sudah populer. Rasanya tak keliru menyanding predikat ini dengan daerah lainnya yang mencantumkan nama kotanya seperti: Hallo Hallo Bandung. Tak jelas, siapa yang memberikan julukan itu. Ada pendapat bahwa ini 'bahasa hukum' preman Medan. Setiap terlibat pertengkaran, maka demi kehormatan langsung mengajak duel dan 'main tumbuk' (baku hantam). Sementara orang Medan sendiri juga mengaitkan semboyan itu dengan kesemrawutan lalu lintas dalam kota, gara-gara peraturan tak dipatuhi.

Meski begitu, bisnis tumbuh subur di kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Saat ini kota yang besar, panas, bising, dan sesak sedang marak oleh pembangunan pusat-pusat bisnis baru. Baik dalam skala besar maupun kecil. Salah satu pusat perdagangan yang tumbuh bak cendawan di musim hujan ialah rumah toko (ruko), yang berdiri hampir di setiap bagian kota. Bahkan sampai ke tepian jalan-jalan lingkungan selebar tiga meteran di daerah permukiman dengan karakter bangunan tunggal.

Tahun ini, Pemerintah Kota Medan merencanakan Medan sebagai Kota Pusat Perbelanjaan dan Makanan. Begitu banyak mal baru berdiri serta tempat-tempat jajan yang dijadikan arena gaulnya anak muda Medan dimalam hari. Sebut saja City Walk / Merdeka Walk.

Kedai-kedai di tempat ini menawarkan beragam makanan. Mulai dari masakan khas Indonesia, Barat, dim sum (makanan khas Cina) atau makanan Jepang cepat saji. Tinggal pilih. Disarankan sebaiknya memilih masuk satu restoran yang pasti untuk menghindari serbuan pelayan yang menyodorkan daftar menu makanan dari berbagai restoran yang ada di sepanjang Merdeka Walk.

Bila di siang hari, disarankan menyambangi Rumah Makan Bintang di jalan. Taruna. Di tempat ini aneka makanan dan minuman tersedia dengan cita rasa tinggi. Tak heran bila Ketua DPR RI (2004-2009) H.R. Agung Laksono selalu mengunjungi tempat ini hanya untuk menikmati lezatnya ikan Bawal Steam dan jus Terong Belanda. Agar santap siang terasa lebih nikmat, sebaiknya datang sebelum jam istirahat kantor tiba. Bila tidak, jangan kaget tempat ini dipenuhi professional muda dan pengusaha yang menjamu relasinya.

Mau jalan-jalan di kota Medan? Gampang. Cobalah naik becak bermotornya (becak motor) yang dapat ditemukan hampir di seluruh kota Medan. Angkutan ini dapat membawa penumpangnya ke mana pun di dalam kota. Di tengah kota ini, ada banyak bangunan-bangunan tua yang masih menyisakan arsitektur khas Belanda. Contohnya: Gedung Balai Kota lama, Kantor Pos Medan, Menara Air (yang merupakan ikon kota Medan), dan Titi Gantung-sebuah jembatan di atas rel kereta api.

Bila ingin merasakan kehidupan Medan zaman lalu, tak ada salahnya mengunjungi Istana Maimun. Inilah istana kebesaran Kesultanan Deli dengan warna kuningnya (kuning merupakan warna kerajaan Melayu ) dan khas arsitektur Melayu di pesisir timur. Istana ini sebenarnya di rancang oleh seorang arsitek Itali dan diselesaikan di tahun 1888 semasa pemerintahan Sultan Mahmud Al Rasyid.

Dewasa ini istana tersebut masih didiami oleh keluarga–keluarga Sultan. Ruangan pertemuan, foto–foto keluarga kerajaan Deli, perabot rumah tangga Belanda kuno dan berbagai senjata, terbuka bagi masyarakat yang ingin mengunjunginya.

Satu blok dari istana Maimun kearah timur, berdiri Mesjid Raya dengan arsitek menawan yang menjadi daya tarik wisatawan. Mesjid yang dibangun tahun 1906 dan selesai pada tahun 1909, sekaligus Mesjid Kesultanan yang selalu dipakai sebagai tempat sholat Sultan beserta para kerabatnya. Hingga saat ini Mesjid tersebut masih digunakan untuk melaksanakan ibadah bagi kaum muslim dan sekaligus sebagai tempat bersejarah di kota Medan.

Selain itu, masih ada rumah Tjong A Fie di kawasan Jl. Jend. Ahmad Yani (Kesawan). Daerah Kesawan yang menyisakan bangunan-bangunan tua (misalnya bangunan PT. London Sumatra) dan ruko-ruko tua seperti yang bisa ditemukan di Penang, Malaysia dan Singapura kini telah disulap menjadi sebuah pusat jajanan makan yang ramai pada malam harinya.

Masih di seputar Kota Medan. Populasi kota Medan didominasi beberapa suku. Mayoritas penduduknya sekarang adalah suku Jawa dan Batak. Tetapi di kota ini banyak tinggal pula orang keturunan Tionghoa dan India..

Komunitas India di kota ini dikenal dengan Kampung Keling. Kampung ini merupakan pusat pertokoan yang ramai di kunjungi wisatawan dan pusat masyarakat India di Medan. Di wilayah itu terdapat kuil Sri Mariamannya yang berdinding tinggi untuk memuja Dewa Kali yang dibangun di tahun 1884. Masyarakat India Medan sebagian besar keturunan India Selatan yang datang untuk bekerja di perkebunan–perkebunan pada akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20.

Bosan di kota Medan yang cukup panas dan bisingnya sebuah kota besar, cobalah bertamasya ke Brastagi. Seperti Provinsi Jawa Barat yang terkenal dengan wisata Puncak di Bogor, Sumatera Utara juga memiliki tempat wisata alam pegunungan. Brastagi adalah salah satu obyek wisata dan tempat peristirahatan di dataran tinggi Karo yang sejuk. Berjarak 50 km, Brastagi dapat dicapai dengan perjalanan sekitar 2 jam dari Kota Medan.

Brastagi diapit oleh 2 gunung berapi aktif di dataran tinggi Karo yaitu Gunung Sibayak dan Sinabung. Obyek wisata terkenal di Brastagi: Gundaling dan Mikie Holiday, sebuah resort dengan fasilitas Theme Park.
Perjalanan menuju tempat Brastagi (kota Markisa) ini berkelok-kelok, jurang di kiri dan kanan jalan, menambah keasikan perjalanan. Segarnya udara pegunungan, sangat bertolak belakang dengan kota Medan. Meski waktu menunjukan pukul 10.30 WIB, udaranya tetap dingin seperti pagi. Angkutan umum Sinabung Jaya yang terkenal dengan sopir berani mati ini, tak takut menikung dalam kecepatan tinggi.

Setelah melintasi daerah Sembahe (lintasan jalan raya Medan-Brastagi sekitar 35 km dari Medan), masuk di wilayah Sibolangit. Di tempat ini begitu banyak monyet-monyet hutan yang melintas ke jalan raya untuk mencari makan. Disarankan, jendela kaca mobil ditutup menghindari binatang ini masuk ke dalam mobil.

Setelah menikmati aksi monyet hutan, tibalah di Taman Nasional: Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Barisan yang berlokasi kira-kira 6 km sebelum kota Brastagi (dalam perjalanan dari Medan). Masuk di Brastagi, selain menjumpai buah Markisa, tempat ini juga terkenal sebagai penghasil beragam jenis sayuran, buah dan bunga. Di kota Brastagi dilaksanakan beberapa pariwisata antara lain: Pesta Buah atau festival buah dan festival kebudayaan yaitu: “Pesta Mejuah-juah” yang diadakan setiap tahun.

Melancong ke tempat ini, dijamin mendapatkan kesejukan udara yang benar-benar murni khas pegunungan. Udaranya begitu dingin di sepanjang hari di kaki gunung. Begitulah berkunjung ke Medan. Memang tidak akan habis kesan yang ditinggalkan.

(Haris Maryasno.Tulisan ini pernah di muat di majalah Prioritas BCA, edisi Mei 2008)

No comments:

Post a Comment