Tuesday, 16 December 2008

Pasukan “Ring Setengah”

Foto: Dokumentasi galleryabrorrizki.blogspot.com
Abror Rizki

Merekam beragam aktivitas orang nomor satu di Indonesia, menjadi tantangan tersendiri. Dan tidak semudah yang dibayangkan.

Enam belas tahun, bukan sebuah perjalanan waktu yang sebentar dalam meniti karier. Selama tahun 1988-2002, sosok pria berkulit putih ini sudah malang melintang di dunia kewartawanan, sebagai fotografer majalah MATRA. Bagi Abror Rizki, selama rentan waktu tersebut, ia tak pernah berpikir untuk menjadi juru foto pribadi presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. “Menjadi juru foto pribadi presiden itu adalah trust,” katanya, sungguh-sungguh.

Pria yang menekuni bidang fotografi saat berusia 20 tahun ini mengaku, untuk memperoleh kesuksesan dalam meniti karier, kuncinya hanya satu. “Kerja keras.” Begitulah prinsip kerja lelaki berdarah Mingakabau, Sumatera Barat itu, meluncurkan kalimat tersebut sebanyak tiga kali.

Lelaki berusia 41 tahun ini tentu memiliki alasan, mengapa kalimat itu harus diucapkan sebanyak itu. “Bila kita bekerja keras, dengan sendirinya akan membawa hasil,” katanya. Tapi lanjut Abror, “Jangan pernah berharap, jika baru sekali kerja sudah meminta imbalan lebih. Biasanya, hasilnya tidak akan maksimal,” tuturnya berpendapat.

Bila disimak, perjalanan karier pria kelahiran Jakarta ini, layaknya sebuah kurva naik. Ia berpendapat, perjalanan kehidupan manusia tergambarkan dengan kurva. Dimulai dari titik terbawah, kemudian mulai naik, sampai ke titik puncak, kembali menurun dan berakhir dititik nadir. “Selama bekerja, saya harus berpegang teguh pada prinsip kerja,” katanya lantas tersenyum. Satu hal, lanjutnya, dalam bekerja bila kita dekat dengan Tuhan, “Intuisi kita (berkaitan dengan profesi) akan semakin tajam,” ujarnya, serius.

Lebih lanjut suami Meuthia ini mengatakan, tahun 2002, selepas meninggalkan dunia pers sebagai fotografer, ia tak berdiam diri. Banyak inovasi yang dilakukannya. Satu diantaranya, mendirikan sebuah usaha multimedia. Awal 2004, lelaki yang juga gemar mengamati perkembangan dunia politik di Indonesia ini melihat, ada sebuah celah yang tak dilihat orang lain. Yaitu: merekam kegiatan calon presiden --Republik Indonesia-- dalam bentuk gambar. Hasilnya, ia pun membuat buku bertajuk: “Presidenku” 20-Oktober-2004.

Usai itu, ia pun aktif mengikuti beberapa kegiatan kampanye SBY menuju kursi kepresidenan di beberapa pelosok daerah. Memang, untuk sukses, kata Abror,dibutuhkan pengorbanan. Ia pun langsung membeli 2 buah kamera, 2 lensa, dan 2 flash untuk mengabadikan SBY berkampanye. “Dari situ, saya punya niatan untuk membuat buku dan rencana pamaeran,” kata pria yang juga sempat menjadi fotografer wedding ini.

Akhirnya, cita-cita lelaki yang sudah dikaruniai dua orang anak ini pun terwujud. Pada 9 September 2004 di Lagoon Tower, Hotel Hilton, pameran foto berjudul: “SBY 99 Dalam Gambar” terlaksana. “Kebetulan yang membuka pameran Bapak SBY,” ujarnya bangga. Saat pameran berlangsung, Ibu Presiden pun tak luput memberikan komentar, bila foto-foto karya Abror, mengingatkan dirinya dengan Ipphos (Indonesia Press Photo Service) era presiden Soekarno.

Sedangkan SBY, hanya memberikan acungan ke 2 jempolnya kiri dan kanan. Menurut Abror, SBY meminta agar foto-foto pameran disimpan di tempat kediamannya Cikeas, Bogor. “Itulah cikal bakal saya masuk istana,” katanya mengenang. Meski sudah mendapat lampu hijau, jalannya pun belum mulus. Ia dan Dudi Anung Anindito (partner) nya hampir tak jadi. Mereka pun tak putus asa. Akhirnya, sehari sebelum pelantikan, saat SBY menjamu beberapa tamu penting dari berbagai negara di sebuah hotel berbintang lima di Jakarta, “Di situ Bapak SBY melihat saya dan Anung. Beliau dan mengatakan, mulai besok ikut saya ke istana,” ujarnya.

Esok paginya, Abror dan Anung sudah mulai berdinas di Cikeas, Bogor, untuk mengabadikan detik-detik SBY dilantik menjadi presiden Republik Indonesia ke VI. “Sejak saat itu, banyak orang melontarkan joke, kalau saya dan partner adalah pasukan ring setengah,” katanya, lantas tertawa.

Sejak diangkat menjadi juru foto pribadi Presiden, anak ke tiga dari lima bersaudara ini harus merekam beragam aktivitas Presiden. Mulai dari kegiatan keseharian di kediaman pribadi Presiden hingga rutinitas di Istana Negara, Jakarta. Untuk itu, ia pun harus bisa bekerjasama dengan ajudan presiden dan Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres).

“Semua itu harus dilakukan agar saya bisa mendapatkan obyek yang maksimal,” katanya. Pasalnya, Abror harus bisa merekam kegiatan presiden dalam satu acara sebanyak 400 frame. Tak heran, bila kamera Canon 20D yang ia gunakan, sudah rusak dua kali. “Untuk sekali moment bisa 5-10 frame atau 20 frame. Karena pakai continou, membuat relay cepat diganti,” ujarnya.

Menjadi juru foto pribadi Presiden tak semudah yang dibayangkan. Ia harus mampu memberikan second opinion profil seorang SBY. Selain itu, ia pun patut menjaga stamina dan kebugaran tubuh agar tetap fit, kerap dilakukannya. Tak heran, bila Abror memiliki peralatan kebugaran tubuh, di dalam rumahnya. ”Untuk mengimbangi kalau SBY jalan kaki, saya harus berlari,” katanya.

Atau, ia pun harus berebut tempat dengan penduduk dan Paspampres untuk mendapatkan angle yang tepat. “Kalau soal jatuh, gak bisa dihitung deh,” katanya tertawa. Namun, hal itu tak membuatnya jera. Bagi Abror, profesinya ini adalah merekam sebuah perjalanan sejarah orang terpenting di Indonesia dan dunia.

“Nikmatnya memotret presiden, kita bisa meliput dan mengambil gambar yang semua orang ingin, tapi tak punya kesempatan. Disitulah kenikmatannya,” ujarnya bangga. Bicara soal seni memotret, ”Setiap gerakkan sang obyek harus sudah bisa saya baca sebelumnya. Sebab, setiap peristiwa yang dilakukan Presiden, tak bisa diulang,” ujar lelaki yang sudah melakukan pameran foto SBY berjudul: “Presiden Juga Manusia Biasa” di Skywalk Pondok Indah Mall, 12-20 Agustus 2006, silam.

Tapi dibalik itu semua, Abror bersyukur bila dirinya sudah bisa keliling Indonesia dan mengunjungi beberapa negara mengikuti kemanapun SBY melangkahkan kakinya. “Jujur, saya banyak sukanya,” ungkap Abror yang berhasil merekam SBY sedang mencukur rambut dan tidur di dalam tenda, ketika meninjau korban gempa di Nabire, Papua.

(Haris Maryasno. Tulisan ini sudah diterbitkan di Majalah Indonesian Photographer-Edisi.02-2007)

2 comments:

  1. Dear mas Haris,

    Apakah ada kontak dengan kedua fotografer presiden ini? Saya ada cita2 untuk bisa seperti mereka, seperti juga halnya Pete Souza yang menjadi fotografer presiden Obama.

    Terima kasih sebelumnya.


    Salam dari Jepang,
    Ivannanto
    ivannanto@gmail.com

    ReplyDelete
  2. silahkan membuka facebook saya: haris reggy. Dan dalam list pertemenan, ada fotografer bernama: abror Rizki. Semoga ini bisa membantu. Salam.

    ReplyDelete