Tuesday, 16 December 2008

Learning by Doing


drg. Robert Tjahjono
Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Untuk mendapatkan kekuatan bisnis diperlukan ilmu sinergi dan memiliki visi misi yang sama.

Suasana serius maupun santai dengan perangkat teknologi informasi, menjadi pemandangan lazim mewarnai aktivitas mahasiswa penghuni Universitas Bina Nusantara (Ubinus) Internasional, di Gedung The Joseph Wibowo Center for Learning (JWC), Jalan Hang Lekir, Senayan, Jakarta Selatan. Di sanalah, di pojok jalan yang terdesak oleh mal, beberapa mahasiswa asyik bergegas meraba-raba tetikus laptop untuk menyembunyikan tampilan program yang semula menghiasi monitor laptop. Namun beberapa lainnya tenang-tenang saja karena mereka memang serius mengamati bahan-bahan kuliah yang terakses melalui internet.

Bicara perkembangan bisnis Ubinus, menurut drg. Robert Tjahyono Hadipuspito, selaku Business Development Leader Ubinus, tak lepas dari kepemimpinan almarhum Dr. Ir. Widia Suryaningsih.MM. Menurut bungsu enam bersaudara ini, kakaknya Widia, bukan termasuk wanita manja. Semua usaha untuk memajukan Ubinus hingga seperti sekarang ini diraih penuh perjuangan, kesabaran, keikhlasan dan kerja keras. Sedepa demi sedepa. Begitulah perjalanan lembaga pendidikan yang diprakarsai ayah Robert (almarhum Joseph Wibowo).

Lantas, apa kunci kesuksesan Ubinus yang semula lembaga kursus, kemudian menjadi akademi, sekolah tinggi, hingga akhirnya memperoleh status universitas seperti saat ini. “Kita mengandalkan kekuatan Tuhan. Kalau kita memiliki visi dan misinya mengandalkan Tuhan, kita akan dibawa dalam rencana Tuhan tanpa pernah kita perhitungkan sebelumnya,” kata lelaki yang sempat menjadi penerima pendaftaraan murid baru dan marketing Bina Nusantara saat mulai berdiri bernama Modern Computer Course, tahun 1974. “Semua sudah disiapkan Tuhan. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi, akan menjadi mungkin, bila Tuhan sudah berkehendak,” ujarnya, lantas tersenyum.

Diakui Robert, public sharing yang bertujuan menolong orang lain, menjadi landasan bisnis Ubinus selama ini. “Pesan ayah saya, Binus itu bukan hanya sekadar bisnis semata. Tapi harus juga berbagi dengan sesama yang tidak mampu,” katanya. Tak heran, bila pada awalnya Ubinus beroperasi, bekerjasama dengan Panti Asuhan Vincentius di Jalan Kramat Raya. “Kalau kita dapat 10 siswa, maka kita harus memberikan kontribusi kepada orang lain sebanyak 10 orang juga,” ujar Robert yang mulai membuka rahasia jalan kesuksesan Binus.

Menurut alumnus Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Prof. Dr. Moestopo, Jakarta, persaingan bisnis di dunia pendidikan begitu ketat. Untuk menyikapi dan menyiasatinya, ia punya kiat tersendiri. “Saya memiliki prinsip dalam mengembangkan usaha secara kemitraan. Dan, kompetitor selalu saya jadikan mitra untuk saling bersinergi,” ungkap pria yang sempat mengikuti Training N.L.P Programme (S.Q) di Binus. Dan hasilnya, “Akan win-win solution,” katanya.

Dengan membawa prinsip kemitraan itulah, pria berusia 49 tahun ini lebih leluasa mengembangkan bisnis Ubinus. Sebagai ilustrasinya, dalam membawa bendera sinergi dan kemitraan, saat Robert bertemu “orang besar”, ia memposisikan menjadi “orang kecil”. Baginya, dalam kondisi itulah ia banyak mendengar dari kelebihan orang besar. “Makanya saya pakai kelebihan orang besar itu untuk membuat strategi kita menjadi lebih besar,” ujarnya. Selain itu tambah suami Diana Liyanto, dalam menghadapi persaingan bisnis, “Bila kita semakin dekat dengan Tuhan, maka hikmah Tuhan akan datang. Suara hati akan bicara. Bukan feeling atau akal budi yang bicara,” ujar pria yang juga memiliki usaha dibidang Training Centre.

Lebih jauh penggemar travelling ini menyatakan, dalam menjalankan roda usaha, mundur dari gelanggang bisnis sangat tidak dianjurkan dalam segala kondisi. “Artinya, kalau kita sudah menancapkan bendera, harus sampai berhasil. Banyak entrepreneur gagal usahanya ditengah jalan. Baru dua atau empat kali gagal, berhenti. Buat saya, kegagalan itu adalah proses belajar atau learning by doing,” ujarnya menutup wawancara kepada Prioritas BCA.

Sejarah Universitas Bina Nusantara

Universitas Bina Nusantara pada awalnya adalah sebuah lembaga pendidikan komputer yang berdiri tanggal 21Oktober 1974 dengan nama Modern Computer Course (MCC). Berkat Landasan yang kuat, visi yang jelas, dan dedikasi tinggi yang bersinambungan, lembaga ini terus berkembang. Pada tanggal 1 Juli 1981, MCC berubah menjadi Akademi Teknik Komputer (ATK). Lalu tanggal 13 Juli 1984 berubah menjadi AMIK Jakarta, kemudian pada tanggal 21 September 1985, AMIK Jakarta berganti nama menjadi AMIK Bina Nusantara yang pada tanggal 9November 1987 dilebur kedalam STMIK Bina Nusantara.

Perkembangan Bina Nusantara berlanjut ketika tanggal 10 Mei 1993 mendirikan program Pascasarajana/MM Sistem Informasi dan akhirnya 8 Agustus 1996, Universitas Bina Nusantara (UBiNus) berdiri dan secara sah diakui pemerintah. STMIK Bina Nusantara kemudian melebur ke dalam Universitas Bina Nusantara tanggal 20 Desember 1998, sehingga UBiNus memiliki: Fakultas Ilmu Komputer, Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknik, Fakultas Sastra, Fakultas MIPA dan Program Ganda dan Program Pascasarjana.

Pada Akhir tahun 1997 UBiNus memperoleh Sertifikasi Manajemen mutu internasional. Sejak tahun 2001 UBiNus menyelenggarakan Program BiNus International bekerjasama dengan RMIT, Curtin University dan Murdoch University dari Australia, dengan 4 jurusan yaitu: Computer Science, Information Systems, Accounitng dan Marketing.

(Haris Maryasn. Tulisan ini sudah dimuat di Majalah Prioritas BCA,April 2007)

No comments:

Post a Comment