Tuesday, 16 December 2008

Semua Berawal Dari Minat


Rahardi Ramelan

Usia tak menghalanginya untuk terus kreatif dan menghasilkan karya foto yang baik. Untuk itu, kemana pun pergi kamera poket selalu terselip dikantong celana.

 “Kok cuma jendela saja yang difoto. Apa bagusnya?” Olok-olok seperti ini seringkali mampir ke telinga Prof. DR. Rahardi Ramelan M.Sc., M.E, ketika hunting foto bersama istri tercinta. Namun perkataan itu, tak menyurutkan kecintaannya pada dunia fotografi. Tak tanggung-tanggung, pria kelahiran Sukabumi tahun 1939 ini, mendalami teknik fotografi di Darwis Triadi School of Photography, dan photoshop tahun 2006. “Awalnya, saya otodidak. Tapi agar hasil foto saya bagus, ya kursus fotografi,” katanya.

Dimata suami dr. Tumbu Astini Ramelan, dunia fotografi bukan hal baru. Sedikit mengurai kisah kecintaan dosen Institut Teknologi Surabaya (ITS) pada dunia fotografi. Tahun 1960-an, saat ia kuliah di Czech Technical Institute, Praha, Cekoslovakia. Masih segar dalam ingatan Rahardi, karya foto pertama yang dihasilkannya. Yaitu: Sinar mentari pagi yang menembus di celah-celah daun dan ranting pohon di hutan. “Hasilnya bagus sekali,” ujarnya mengenang.

Dari situlah, minatnya memotret muncul. Hampir setiap kesempatan, ia berkeliling kota Praha untuk hunting foto dengan kamera analog Pentacon miliknya. “Pulang ke asrama, saya langsung ke kamar gelap untuk mencuci dan meng afdruk,” ujarnya.

Secara teknik, lelaki yang juga berminat pada dunia seni lukis, otomotif dan arung jeram menjelaskan, untuk bisa menghasilkan karya yang bagus, sebaiknya pemotretan dilakukan sore hari. Pasalnya, “Saya harus memperhatikan pencahayaan, fokus dan kontras warna untuk mendapatkan detailnya sebuah obyek,” tukas Rahardi. Selain itu tambahnya, seorang fotografer juga harus memiliki jiwa seni.

Bicara obyek foto, mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan serta Kabulog era Presiden Habibie itu mengaku, dirinya lebih senang membidik bagian sebuah obyek. “Tidak semuanya,” ujarnya seraya memberikan contoh seperti: jendela, ornamen tembok dan pagar bangunan, serta sudut jalan. “Buat saya, setiap obyek pasti memiliki nilai seni dan sisi cantiknya. Meski diujung bangunan letaknya,” tuturnya.

Masih diseputar kisah Rahardi menggeluti hobi fotografinya. Baginya, dunia melukis dengan cahaya, selain memberikan kepuasan batin juga telah banyak memberikan inspirasi dan pembelajaran hidup. “Waktu kita menekan tombol shutter, semuanya kita yang menentukan. Bukan orang lain,” ujarnya. Mulai dari obyek, komposisi, cahaya, hingga angle. “Tapi yang paling susah, selain mencari sisi bagusnya sebuah obyek, bagaimana kita mengatur komposisi di frame,” ujarnya sungguh-sungguh.

Dan kini, peraih gelar doktor kehormatan dari Monash University, Australia, memiliki pekerjaan rumah yang belum terselesaikannya. Pertama, ia harus memotret semrawut-nya lalu lintas kota Jakarta. “Saya mau motret seluruh zebra cross dan trotoar yang ada di Jakarta. Hasilnya, saya akan serahkan ke Gubernur DKI,” katanya mantap. Pekerjaan kedua, memotret cucu yang masih bayi. ”Sampai saat ini, saya belum ketemu angle yang pas dan bagus untuk mendapatkan detailnya,” ujarnya lantas tertawa lebar.

Lebih lanjut ketua Assosiasi Photographer Profesional Indonesia (APPI) mengatakan, seiring berkembangnya zaman kamera analog Leica R8 dan Nikon F3, dan F80 yang selalu ia bawa saat travelling, kini telah ditinggalkannya. “Sekarang saya pakai kamera digital Leica V-Lux1, Nikon D70, kamera poket Casio Exlim 7 megapiksel,” ujarnya bangga. Peralatan lainnya yang selalu dibawa adalah: teropong dan Ipod 20 GB. “Paling enak kalau hunting sambil dengarkan musik,” kata pria yang selalu menyelipkan kamera pocket kemanapun pergi.

BOKS

Judul: Art is My Life

Penjara bukan lagi “sangkar” dan matinya kreativitas. Dimata Rahardi Ramelan, justru ruangan 2X 3 meter dan lembab itu, ia jadikan sanggar yang dapat mengekspresikan jiwa seninya. Kegelisahan, kekesalan yang berkecamuk di dalam dirinya, ia tumpahkan untuk melukis dengan cat tembok dan kapur tulis berwarna, pada dinding sel.

Cukup seminggu Rahardi menyelesaikan lukisan Pantai laut Jimbaran Bali dan Jendela tralis besi berlatar belakang suasana di luar kota Jakarta dengan gedung pencakar langit. “Malam harinya, dengan lampur sorot yang menyinari lukisan, saya seolah-olah berada di kedua tempat itu,” katanya lantas tertawa. Menurut pria yang sempat belajar melukis di School of Museum of Fine Art, Amerika Serikat ini berpikir, kapan pun dan dimana pun berada, kreativitas tak boleh mati. “Art is my life.” Begitu katanya.

Masih di seputar kisah Rahardi Ramelan di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang Jakarta. Banyak hikmah hidup yang didapatnya. Baginya, hidup begitu berarti dan tak ingin ia lewatkan waktu begitu saja. Di dalam sel, selain menulis makalah mengajar di Institut Teknologi Surabaya dan opininya ke beberapa media cetak, Rahardi pun mampu memotret suasana penjara dengan kamera poket secara sembunyi-sembunyi. “Karena narapidana dilarang membawa kamera,” katanya mengenang.

Untuk bisa lepas dari pemeriksaan petugas, Rahardi menyelipkan kamera dibalik celana “jojon” yang ia kenakan. “Coba, siapa yang berani periksa saya? Sampai-sampai, saya jajan mie di dalam penjara, tidak bayar,” candanya lantas tertawa lebar. Diakuinya, saat mengabadikan kehidupan penjara, hampir semua tempat ia foto. Tanpa terkecuali. Termasuk semua tato yang ada di badan napi. Mulai dari tukang copet sampai pembunuh. “Karena saya sesepuh di penjara, setiap orang mau saya foto tatonya,” ujar pimpinan Paguyuban Narapidana Indonesia (Napi).

Dan kini, setelah Rahardi kembali di tengah kelurga tercinta, ia merasakan betapa berharganya hidup. Baginya, dalam hidup terdapat mimpi, harapan, cinta dan pengorbanan. “Karena dengan itu, hidup menjadi lebih bersemangat,” ujar berfilosifi.

Haris Maryasno (Sudah diterbitkan di Majalah Indonesian Photographer05-2008)

No comments:

Post a Comment