Friday, 5 December 2008

Memotret Dengan Mata Hati


Deniek G. Sukarya-fotografer Profesional

Sebelum tombol shutter ditekan, fotografer harus bisa melihat, merasakan, mendengarkan kemudian menikmati. Bila fotografer dapat merasakan hasil fotonya, maka orang lain pun bisa merasakannya juga. Bagaimana caranya?

Memotret Candi Borobudur memang memberikan satu tantangan tersendiri. Pasalnya, obyek terkenal ini telah difoto jutaan kali oleh fotografer professional maupun amatir. Akibatnya, setiap fotografer dituntut untuk mampu membuat satu interpretasi visual yang belum pernah dibuat sebelumnya.

Lantas, mengapa sebuah foto dengan obyek yang sama, kamera dan teknik fotografi yang serupa, hasilnya berbeda ketika dijepret oleh dua orang yang berbeda? Jawabannya adalah: karena dibalik kamera ada orang berbeda, insting, rasa dan selera keindahan yang berbeda pula. “Karena fotografi tidak terlepas dari seni. Seperti: seni menangkap obyek, mengatur pencahayaan, bayangan, keseimbangan dan asimetris sehingga fotografer dapat menangkap keindahan di dalamnya,” kata Deniek G. Sukarya, usai memaparkan makalah fotografi di arena Focus 2008 dengan tema: The Magic of Landscape.

Untuk bisa merekam foto pemandangan yang mempesona, berdasarkan pengalamannya selama ini, Deniek tak langsung memotret. Terlebih dahulu, pria yang sudah dikaruniai dua orang anak ini akan berjalan di seputar lokasi, melihat, mengamati, merasakan, mendengarkan serta menikmati suasana. Setelah itu, dia baru berfikir bagaimana caranya untuk bisa menerjemahkan perasaan dirinya ke dalam sebuah foto. Bila itu sudah dimiliki, dipastikan fotonya akan lebih memiliki jiwa dan cantik.

Lebih lanjut pria yang sudah menerbitkan buku berjudul: Indonesia Menanam, di tahun 2007 itu mengatakan, bila seorang fotografer berkarya dan mengikuti isi hati serta kreativitas sendiri, dengan menciptakan komposisi melalui mata hati, diharapkan mampu merekam apa yang dirasakan hati ketika menjepret rana kamera. Selain itu, sebaiknya fotografer juga mengenal karakter cahaya dan cara membaca cahaya yang benar, rentang ruang tajam sesuai bukaan diagram yang dipilih. Dan, “Teknik dasar menciptakan komposisi yang kuat untuk pemandangan,” ujarnya.

Bicara komposisi lanjut Deniek, setiap fotografer memiliki cara pandang tersendiri. Oleh karena itu, komposisi yang baik adalah: apa yang dilihatnya menarik untuk dinikmati, bagus dan diinginkan oleh fotografer. Tentu saja, “Kecintaan yang mendalam semata, tidaklah mencukupi untuk menghasilkan foto-foto pemandangan yang sesuai dengan yang ada dibenak fotografer,” ungkapnya. Memang, “Membuat foto dramatis itu sangat membutuhkan latihan dan kesabaran,” ujar suami Karin Stiess Sukarya ini, lantas tersenyum.

Mengenai lensa, Deniek punya cara tersendiri. Baginya, foto pemandangan tidak selalu identik dengan lensa sudut lebar yang ingin menangkap area seluas mungkin. Orang sering berpikir, kata Deniek bahwa foto pemandangan selalu diambil dengan lensa sudut lebar. Karena logikanya adalah: foto pemandangan selalu merekam hamparan panorama nan lebar. Tapi kenyataannnya foto pemandangan tidak selalu hamparan panorama yang luas. Akan tetapi bisa juga pandangan selektif dari bagian-bagian panorama yang menawarkan detail yang lebih dramatis. “Saya selalu mengambil banyak kombinasi foto dengan lensa sudut lebar dan lensa super tele untuk menghasilkan gambar yang memukau,” ungkapnya.

Dari hasil foto itulah, lelaki kelahiran Jembrana-Bali itu berpendapat, ada kalanya selembar foto bisa banyak bercerita melebihi ribuan kata-kata. Dan fotografi lanjutnya selalu menjadi sebuah pengalaman yang sangat menantang dan mengasyikkan. “Buat saya, memotret itu bukan pekerjaan. Tapi menjadi hobi yang harus dicintai dan ditekuni,” katanya sungguh-sungguh. Untuk itu, pria yang sudah 36 tahun menggeluti dunia fotografi ini percaya, bila fotografi mampu menyampaikan informasi dalam bahasa visual yang mudah dipahami.

Tips Memotret Landscape


Foto landscape yang baik adalah: foto yang mampu merekam “roh” dari tempat tersebut. Jadi tidak hanya mengabadikan hamparan dan keindahan alamnya. Tetapi juga suasana hati dan reaksi dari yang ditimbulkannya ketika fotografer memotret.


Berikut beberapa tips dari Deniek G. Sukarya ketika hunting foto landscape.
1. Gunakan ISO kamera digital pada angka terendah (50-100).
2. Pilih resolusi tertinggi yang tersedia (6 MP, 8 MP atau 12 MP) dan mutu pada format Large Fine.
3. Bawalah memory card (2 GB untuk kamera 6 MP, 4-6 GB untuk kamera 12 MP). Selain laptop,
    sebaiknya membawa memory storage berkapasitas sekitar 40-60GB.
4. Pelajari reaksi light meter kamera terhadap kondisi pencahayaan spesifik untuk pemandangan kontras
    tinggi, pada sunset/sunrise dengan memasukkan matahari di bidang foto. Kemudian, pastikan kapan harus
    memberikan kompensasi eksposur plus atau minus.
5. Untuk pemotretan malam hari atau pemandangan dengan kecepatan rana rendah (1-30 detik), aktifkan
    fitur  NR (noise reduction) untuk mengurangi noise (bintik-bintik yang mengganggu).
6. Membawa filter polarizing dan Gradasi netral.
7. Membawa lensa zoom sudut lebar seperti: AF-DX Zoom, Nikkor 18-70mm f.3.5-4.5, AF-S DX VR
    Zoom Nikkor 18-200mm f.3.5-5.6, dan lensa zoom tele seprti: AF Zoom Nikkor 70-300mm f.4-5.6
    D-ED, AF-S VR 70-200mm f.2.8 IF-ED yang super tajam.
8. Untuk mendapatkan warna terbaik, pilihlah WB (White Balance) yang tepat. Bila cuaca mendung, WB
    Cloudy akan memberikan warna yang lebih hangat dan natural.
9. Bawalah tripod yang stabil, kokoh dan gunakan fitur self timer untuk mengurangi getaran saat menjepret
    rana yang dapat mengurangi ketajaman foto.
10. Tas kamera yang cocok untuk kerja di lapangan termasuk aksesori kecil seperti: kantong plastik, lampu
      senter, cellotape, jas hujan, obeng kecil, tissu pembersih kamera dll.
11. Sabar dan keberuntungan. Dua hal ini menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam menangkap sebuah
     momen. Ini yang menyebabkan landscape photography adalah cabang yang paling challenging dan
     menarik. Foto-foto yang dihasilkan selalu memorable dan indah sehingga menyimpan sebuah cerita yang
     indah.


(Haris Maryasno) Tulisan ini sudahdimut di majalah Indonesian Photographer Edisi 06-2008

No comments:

Post a Comment