Foto: dokumentasi Majalah Indonesian PhotoRikin Djunaedi
Tak hanya manusia bisa dijadikan sasaran “tembak” fotografer. Bangunan dengan gaya arsitekturnya yang megah atau ruangan indah, sesungguhnya menarik untuk diabadikan.
Foto arsitektur tampaknya masih memiliki tempat terhormat di antara jenis karya fotografi lainnya. Sebagai fotografer arsitektur (eksterior & interior), obyek bidiknya jelas jauh beda dengan fotografer yang acap kali memotret model, peristiwa atau kejadian tertentu. Namun, Rikin Djunaedi (57 tahun) memiliki tantangan tersendiri untuk mendapatkan hasil pemotretan yang bagus. Obyeknya memang diam, tapi hasil yang diharapkan tetap harus berbicara. Misalnya gambar itu harus bersuasana, hidup, dan punya karakter. Sepertinya memotret interior atau arsitek bangunan itu mudah. “Padahal sulit sekali. Sehingga jarang sekali orang yang konsentrasi dibidang ini,” ujar staf pengajar Darwis Triadi School ini..
Berhati-hati dan tidak memaksakan kehendak saat memotret interior yang diinginkan klien, kata tidak dibenarkan. Pasalnya, setiap brand memiliki ciri khas yang sudah ditentukan. “Misalnya, kita akan memotret ruangan atau butik Giorgio Armani, ya harus sesuai dengan konsep brand nya. Jangan kita yang membuat sendiri,” katanya berpesan.
Tugas fotografer di sini adalah kata Rikin, bagaimana memindahkan rasa, dan suasana ruangan ke dalam foto. Namun di balik ruangan yang memiliki kekuatan, ada juga bangunan yang sangat lemah sudutnya. Bila keadaannya demikian, fotografer dituntut bekerja ekstra. Misalnya dengan menambah properti atau memberi efek secukupnya, tanpa harus menyimpang jauh dari keadaan sebenarnya.
Untuk bisa seperti itu, langkah awal yang dilakukan Rikin adalah hunting lokasi, konsultasi dengan arsitek bangunan, hunting properti, sudut-sudut mana yang perlu ditonjolkan. Kemudian katanya, detail apa yang harus ditampakkan, dan membangun suasana ruangan. “Jadi kalau saya mau motret itu tidak bisa instant. Tidak seperti pelukis. Setelah survey, baru saya mulai create,” paparnya.
Menurut lulusan arsitektur pertamanan Universitas Triasakti Jakarta ini, untuk bisa membangun suasana ruangan, bisa diperoleh dari pencahayaan. Untuk suasana natural, seperti bias sinar matahari yang menerpa rumah atau menembus sudut-sudut ruangan, dia harus tahu sekitar jam berapa cahaya itu masuk. Untuk mendapatkan suasana tersebut, tentus harus ditunggu. “Memotret arsitektur itu bagusnya jam 6 pagi dan 6 sore. Kenapa? Karena perbandingan cahaya di luar dan dalam ruangan tidak jauh,” katanya.
Lebih lanjut pria berkacamata ini menyatakan, lebih dari 12 tahun ia menggeluti fotografi bidang interior dan arsitektur bangunan. Mulai dari tempat tinggal, apartemen, hotel, rumah sakit, pusat belanja, restauran, perkantoran hinga gedung pencakar langit. “Yang paling sulit memotret memotret mall, lobby hotel atau rumah sakit. Kenapa? Karena banyak orang berlalu-lalang,” katanya.
Selain mengusai teknik fotografi, Rikin tahu juga kepekaan mata kamera. Sebuah obyek atau suatu sudut/angle kadang memang kelihatan biasa-biasa saja. Tapi bila ditangkap dengan kamera, hasilnya bisa bagus, atau unik. “Kadang dilihat dengan mata telanjang biasa-biasa saja. Tapi kalau dibidik dengan kamera jadi bagus,” ujarnya. Maka kata Rikin, mata kita bisa beda dengan mata kamera.
Foto arsitektur tampaknya masih memiliki tempat terhormat di antara jenis karya fotografi lainnya. Sebagai fotografer arsitektur (eksterior & interior), obyek bidiknya jelas jauh beda dengan fotografer yang acap kali memotret model, peristiwa atau kejadian tertentu. Namun, Rikin Djunaedi (57 tahun) memiliki tantangan tersendiri untuk mendapatkan hasil pemotretan yang bagus. Obyeknya memang diam, tapi hasil yang diharapkan tetap harus berbicara. Misalnya gambar itu harus bersuasana, hidup, dan punya karakter. Sepertinya memotret interior atau arsitek bangunan itu mudah. “Padahal sulit sekali. Sehingga jarang sekali orang yang konsentrasi dibidang ini,” ujar staf pengajar Darwis Triadi School ini..
Berhati-hati dan tidak memaksakan kehendak saat memotret interior yang diinginkan klien, kata tidak dibenarkan. Pasalnya, setiap brand memiliki ciri khas yang sudah ditentukan. “Misalnya, kita akan memotret ruangan atau butik Giorgio Armani, ya harus sesuai dengan konsep brand nya. Jangan kita yang membuat sendiri,” katanya berpesan.
Tugas fotografer di sini adalah kata Rikin, bagaimana memindahkan rasa, dan suasana ruangan ke dalam foto. Namun di balik ruangan yang memiliki kekuatan, ada juga bangunan yang sangat lemah sudutnya. Bila keadaannya demikian, fotografer dituntut bekerja ekstra. Misalnya dengan menambah properti atau memberi efek secukupnya, tanpa harus menyimpang jauh dari keadaan sebenarnya.
Untuk bisa seperti itu, langkah awal yang dilakukan Rikin adalah hunting lokasi, konsultasi dengan arsitek bangunan, hunting properti, sudut-sudut mana yang perlu ditonjolkan. Kemudian katanya, detail apa yang harus ditampakkan, dan membangun suasana ruangan. “Jadi kalau saya mau motret itu tidak bisa instant. Tidak seperti pelukis. Setelah survey, baru saya mulai create,” paparnya.
Menurut lulusan arsitektur pertamanan Universitas Triasakti Jakarta ini, untuk bisa membangun suasana ruangan, bisa diperoleh dari pencahayaan. Untuk suasana natural, seperti bias sinar matahari yang menerpa rumah atau menembus sudut-sudut ruangan, dia harus tahu sekitar jam berapa cahaya itu masuk. Untuk mendapatkan suasana tersebut, tentus harus ditunggu. “Memotret arsitektur itu bagusnya jam 6 pagi dan 6 sore. Kenapa? Karena perbandingan cahaya di luar dan dalam ruangan tidak jauh,” katanya.
Lebih lanjut pria berkacamata ini menyatakan, lebih dari 12 tahun ia menggeluti fotografi bidang interior dan arsitektur bangunan. Mulai dari tempat tinggal, apartemen, hotel, rumah sakit, pusat belanja, restauran, perkantoran hinga gedung pencakar langit. “Yang paling sulit memotret memotret mall, lobby hotel atau rumah sakit. Kenapa? Karena banyak orang berlalu-lalang,” katanya.
Selain mengusai teknik fotografi, Rikin tahu juga kepekaan mata kamera. Sebuah obyek atau suatu sudut/angle kadang memang kelihatan biasa-biasa saja. Tapi bila ditangkap dengan kamera, hasilnya bisa bagus, atau unik. “Kadang dilihat dengan mata telanjang biasa-biasa saja. Tapi kalau dibidik dengan kamera jadi bagus,” ujarnya. Maka kata Rikin, mata kita bisa beda dengan mata kamera.
Enam Kiat Memotret Interior
Kebutuhan akan foto arsitektur tak pernah surut dari waktu ke waktu. Tujuan pembuatannya pun beragam, mulai dari keperluan buku, majalah, company profile, sampai kalender dan kartu pos. Foto di sini haruslah komunikatif dan informatif.
Berikut beberapa langkah yang harus diperhatikan.
Kebutuhan akan foto arsitektur tak pernah surut dari waktu ke waktu. Tujuan pembuatannya pun beragam, mulai dari keperluan buku, majalah, company profile, sampai kalender dan kartu pos. Foto di sini haruslah komunikatif dan informatif.
Berikut beberapa langkah yang harus diperhatikan.
1. Teknis. Bagus dan tikdaknya sebuah karya tergantung pada diri kita. Sebaiknya, kuasailah teknik fotografi
dengan baik dan benar.
2. Konsultasi. Sebelum memotret, tak ada salahnya melakukan konsultasi dengan disainer ruangan atau
arsitek. Mengapa? Karena yang akan kita potret itu adalah karya orang lain.
3. Warna. Memotret sebuah interior, warna ruangan memegang peranan penting selain properti. Jadi harus
benar-benar harus dihitung, mana yang harus diangkat dari ruangan. Bila interiornya berwarna gelap,
problem kita semakin berat. Karena untuk menaikkan tekstur sofa atau serat kayu misalnya, kehadiran
flash sangat membantu.
4. Peralatan. Kelengkapan peralatan fotografi, sangat dibutuhkan. Misal: lensa wide angle, lensa makro yang
mendekati lensa normal, untuk hal-hal yang detail.
5. Skala. Dalam memotret intrior, skala antara equipment flash dengan cahaya lampu properti harus seimbang.
6. Tripod. Ini sangat membantu untuk menghindari terjadinya guncangan saat memotret.
Haris Maryasno. (Tulisan ini sudah diterbitkan di Majalah Indonesian Photographer Edisi 04-2008)
Mas, saya diminta motret hotel terbaik di Sulawesi Barat, di Mamuju. Hotel Maleo. Saat ini saya punya lensa Tokina 12-25, Nikkor 50mm, Nikkor makro 60mm, dan tele 80-200 mm. Apakah lensa itu, khususnya wide dan mikro, sdh mencukupi?
ReplyDeleteFlash minimal pakai berapa untuk interiornya?
Terima kasih sebelumnya.