
Pariwisata Cina
Secara kasatmata industri pariwisata negeri 1,2 miliar penduduk dengan catatan sejarah 5.000 tahun silam, sudah amat matang dengan ribuan obyek wisata peninggalan masa silam yang tidak ada duanya di dunia. Apa resepnya bisa seperti itu?
Di tengah kota, berdiri gedung Jin Mao atau Menara Jin Mao. Menara pencakar langit landmark 88-lantai di area Lujiazui di distrik Pudong di Shanghai, Republik Rakyat Tiongkok, telah diisi dengan perkantoran dan hotel Shanghai Grand Hyatt. Pada 2005, gedung ini menjadi gedung tertinggi di RRT, ke-lima tertinggi di dunia berdasarkan ketinggian atap dan ke-7 berdasarkan ketinggian pinnacle. Bersamaan dengan MenaraOriental Pearl, dia merupakan karya pusat di skyline Pudong.
Salah satu perkembangan yang maju pesat adalah sektor pariwisata. Saat ini tujuan favorit bagi turis lokal China maupun turis Asia adalah kota Jiuzhaiguo, yaitu: kota kecil pegunungan Himalaya, yang disulap menjadi pusat pariwisata cantik dan terpadu serta rinci.
Dimulai dari airport mungilnya, Huang Long, dibuat di salah satu gunung yang dipapas sehingga airport tersebut menjadi landasan terbang tertinggi di dunia dengan + 3,700 m di atas permukaan laut, dikelilingi gunung-gunung es.
Yang lebih mengasyikkan Cina juga menjual jalur sungai untuk kegiatan kepariwisataan. Banyak kapal-kapal pesiar lokal dan internasional wara-wiri (hilir mudik) di sepanjang Sungai Yangtze. Para turis diberi hidangan khas Cina, berkunjung ke tempat-tempat bersejarah di sepanjang Yangtze. Bahkan para turis bisa merasakan perjalanan seperti di Terusan Panama yang terkenal itu.
Wisata modern di Cina mulai bangkit pada 1954. Kala itu China International Travel Service berdiri danmembuka 14 kantor cabang. Antara lain id Guangzhou, Shanghai, Beijing. Sepuluh tahun kemudian terbentuklah secara resmi Administrasi Pariwisata Cina, lembaga yang memegang otoritas priwisatra di Chinga hingga sekarang.
Sejak lahirnya kebijakan reformasi di Cina serta terbukanya negeri itu untuk dunia luar pada 1978, pariwisata Cina sungguh berkembang pesat. Pada 1998, jumlah wisatawan di sana mencapai 63,48 juta orang. Sebanyak 7,11 juta orang diantaranya merupakan wisatawan mancanegara. Angka itu berkembang 35 kali lipat dibandingkan pada 1978.
Pada 2005 silam, Cina berhasil menggiring turis asing lebih banyak lagi, yaitu sampai 20,2 juta orang. Bandingkan dengan Indonesia. Turis asing yang menyambangi Indonesia hanya 4 juta orang, lebih kecil dari target 5,5 juta orang pada 2006.
Kembali ke Cina,. Dengan kunjungan tersebut Cina meraih angka devisa sebesar US$12,6 miliar (kurang lebih Rp117,1 triliun pada 1998. Pada tahun 2005 lalu, Cina berhasil mengeruk devisa wisata US$29,2 miliar dollar (Rp271,5 triliun). Tahun 2020 kelak, Cina bertekad menjadi negara tujuan wisata nomor wahid di dunia.
Nah, ketika wisatawan banyak mengunjungi Cina, otomatis tingkat taraf hidup mejadi meningkat. Dan buntutnya membuat banyak biro wisata membuka cabangnya di Cina untuk menarik warga Cina berwisata ke luar negeri.
Salah satu perkembangan yang maju pesat adalah sektor pariwisata. Saat ini tujuan favorit bagi turis lokal China maupun turis Asia adalah kota Jiuzhaiguo, yaitu: kota kecil pegunungan Himalaya, yang disulap menjadi pusat pariwisata cantik dan terpadu serta rinci.
Dimulai dari airport mungilnya, Huang Long, dibuat di salah satu gunung yang dipapas sehingga airport tersebut menjadi landasan terbang tertinggi di dunia dengan + 3,700 m di atas permukaan laut, dikelilingi gunung-gunung es.
Yang lebih mengasyikkan Cina juga menjual jalur sungai untuk kegiatan kepariwisataan. Banyak kapal-kapal pesiar lokal dan internasional wara-wiri (hilir mudik) di sepanjang Sungai Yangtze. Para turis diberi hidangan khas Cina, berkunjung ke tempat-tempat bersejarah di sepanjang Yangtze. Bahkan para turis bisa merasakan perjalanan seperti di Terusan Panama yang terkenal itu.
Wisata modern di Cina mulai bangkit pada 1954. Kala itu China International Travel Service berdiri danmembuka 14 kantor cabang. Antara lain id Guangzhou, Shanghai, Beijing. Sepuluh tahun kemudian terbentuklah secara resmi Administrasi Pariwisata Cina, lembaga yang memegang otoritas priwisatra di Chinga hingga sekarang.
Sejak lahirnya kebijakan reformasi di Cina serta terbukanya negeri itu untuk dunia luar pada 1978, pariwisata Cina sungguh berkembang pesat. Pada 1998, jumlah wisatawan di sana mencapai 63,48 juta orang. Sebanyak 7,11 juta orang diantaranya merupakan wisatawan mancanegara. Angka itu berkembang 35 kali lipat dibandingkan pada 1978.
Pada 2005 silam, Cina berhasil menggiring turis asing lebih banyak lagi, yaitu sampai 20,2 juta orang. Bandingkan dengan Indonesia. Turis asing yang menyambangi Indonesia hanya 4 juta orang, lebih kecil dari target 5,5 juta orang pada 2006.
Kembali ke Cina,. Dengan kunjungan tersebut Cina meraih angka devisa sebesar US$12,6 miliar (kurang lebih Rp117,1 triliun pada 1998. Pada tahun 2005 lalu, Cina berhasil mengeruk devisa wisata US$29,2 miliar dollar (Rp271,5 triliun). Tahun 2020 kelak, Cina bertekad menjadi negara tujuan wisata nomor wahid di dunia.
Nah, ketika wisatawan banyak mengunjungi Cina, otomatis tingkat taraf hidup mejadi meningkat. Dan buntutnya membuat banyak biro wisata membuka cabangnya di Cina untuk menarik warga Cina berwisata ke luar negeri.
Apa resepnya hingga Cina bertekad ingin menjadi negara wisata nomor wahid di unia?
Pertama, pembangunan infrastruktur yang serius. Dengan penduduk sebesar 1,2 miliar, mungkin kemacetan luar biasa selalu terjadi di Beijing? Kalau di jakarta, iya. Tapi tidak, di Cina. Karena China sudah mengembangkan sistem transportasi yang ciamik. Meliputi kereta bawah tanah dan jalan tol. China juga mengembangkan 1.122 rute penerbangan internasional dan domestik. Kini bus tingkat ber-AC ada di semua tempat indah tujuan wisata. China juga memperluas, membangun dan memugar hotel dan kini berjumlah lebih dari 3000 hotel berbintang. Hampir setiap hotel turis dapat memesan tiket kereta api, pesawat udara, kapal laut ke tujuan mana pun.
Apalagi, tanggal 8-24 Agustus 2008, Olimpiade Musim Panas 2008, secara resmi diselenggarakan di Beijing, Cina. Menurut Lu Haijun, Direktur Komando Pembangunan Lingkungan 2008 kota Beijing, pada tahun 2007, pihak terkait kota Beijing akan menyusun cetak biru tentang pembangunan lanskap kota dengan memadukan faktor Olimpiade dan ciri khas kota Beijing agar dapat menciptakan suasana meriah demi penyelenggaraan Olimpide 2008. Lu Haijun menyatakan, pembangunan lingkungan adalah aspek penting strategi "New Beijing, Great Olimpiade".
Kedua, rencana strategis. Administrasi pariwisata Ciina merumuskan kebijakan dan pembangunan sistem guna pengembangan pariwisata, menyusun rencana pembangunan, mengorganisasi publikasi ke luar negeri dan menerbitkan informasi pariwisata, serta mengawasi pelaksanaan kebijakan dan rencana di lapangan. Lembaga ini memiliki kantor cabang di semua provinsi, wilayah dan daerah otonomi.
Ketiga, pembinaan pada biro perjalanan. Selalu terdapat biro perjalanan di setiap kota di China. Nah, di setiap kota China menetapkan tiga biro perjalanan untuk mengatur kedatangan wisatawan.
Kemudian pertanyaannya adalah, bagiamana dengan pariwisata nasional? Padahal, Indonesia memiliki sejuta pesona alam dan budaya yang bisa menjadi bersaing. Kita memiliki tujuan wisata bahari dan pantai yang sulit dicari tandingannya. Indonesia juga memiliki 17 ribu pulau, sebagian besar diantaranya pulau-pulau kecil nan elok, keindahan gunung Bromo, gunung Tangkubanperahu yang bisa dijual sebagai obyek wisata seperti diluar negeri.
Lantas, mengapa industri pariwisata kita seolah lumpuh? Ada baiknya kita menengok keberhasilan Cina dalam mengembangkan industri pariwisata mereka. Semoga.
No comments:
Post a Comment