Friday, 5 December 2008

Belajar Hidup Dari Fotografi


Foto: Dokumentasi Yuyung Abdi
Yuyung Abdi-Redaktur Foto Harian Jawa Pos
Foto sanggup menyajikan fakta relatif lebih realistik dan obyektif. Dalam fotografi jurnalistik, masalah yang mendasar adalah bagaimana sebuah foto dapat melukiskan dan merekam sebuah peristiwa secara tepat. Bagaimana kiatnya?

Kecintaannya pada dunia fotografi, mengantarkan Yuyung Abdi menekuni profesinya sebagai pewarta foto. Pria kelahiran Surabaya ini lebih memilih aktivitasnya dibalik lensa dibandingkan bekerja dengan rumus-rumus kimia yang ia pelajari di fakultas Sains dan Teknologi. Diakuinya, tak mudah untuk memilih diantara dua pilihan yang sangat sulit. “Padahal orangtua maunya saya bekerja sesuai ilmu kuliah,” kenang sarjana Kimia ini.

Alumni Universitas Arilangga-Surabaya itu mengatakan, sedikitpun ia tak menyesali bila mengais rezeki dari profesinya sebagai pewarta foto. Selain materi, dan pengetahuan, ia pun banyak belajar tentang realitas kehidupan dari dunia fotografi. Semua itu ia dapati dari seringya bertemu orang dengan beragam karakter, strata sosial, dan profesi. “Melalui fotografi, saya bisa menghadirkan orang dalam tawa, tangis, gembira atau sedih. Jadi tidak hanya membidik kemolekan dan kecantikan tubuhnya saja,” katanya.

Selain itu menurut pandagannya, karena hatinya sudah terpatri pada profesinya ini, ritme kerja yang dinamis menjadi konsekuensi yang harus diterimanya. “Pokoknya unik deh kerja sebagai fotografer jurnalistik,” kata pria yang mendapat penghargaan dari Harian Kompas sebagai salah satu fotografer yang mengembangkan fotojurnalistik Indonesia tahun 2007. Dimata Yuyung, profesi apaun bila digeluti dengan tekun dan fokus, akan memberikan manfaat dalam kehidupan.

Menurutnya, ada beberapa hal yang harus dimiliki bila ingin menjadi pewarta foto yang baik. Pertama, memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas agar tidak tertinggal informasi dan tidak sekadar memotret. Untuk liputan Spot News lanjut Yuyung, gerak dan langkah seorang fotografer harus lincah, sigap, cepat, tepat dan cermat dalam memperhitungkan analisis momen. “Sedangkan liputan soft news, seorang fotografer harus kuat dengan konsep, riset, ide dan kreatifitas,” ujarnya.

Pada prinsipnya kata Yuyun, seorang pewarta foto selain menjaga kebugaran tubuh, juga harus pandai melakukan pendekatan (approach) yang baik terhadap subyek yang akan difoto. “Artinya kita tidak boleh memperlakukan orang seperti benda mati,” ujarnya berpendapat. Bagi pengagum karya foto W. Eugene Smith, Robert Capa, Sebastian Salgado dan James Nacthwey ini, menghasilkan foto berkarakter dan memiliki soul, dirinya selalu berusaha untuk bisa mengendalikan emosi dan memahami emosi orang lain dalam setiap sesi pemotretan.

Lebih jauh ia bercerita, sejak terlibat dalam dunia fotografi jurnalistik, dirinya kerapkali menyempatkan diri melihat 50 karya foto jurnalistik ternama. “Biar saya tidak mati ide, dan karya saya bisa lebih kreatif dan inovatif,” ujarnya. Dan yang terpenting, seorang fotografer sebaiknya menghilangkan fanatisme dalam fotografi agar terhindar dari penyakit fotografer yaitu, “Merasa hebat dan lebih baik dari orang lain. Bahaya bila itu terjadi,” ungkapmya berpesan.

Lantas bagaimana menghasilkan fotografi jurnalistik yang baik dan benar? Dalam pandangannya, Yuyung sadar betul bila sebuah karya foto jurnalistik akan memiliki beragam tafsiran. Pasalnya , karya fotogari itu merupakan bahasa visual. Oleh karena itu ia selalu melihat dan memahami sebuah karya fotografi jurnalistik secara menyeluruh. Mulai dari arah cahaya, intensitas cahaya, komposisi, angle, warna, prespektif, foreground, background hingga eksposur.

”Ketika foto jurnalistik dipahami secara menyeluruh, maka apresiasi terhadap mutu karya jurnalistik akan lebih baik. Sebaiknya, foto itu tak hanya menyenangkan mata memandang, Tapi juga memiliki makna, menyentuh hati dan perasaan orang yang melihatnya,” ujarnya sungguh-sungguh.

Sekadar contoh ia menyebutkan, saat dirinya mengambil sisi lain dari lomba Miss Universe 2006 di Los Angeles, USA. Saat itu Miss Indonesia, Nadine Chandrawinata gaunya sempat terserimpet. Sementara Miss Israel, Anastacia Entine, membantu membenarkannya sebelum masuk acara lelang barang di Oakmont Country Club, Glendale, Los Angeles, USA. “Dengan pengambilan sisi lain ini, akhirnya foto itu muncul berbagai interpretasi dan bahan obrolan yang panjang,” papar lelaki yang telah melakukan pameran foto tahun 2007 di Brisbane, Australia dengan tema The Feeling Eye.
                                                                            ***.
Perjuangan Mengasah Hobi
Dunia fotogarfi, tampaknya terlalu menarik perhatian Yuyung Abdi. Bagaimana tidak? Sejak kecil penulis buku Fotografi Jurnalistik Sex For Sale, Potet Faktual Prostitusi 27 Kota di Indonesia ini sudah mengenal kamera sejak usia balita. Hampir di setiap kesempatan, sulung tiga bersaudara ini dijadikan obyek foto oleh sang ayah. Dan itu membekas hingga kini, bagaimana dirinya bergaya di depan lensa.

Diusianya yang ke 14 tahun, Yuyung memberanikan diri untuk menggunakan kamera SLR Minolta berlensa 50 mm. “Karena miskin pengetahuan teknik fotografi, dari lima shoot obyek dinamis hanya satu yang fokus,” ujar lelaki yang sempat merekam peristiwa berdarah di Sampit, Kalimatan Tengah.

Dia mengaku, untuk memperkaya wawasan dan mengasah keahlian teknik manual fotografi, Yuyung pun berburu buku fotografi diperpustakaan sekolahnya. “Karena rajin membaca buku fotografi dibandingkan buku pelajaran sekolah, nilai saya jeblok. Dari juara pertama di kelas, menjadi rangking paling akhir di kelas,” katanya lantas tertawa.

Kebiasaan memotret tetap berlangsung hingga SMA. Selepas pulang sekolah, bukan rumah yang pertamakali dituju. Melainkan pasar dan gerbong kereta api ia abadikan sebagai obyek mengasah teknik fotografi. “Foto-foto human interest salah satu bagian kesukaan saya dalam menangkap realitas kehidupan yang humanis,” paparnya.

Mengasah hobi fotografinya terus bekembang hingga ia kuliah di Fakultas Sains dan Teknologi,Universitas Arilangga, Surabaya. Berbekal kamera pembelian sang ayah Canon AE1 dengan lensa tele 300 mm itulah, beberapa wanita cantik teman kuliahnya ia jadikan model dengan beragam pose berkonsep outdoor. “Melalui hobi motret ini, saya jadi banyak teman,” ungkap pria yang kini menggunakan kamera Canon EOS 1D mark III. 

Haris Maryasno (Tulisan ini telah dimuat di Majalah Indonesian Photographer Edisi 07, 2008)

1 comment:

  1. waahh.. tau blognya Mas Yuyung Jp ga? sy pernah diajarin fotografi sm beliau...

    ReplyDelete