Tuesday, 16 December 2008

Client Is The King

Foto Dokyumentasi: Appindonesia.com
Edward Tigor Siahaan
Saat ini tak ada kegiatan bisnis yang tidak memerlukan foto. Namun dibalik itu, untuk mendapatkan order corporate dibutuhkan keahlian fotografi, sabar dan pantang menyerah.

Sekali jatuh cinta, selamanya tak akan berpaling. Ini bukan sok romantis. Tapi begitulah kisah Edward Tigor Siahaan, di dunia fotografi. Sosok pria kelahiran Sumatera Utara ini, dikenal fotografer profesional yang mengerjakan bidang fotografi corporate dan stock image. Bagi Tigor, begitu ia biasa disapa, tahun 1985, awal dirinya mulai takjub melihat teknologi kamera. Hanya menekan tombol shutter, katanya, dapat menghasilkan gambar sesuai realitas.

Dibalik ketakjubannya itu, ia mulai mempelajari teknik memotret dengan secara otodidak. Segala macam buku dan artikel fotografi ia “lahap” habis tanpa sisa. Tahun 1989 Tigor mulai mendapatkan hasil dari proses pembelajarannya di dunia fotografi. Majalah SWA yang banyak mengulas ekonomi dan bisnis itu, menerimanya sebagai fotografer.

Seiring berjalannya waktu, Tigor seringkali bertemu dan memotret pelaku bisnis serta pabrik. Dari situlah pria berkacamata ini melihat sebuah peluang bisnis yang sesuai dengan dirinya. Tahun 1993, ia memilih menjadi fotografer lepas di Majalah SWA. Dan, di tahun itu pula, Tigor memperdalam ilmu fotografi secara formal di Saint Martin College of Art & Design, London, Inggris.

Sepulang dari London, ia menancapkan keteguhan hatinya menjadi fotografer profesional dan dunia foto bagian dari hidupnya. “Untuk itu, saya harus bekerja keras, sabar dan konsisten,” katanya mantap. Dan, “Untuk mencari nafkahnya, di corporate photography,” katanya bercerita.

Dimata staff pengajar London School of public relations ini, corporate photography adalah, bagaimana seorang fotografer dapat mewujudkan bahasa verbal yang ada dalam pikiran klien, “Kemudian kita bisa aktualisasikan menjadi bahasa visual,” katanya, sungguh-sungguh. Adapun foto-foto yang harus diabadikan katanya meliputi: eksekutif, aset perusahaan, kegiatan operasional dan corporate social responbility.

Lebih lanjut lelaki yang juga pengajar di Darwis Triadi School of Photography itu mengatakan, hasil foto corporate photography diharapkan dapat memunculkan image baik sebuah perusahaan. “Jadi saya bekerja berdasarkan informasi klien. Makanya, saya harus bisa memvisualkan apa yang diingkan oleh klien,” ujarnya, lantas tersenyum.

Memang, untuk menjadi fotografer corporate, katanya, dibutuhkan beberapa persayaratan. Selain menguasi teknik fotografi secara baik dan benar serta peralatan fotografi yang terkini, “Kita juga harus punya wawasan tentang dunia bisnis dan banyak tahu tentang perkembangan bisnis di Indonesia,” katanya. Sebab lanjut Tigor, “Pengguna jasa fotografi corporate secara umum adalah perusahaan yang sudah Go Public,” ujarnya. Satu hal yang harus dijaga bila ingin menggeluti dunia fotografi corporate adalah: semangat, dan kesabaran yang tinggi. Begitu pria berambut lurus ini berpesan.

Salah satu alasan seorang fotografer corporate harus bersikap sabar adalah, “Client is The King,” ujarnya mantap. Mengapa demikian? Menurut Tigor, semua itu dikarenakan semakin besar perusahaan yang menjadi targetnya, semakin panjang pula prosedur atau birokrasi yang harus dimiliki. “Karena pada dasarnya, kalau kita ingin menjadi fotografer corporate, harus memiliki sebuah badan usaha,” kata lelaki yang bernaung dibawah bendera usahanya Seni Jurnal.

Lantas, bagaimana cara mendapatkan order tersebut. Diakui pria berusia 43 tahun, hanya dua cara. Yaitu: direct client dan agency atau konsultan komunikasi. Bila order didapat direct client, seorang fotografer akan memperoleh briefing langsung dari perusahaan. “Manajemen akan memberkan pengarahan singkat tentang apa yang diingkan,” katanya. Sedangkan bila order di dapat melalui agency, pihak konsultan komunikasilah yang akan menjelaskan keinginan perusahan dan mengorganisir semuanya. “Jadi kita bisa melakukan tindakan marketing dari kedua arah,” paparnya.

Bicara soal tantangan, Tigor cukup mendapat tekanan. “Masalahnya yang kita potret itu eksekutif yang waktunya sedikit,” ujarnya. Untuk itu, ia selalu bekerja cepat, tepat dan berusaha meminimalisir kesalahan. “Karena yang membuat waktu untuk pemotretan bukan saya. Tapi top eksekutif perusahaan,” katanya bersungguh-sungguh.

(Hris Maryasno. Tulisan ini sudah diterbitkan di Majalah Indonesian Photographer edisi-02-2007)

1 comment:

  1. aditya christianNovember 11, 2009

    gawat juga nih dosen gw,,, hahaha

    ReplyDelete