
Gerard Adi Wijaya
Persaingan bisnis di dunia fotografi komersial dewasa ini semakin ketat, seiring perkembangan teknologi dan menjamurnya pemain baru. Tak heran, bila beragam cara ditempuh para fotografer untuk bertahan dan memperbesar volume kliennya. Seperti apa caranya?
Sukses seringkali datang pada mereka yang berani bertindak. Dan jarang kesuksesan menghampiri orang penakut yang tidak berani mengambil konsekuensi. Perumpamaan inilah yang kini mendapat pembenaran dalam diri seorang pria berkulit putih ini yang sukses dibisnis komersial fotografi: Gerard Adi Wijaya.
Ada apa gerangan? Kalender harus dikembalikan dahulu di tahun 1991. Kala itu, pria kelahiran Purwokerto, Mei 1970 yang tercatat sebagai mahasiswa Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung, jursan arsitektur ini, bingung memilih antara profesi arsitek atau fotografer. Baginya, kedua profesi ini kelak menjanjikan dan memberikan kehidupan yang layak dalam hal materi.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya sungguh di luar dugaan. Setelah ia berkenalan dengan Darwis Triadi, Art Li dan Warren, ia seperti perangko dengan amplopnya: lengket dengan hobi fotografinya yang sudah digelutinya. Ia sangat terkesan dengan ketiga orang diatas, dan karena merekalah dirinya terinspirasi menjadi fotografer profesional. “Saya melihat waktu mereka dibayar mahal. Wah, enak banget. Sudah hobi motret, eh.. dibayar mahal lagi,” katanya lantas tertawa.
Seiring dengan pengayaan wawasannya di dunia fotografi, tahun 1996 langkah pertama diayun Gerard, ketika menerima order pemotretan dari Topaz Galleria Hotel dengan honor kurang lebih satu juta rupiah. Seirring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit proyek pemotretan mulai menghampirinya. Untuk itu, ia pun menetapkan pilihan menjadi fotografer profesional dibidang:Commercial Photography. “Butuh perjuangan dan kepercayaan diri untuk bisa eksis di fotografi komersial,” kata lelaki yang tercatat sebagai anggota Assosiasi Photographer Professional Indonesia (APPI), tahun 1998.
Setelah itu, jalan pun terentang lapang. Reputasinya di dunia komersial fotografi, cukup diperhitungkan. Rahasia dibalik pertumbuhan bisnisnya, Gerard mengatakan, semua itu tak lepas dari standar kerja yang dipegangnya meliputi: equipment, quality, service. Selain itu, dirinya selalu menjaga hubungan baik dengan agency untuk mendapatkan order berikutnya. Seperti mengerjakan foto perusahaan (corporate photography) dari pengiklan. “Semua itu tergantung bagaimana kita mentreatment, mengadjus, lentur serta bersikap profesional terhadap keinginan klien,” katanya bersungguh-sungguh.
Perkembangan dunia fotografi terus bergerak cepat, sehingga ekspekstasi orang kepada fotografi begitu tinggi. Tak heran jika sekarang ini, dunia fotografi layaknya sebuah industri film. Pasalnya, untuk menggarap sebuah foto komersial, harus melalui beberapa tahapan. Seperti: Pre production, production dan post production (digital imaging). “Kalau dulu, hanya sampai proses fotografi saja. Tapi sekarang, hingga ke proses digital imaging,” katanya.
Lebih lanjut pria berkulit putih ini menjelaskan, sebagai fotografer profesional, digital imaging, bukan sesuatu yang harus. Tapi dibutuhkan untuk mempercantik dan mendapatkan efek yang maksimal dari satu materi foto yang sudah bagus dan terencana sejak awal pemotretan. “Jadi, digital imaging hanya berfungsi sebagai enhancer bukan creator hasil pemotretan,” ujarnya tegas.
Seperti ia mencontohkan bagaimana cara membuat sebuah foto komersial, Kijang Innova versi natal 2007. Sejak awal konsep itu diterima, dirinya berusaha agar pesan dari foto iklan yang ia ciptakan kelak sampai ke masyarakat. “Konsep adalah sesuatu yang sangat penting dalam menghasilkan foto. Mengapa? Karena konsep itu merupakan jembatan atau media komunikasi untuk menyampaikan sebuah pesan melalui gambar. Dan seorang fotografer sudah selayaknyalah memikirkan hal itu. Tidak sekadar jepret,” katanya.
Oleh karena itu ia berusaha semaksimal mungkin agar semua sisi terpenuhi. Mulai dari sisi komersial hingga artnya. “Itu yang terpenting,” tuturnya singkat. Meski konsep iklan mobil Kijang Innova versi natal yang ditawarkan agency ,tidak mungkin diambil secara one shot. Sebagai treatmentnya, Gerard pun memotret beberapa item secara terpisah. Mulai dari ekstrior dan interior rumah, mobil Kijang Innova dari beragam angle, pohon natal, dan model.
Maka dari itu ia berpendapat, bila seorang fotografer melakukan eksekusi pemotretan dengan komposisi pencahayaan (lighting composition) yang tidak proporsional, tanpa memperhatikan detail-detail seperti: highlight, shadow, over/under exposure dan ketajaman gambar (sharpness) mengakibatkan fotografer akan menggunakan digital imaging untuk menciptakan suatu komposisi pencahayaan yang semu sebagai solusinya. “Tentunya, cara kerja seperti ini tidaklah menunjukkan cara kerja dari seorang fotografer yang profesional. Dampaknya, kita akan mengalami kesulitan untuk memperoleh hasil karya foto yang optimal,” katanya lantas tersenyum.
Bicara persaingan bisnis di dunia fotografi komersial dewasa ini, diakui Gerard semakin ketat sehingga banyak bermunculan pemain baru yang berkecimpung di dunia fotografi komersial dengan portofolio yang bagus. Akibatnya beragam cara ditempuh para fotografer untuk dapat bertahan dan memperbesar volume kliennya. Salah satunya, banting harga dengan diskon gila-gilaan. Akan tetapi ia mengingatkan, klien di dunia fotografi komersial berasal dari kalangan profesional yang tentunya lebih mengutamakan kualitas. Jadi katanya, harga murah belum tentu dilirik agency.
Dimata Gerard, ada beberapa aspek yang diperhatikan pihak agency. Diantaranya: selain fotografer memiliki standar kerja, dapat bekerja secara tim. Mengapa? “Karena disaat bekerja saya didukung oleh tim seperti: kru, produser, asisten dan pihak agency. Meski saat eksekusi, 80%-90% saya yang pegang kendali. Kenapa? Karena saya yang melihat dari lensa,” katanya.
Sejauh ini, menurut pengalaman Gerard, dunia fotografi komersial masih sangat menjanjikan meski dirasakannya begitu sempit dalam hal turn-over perpindahan kerja dari pekerja-pekerja iklan yang sangat tinggi. Bahkan, ada yang sudah keluar dari satu perusahaan, bisa kembali bekerja di perusahaan yang pernah ia tinggalkan. “Sekali black list dimata agency, pasti menyebarnya cepat sekali,” ujarnya serius.
Sukses seringkali datang pada mereka yang berani bertindak. Dan jarang kesuksesan menghampiri orang penakut yang tidak berani mengambil konsekuensi. Perumpamaan inilah yang kini mendapat pembenaran dalam diri seorang pria berkulit putih ini yang sukses dibisnis komersial fotografi: Gerard Adi Wijaya.
Ada apa gerangan? Kalender harus dikembalikan dahulu di tahun 1991. Kala itu, pria kelahiran Purwokerto, Mei 1970 yang tercatat sebagai mahasiswa Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung, jursan arsitektur ini, bingung memilih antara profesi arsitek atau fotografer. Baginya, kedua profesi ini kelak menjanjikan dan memberikan kehidupan yang layak dalam hal materi.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya sungguh di luar dugaan. Setelah ia berkenalan dengan Darwis Triadi, Art Li dan Warren, ia seperti perangko dengan amplopnya: lengket dengan hobi fotografinya yang sudah digelutinya. Ia sangat terkesan dengan ketiga orang diatas, dan karena merekalah dirinya terinspirasi menjadi fotografer profesional. “Saya melihat waktu mereka dibayar mahal. Wah, enak banget. Sudah hobi motret, eh.. dibayar mahal lagi,” katanya lantas tertawa.
Seiring dengan pengayaan wawasannya di dunia fotografi, tahun 1996 langkah pertama diayun Gerard, ketika menerima order pemotretan dari Topaz Galleria Hotel dengan honor kurang lebih satu juta rupiah. Seirring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit proyek pemotretan mulai menghampirinya. Untuk itu, ia pun menetapkan pilihan menjadi fotografer profesional dibidang:Commercial Photography. “Butuh perjuangan dan kepercayaan diri untuk bisa eksis di fotografi komersial,” kata lelaki yang tercatat sebagai anggota Assosiasi Photographer Professional Indonesia (APPI), tahun 1998.
Setelah itu, jalan pun terentang lapang. Reputasinya di dunia komersial fotografi, cukup diperhitungkan. Rahasia dibalik pertumbuhan bisnisnya, Gerard mengatakan, semua itu tak lepas dari standar kerja yang dipegangnya meliputi: equipment, quality, service. Selain itu, dirinya selalu menjaga hubungan baik dengan agency untuk mendapatkan order berikutnya. Seperti mengerjakan foto perusahaan (corporate photography) dari pengiklan. “Semua itu tergantung bagaimana kita mentreatment, mengadjus, lentur serta bersikap profesional terhadap keinginan klien,” katanya bersungguh-sungguh.
Perkembangan dunia fotografi terus bergerak cepat, sehingga ekspekstasi orang kepada fotografi begitu tinggi. Tak heran jika sekarang ini, dunia fotografi layaknya sebuah industri film. Pasalnya, untuk menggarap sebuah foto komersial, harus melalui beberapa tahapan. Seperti: Pre production, production dan post production (digital imaging). “Kalau dulu, hanya sampai proses fotografi saja. Tapi sekarang, hingga ke proses digital imaging,” katanya.
Lebih lanjut pria berkulit putih ini menjelaskan, sebagai fotografer profesional, digital imaging, bukan sesuatu yang harus. Tapi dibutuhkan untuk mempercantik dan mendapatkan efek yang maksimal dari satu materi foto yang sudah bagus dan terencana sejak awal pemotretan. “Jadi, digital imaging hanya berfungsi sebagai enhancer bukan creator hasil pemotretan,” ujarnya tegas.
Seperti ia mencontohkan bagaimana cara membuat sebuah foto komersial, Kijang Innova versi natal 2007. Sejak awal konsep itu diterima, dirinya berusaha agar pesan dari foto iklan yang ia ciptakan kelak sampai ke masyarakat. “Konsep adalah sesuatu yang sangat penting dalam menghasilkan foto. Mengapa? Karena konsep itu merupakan jembatan atau media komunikasi untuk menyampaikan sebuah pesan melalui gambar. Dan seorang fotografer sudah selayaknyalah memikirkan hal itu. Tidak sekadar jepret,” katanya.
Oleh karena itu ia berusaha semaksimal mungkin agar semua sisi terpenuhi. Mulai dari sisi komersial hingga artnya. “Itu yang terpenting,” tuturnya singkat. Meski konsep iklan mobil Kijang Innova versi natal yang ditawarkan agency ,tidak mungkin diambil secara one shot. Sebagai treatmentnya, Gerard pun memotret beberapa item secara terpisah. Mulai dari ekstrior dan interior rumah, mobil Kijang Innova dari beragam angle, pohon natal, dan model.
Maka dari itu ia berpendapat, bila seorang fotografer melakukan eksekusi pemotretan dengan komposisi pencahayaan (lighting composition) yang tidak proporsional, tanpa memperhatikan detail-detail seperti: highlight, shadow, over/under exposure dan ketajaman gambar (sharpness) mengakibatkan fotografer akan menggunakan digital imaging untuk menciptakan suatu komposisi pencahayaan yang semu sebagai solusinya. “Tentunya, cara kerja seperti ini tidaklah menunjukkan cara kerja dari seorang fotografer yang profesional. Dampaknya, kita akan mengalami kesulitan untuk memperoleh hasil karya foto yang optimal,” katanya lantas tersenyum.
Bicara persaingan bisnis di dunia fotografi komersial dewasa ini, diakui Gerard semakin ketat sehingga banyak bermunculan pemain baru yang berkecimpung di dunia fotografi komersial dengan portofolio yang bagus. Akibatnya beragam cara ditempuh para fotografer untuk dapat bertahan dan memperbesar volume kliennya. Salah satunya, banting harga dengan diskon gila-gilaan. Akan tetapi ia mengingatkan, klien di dunia fotografi komersial berasal dari kalangan profesional yang tentunya lebih mengutamakan kualitas. Jadi katanya, harga murah belum tentu dilirik agency.
Dimata Gerard, ada beberapa aspek yang diperhatikan pihak agency. Diantaranya: selain fotografer memiliki standar kerja, dapat bekerja secara tim. Mengapa? “Karena disaat bekerja saya didukung oleh tim seperti: kru, produser, asisten dan pihak agency. Meski saat eksekusi, 80%-90% saya yang pegang kendali. Kenapa? Karena saya yang melihat dari lensa,” katanya.
Sejauh ini, menurut pengalaman Gerard, dunia fotografi komersial masih sangat menjanjikan meski dirasakannya begitu sempit dalam hal turn-over perpindahan kerja dari pekerja-pekerja iklan yang sangat tinggi. Bahkan, ada yang sudah keluar dari satu perusahaan, bisa kembali bekerja di perusahaan yang pernah ia tinggalkan. “Sekali black list dimata agency, pasti menyebarnya cepat sekali,” ujarnya serius.
HARIS MARYASNO (Tulisan ini sudah dimuat Majalah Indonesian Photographer Edisi 06-2008
No comments:
Post a Comment