E-Commerce
Dengan melakukan kegiatan bisnis secara online, perusahaan-perusahaan dapat menjangkau pelanggan di seluruh dunia. Oleh karena itu dengan memperluas bisnis, sama saja dengan meningkatkan keuntungan.
Anda barangkali pernah mendengar slogan eat at home, sleep at home, learn at home and make money at home. Benar, begitulah gambaran betapa internet telah membuat segalanya menjadi lebih mudah dan murah. Anda sekarang dapat memiliki pustaka dan kantor terbesar di dunia, di dalam rumah Anda sendiri. 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu. Anda bisa mengaksesnya kapanpun dan dimanapun.
Perkembangan Teknologi Informasi (TI) makin tumbuh pesat. Suatu hal yang membuat setiap individu dari latar belakang manapun dan apapun mau tidak mau, suka tidak suka, harus bersentuhan dengan teknologi ini. Karena TI telah menyentuh hampir setiap lini kehidupan. Terutama internet, telah mengubah cara orang berkomunikasi, belajar dan bahkan berbisnis.
Namun demikian banyak juga orang yang tak siap menerima perubahan ini. Padahal bukan rahasia lagi bahwa internet telah mempermudah bahkan memanjakan penggunanya yang mengerti bagaimana memaksimalkan fasilitas internet, dalam memenuhi kebutuhan hidup. Sehingga kini muncul gaya hidup baru yang dikenal dengan e-LifeStyle.
Dalam gaya hidup teknoligi infomasi terkini, buat orang sibuk sepertinya tak ada waktu untuk berbelanja. Mulai dari kebutuhan elektronik, olahraga, buku, otomotif dan lain sebagainya. Saat ini, jual-beli barang tak harus bertatap muka. Cukup meng-klik barang yang diinginkan pada sebuah situs, barang pun tiba.
Pergeseran lifestyle ini merangsang tumbuhnya industri e-commerce (electronic commerce) yang semakin dinamis di Indonesia. Sebenarnya apa e- commerce (electronic commerce ) itu? Menurut Jeffrey Bahar Managing Director Southeast Asia Spire Research and Consulting, e- commerce adalah: transaksi penjualan, pembelian dan pembayaran yang dilakukan secara on line.
Jeffrey pun melanjutkan kalimatnya, bila konsumen di Indonesia seringkali melakukan transaksi on line sebatas hanya membeli barang saja. Tiba giliran proses pembayaran dilakukan secara off line. Cara inilah yang menjadikan menjadikan bisnis e- commerce di Indonesia tidak dapat tumbuh sebagai e-commerce murni. Adapun cara yang dipilih adalah transfer melalui bank, ATM atau Cash On Delivery COD.
Lantas, mengapa prilaku pembeli melakukan sistem pembayaran melalui cara tradisional? Menurut Jeffrey, bila di luar negeri sekitar 80-90 persen, masyarakatnya sudah percaya mekanisme pembayaran e-commerce secara on line dengan kartu kredit. Mekanisme e-commerce yang baik, lanjut Jeffrey sebaiknya melalui internet banking. Gunakan jasa perbankan seperti BCA yang sudah memiliki pelayanan Mobile banking atau layanan internet lainnya. “Saat ini mekanisme pembayaran melalui internet sudah aman. Tinggal penggunanya mau menggunakan atau tidak,” ujarnya.
Dalam sebuah laporan survey akhir tahun 2005 silam yang dilakukan Situs ABCmoney memberitakan, bahwa penduduk Amerika belanja online sebesar US$ 25 miliar setiap minggunya. Hasil studi dari konsultan ini cukup mencengangkan. Padahal selisih dengan tahun sebelumnya cuma naik 25 sen per pembeli.
Adapun barang yang paling dicari adalah: pakaian, computer, dan elektronik. Yang menarik adalah para pembeli mengetahui tempat belanja dari search engine Google (40.5%) dan Yahoo (20.9%). Di sisi lain, Ebay dan Amazon tetap menjadi tempat menarik bagi para pembeli.
Lantas bagaimana dengan Indonesia? Menilik dari data Spire Research and Consulting, jumlah transaksi on line tahun 2001 di Indonesia hanya 70 ribu. Ternyata angka ini meningkat sepuluh kali lipatnya di tahun 2006 menjadi 780 ribu. Bila dihitung-hitung secara rupiah, nilai trasaksinya berjumlah Rp 500 miliar. “Tahun 2009, diperkirakan jumlah transaksi menembus angka Rp2,4 triliun,” kata Jeffrey sungguh-sungguh.
Melihat angka itu, peluang bisnis perdagangan di ranah maya cukup menggiurkan dan mudah dalam mendirikannya. Pemilik gerai maya tak harus perusahaan besar. Namun perseorangan pun dapat dilakukan dengan situs “seadanya”. Bisa dikatakan, meski di dalam rumah, bisnis tetap berjalan. “Untuk buat situs, dan hostingnya cukup outshourching dengan biaya pembuatannya tak mahal ,” ujar Jeffery. Jika dihitung secara matematika, biaya awal yang dikeluarkan cukup Rp20 juta .
Teknik promosinya pun cukup sederhana. Agar telihat oleh pelanggan, promosi berita dari mulut ke mulut, posting di newsgroup, dan mendaftarkan diri di search engine, sangat efisien dan efektif “Kalau promosinya berjalan lancar dan jumlah pelanggan terus bertambah setiap hari, diperkirakan dalam jangka waktu enam bulan modal sudah bisa kembali,” katanya optimis.

Jika ditelisik lebih jauh bisnis online di Indonesia sudah tumbuh subur yang didominasi situs ber-basic elektronik sebagai komoditi jualannya. Situs-situs seperti Glodokshop.com, Bhinneka.com merupakan situs e commerce yang menyedot pasar on line terbanyak. “Setelah elektronik situs lain yang potensi pasarnya sekarang juga berkembang adalah travel,” ujar Jeffrey.
Situs lain Gramedia.com atau kutubuku.com juga terus menyeruak sebagai toko buku on line yang kian eksis. Gramedia dengan customer basenya yang besar, sepertinya mulai merubah model penjualannya. Hal senada juga terjadi pada industri penjualan bungan on line. Saat ini ada kecenderungan orang semakin melirik toko-toko bunga on line seperti indoflorist.com karena di dorong oleh bentuk kepraktisannya.
Transaksi on line di Indonesia memang tengah merebak. Tetapi jika dibandingkan dengan transaksi on line di Amerika Serikat khususnya pada situs Amazon.com angka perbandingannya masih terpaut jauh. “Kalau di Indonesia nilainya sekitar 57 US Dollar di Amerika 200 kali lipatnya yaitu 10,6 billion US Dollar,” papar Jeffrey. Akan tetapi jika ditilik dari sisi potensi ke depan Indonesia lebih prospektif karena di Indonesia pertumbuhannya akan dimungkinkan hingga 91 persen. Sedang Amazon.com sudah pada titik yang stagnan 25 persen.
Kendati demikian masih ada sedikit kejanggalan pada tumbuhnya industri e commerce di Indonesia. Sebagaimana diungkapkan Jeffrey bahwa, “Bisnis e commerce sebenarnya tidak terbatas pada transaksi jual belinya saja yang on line. Tapi juga segi pembayarannya. Dan sayangnya hal ini tidak terjadi di Indonesia,” ujarnya.
Sebenarnya, faktor yang membuat bisnis e commerce di Indonesia tersebut terus tumbuh, lantaran adanya pengaruh dari gaya hidup dan berkembangnya industri internet.
(Haris Maryasno. Tulisan ini sudah dimuat di mJalah Prioritas BCA, April 2007)
Anda barangkali pernah mendengar slogan eat at home, sleep at home, learn at home and make money at home. Benar, begitulah gambaran betapa internet telah membuat segalanya menjadi lebih mudah dan murah. Anda sekarang dapat memiliki pustaka dan kantor terbesar di dunia, di dalam rumah Anda sendiri. 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu. Anda bisa mengaksesnya kapanpun dan dimanapun.
Perkembangan Teknologi Informasi (TI) makin tumbuh pesat. Suatu hal yang membuat setiap individu dari latar belakang manapun dan apapun mau tidak mau, suka tidak suka, harus bersentuhan dengan teknologi ini. Karena TI telah menyentuh hampir setiap lini kehidupan. Terutama internet, telah mengubah cara orang berkomunikasi, belajar dan bahkan berbisnis.
Namun demikian banyak juga orang yang tak siap menerima perubahan ini. Padahal bukan rahasia lagi bahwa internet telah mempermudah bahkan memanjakan penggunanya yang mengerti bagaimana memaksimalkan fasilitas internet, dalam memenuhi kebutuhan hidup. Sehingga kini muncul gaya hidup baru yang dikenal dengan e-LifeStyle.
Dalam gaya hidup teknoligi infomasi terkini, buat orang sibuk sepertinya tak ada waktu untuk berbelanja. Mulai dari kebutuhan elektronik, olahraga, buku, otomotif dan lain sebagainya. Saat ini, jual-beli barang tak harus bertatap muka. Cukup meng-klik barang yang diinginkan pada sebuah situs, barang pun tiba.
Pergeseran lifestyle ini merangsang tumbuhnya industri e-commerce (electronic commerce) yang semakin dinamis di Indonesia. Sebenarnya apa e- commerce (electronic commerce ) itu? Menurut Jeffrey Bahar Managing Director Southeast Asia Spire Research and Consulting, e- commerce adalah: transaksi penjualan, pembelian dan pembayaran yang dilakukan secara on line.
Jeffrey pun melanjutkan kalimatnya, bila konsumen di Indonesia seringkali melakukan transaksi on line sebatas hanya membeli barang saja. Tiba giliran proses pembayaran dilakukan secara off line. Cara inilah yang menjadikan menjadikan bisnis e- commerce di Indonesia tidak dapat tumbuh sebagai e-commerce murni. Adapun cara yang dipilih adalah transfer melalui bank, ATM atau Cash On Delivery COD.
Lantas, mengapa prilaku pembeli melakukan sistem pembayaran melalui cara tradisional? Menurut Jeffrey, bila di luar negeri sekitar 80-90 persen, masyarakatnya sudah percaya mekanisme pembayaran e-commerce secara on line dengan kartu kredit. Mekanisme e-commerce yang baik, lanjut Jeffrey sebaiknya melalui internet banking. Gunakan jasa perbankan seperti BCA yang sudah memiliki pelayanan Mobile banking atau layanan internet lainnya. “Saat ini mekanisme pembayaran melalui internet sudah aman. Tinggal penggunanya mau menggunakan atau tidak,” ujarnya.
Dalam sebuah laporan survey akhir tahun 2005 silam yang dilakukan Situs ABCmoney memberitakan, bahwa penduduk Amerika belanja online sebesar US$ 25 miliar setiap minggunya. Hasil studi dari konsultan ini cukup mencengangkan. Padahal selisih dengan tahun sebelumnya cuma naik 25 sen per pembeli.
Adapun barang yang paling dicari adalah: pakaian, computer, dan elektronik. Yang menarik adalah para pembeli mengetahui tempat belanja dari search engine Google (40.5%) dan Yahoo (20.9%). Di sisi lain, Ebay dan Amazon tetap menjadi tempat menarik bagi para pembeli.
Lantas bagaimana dengan Indonesia? Menilik dari data Spire Research and Consulting, jumlah transaksi on line tahun 2001 di Indonesia hanya 70 ribu. Ternyata angka ini meningkat sepuluh kali lipatnya di tahun 2006 menjadi 780 ribu. Bila dihitung-hitung secara rupiah, nilai trasaksinya berjumlah Rp 500 miliar. “Tahun 2009, diperkirakan jumlah transaksi menembus angka Rp2,4 triliun,” kata Jeffrey sungguh-sungguh.
Melihat angka itu, peluang bisnis perdagangan di ranah maya cukup menggiurkan dan mudah dalam mendirikannya. Pemilik gerai maya tak harus perusahaan besar. Namun perseorangan pun dapat dilakukan dengan situs “seadanya”. Bisa dikatakan, meski di dalam rumah, bisnis tetap berjalan. “Untuk buat situs, dan hostingnya cukup outshourching dengan biaya pembuatannya tak mahal ,” ujar Jeffery. Jika dihitung secara matematika, biaya awal yang dikeluarkan cukup Rp20 juta .
Teknik promosinya pun cukup sederhana. Agar telihat oleh pelanggan, promosi berita dari mulut ke mulut, posting di newsgroup, dan mendaftarkan diri di search engine, sangat efisien dan efektif “Kalau promosinya berjalan lancar dan jumlah pelanggan terus bertambah setiap hari, diperkirakan dalam jangka waktu enam bulan modal sudah bisa kembali,” katanya optimis.
Jika ditelisik lebih jauh bisnis online di Indonesia sudah tumbuh subur yang didominasi situs ber-basic elektronik sebagai komoditi jualannya. Situs-situs seperti Glodokshop.com, Bhinneka.com merupakan situs e commerce yang menyedot pasar on line terbanyak. “Setelah elektronik situs lain yang potensi pasarnya sekarang juga berkembang adalah travel,” ujar Jeffrey.
Situs lain Gramedia.com atau kutubuku.com juga terus menyeruak sebagai toko buku on line yang kian eksis. Gramedia dengan customer basenya yang besar, sepertinya mulai merubah model penjualannya. Hal senada juga terjadi pada industri penjualan bungan on line. Saat ini ada kecenderungan orang semakin melirik toko-toko bunga on line seperti indoflorist.com karena di dorong oleh bentuk kepraktisannya.
Transaksi on line di Indonesia memang tengah merebak. Tetapi jika dibandingkan dengan transaksi on line di Amerika Serikat khususnya pada situs Amazon.com angka perbandingannya masih terpaut jauh. “Kalau di Indonesia nilainya sekitar 57 US Dollar di Amerika 200 kali lipatnya yaitu 10,6 billion US Dollar,” papar Jeffrey. Akan tetapi jika ditilik dari sisi potensi ke depan Indonesia lebih prospektif karena di Indonesia pertumbuhannya akan dimungkinkan hingga 91 persen. Sedang Amazon.com sudah pada titik yang stagnan 25 persen.
Kendati demikian masih ada sedikit kejanggalan pada tumbuhnya industri e commerce di Indonesia. Sebagaimana diungkapkan Jeffrey bahwa, “Bisnis e commerce sebenarnya tidak terbatas pada transaksi jual belinya saja yang on line. Tapi juga segi pembayarannya. Dan sayangnya hal ini tidak terjadi di Indonesia,” ujarnya.
Sebenarnya, faktor yang membuat bisnis e commerce di Indonesia tersebut terus tumbuh, lantaran adanya pengaruh dari gaya hidup dan berkembangnya industri internet.
(Haris Maryasno. Tulisan ini sudah dimuat di mJalah Prioritas BCA, April 2007)
No comments:
Post a Comment