Tuesday, 16 December 2008

To be Different


Anton Ismael
Tak mudah untuk bisa meredam ego dengan keinginan klien. Untuk itu dibutuhkan sebuah batas toleransi untuk bisa mencipta karya yang bagus. Seberapa besar batas itu?

Saat mengomentari prospek dunia komersial fotografi di Indonesia, Anton Ismael punya pendapat yang shahih. “Sangat menjanjikan,” ujarnya singkat. Alasannya, selama perkembangan industri di Indonesia terus ada, semakin banyak produk yang dikeluarkan. “Dan fotografer harus pandai melihat peluang,” ungkapnya.
Menurut pria berusia 32 tahun ini, setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk bisa memenangkan persaingan. “Kalau saya, selain memiliki karakter juga harus to be different dari yang lainnya,” tuturnya sungguh-sungguh.

Sedikit menengok kebelakang, kisah perjalanan Anton Ismael. Tahun 2000, awal Anton memasuki dunia fotografi secara professional. Lantaran ia terbiasa bekerja secara sendirian, tak banyak klien menggunakan jasa fotografinya. Seiring berjalannya waktu, lulusan Royal Melbourne Institute of Technology jurusan: Photography Bachelor of Art in Photography tahun 1999 ini sadar betul bahwa, dapat bekerja secara team work dan menghargai pendapat orang lain langkah jitu mendapatkan klien. “Itulah tantangan terberat diawal karier saya,” katanya lantas tersenyum.

Pasalnya, menurut peraih penghargaan Best Photography & Craftmenship Citra Pariwara 2006 ini, karena dirinya memiliki idealisme --merasa cukup sulit-- untuk bisa memasukkan ide orang lain yang tak sepaham ke dalam karyanya. “Tapi karena saya butuh makan dan dapat makan dari memotret, mau tidak mau harus bisa kompromi dengan klien,” katanya.

Dan akhirnya, ia pun harus bisa meredam egonya dan saling mengisi untuk menangkap keinginan klien. “Buat saya, fotografi adalah sebuah cara pandang serta penafsiran kita terhadap dunia realita,” ujarnya. Untuk itu selalu membuat sebuah batasan, sejauh mana ia harus bisa bertoleransi dengan klien. “Kalau bisa 50 berbanding 50,” katanya.

Wawasan yang luas menjadi sangat penting bagi penggemar anjing Labrador & Golden Retriever ini untuk perkembangan kariernya Hal itu ia dapatkan dari seringnya menyambangi ke beberapa tempat. “Yang menarik dari dunia fotografi komersial, saya masih bisa menyisipkan idealiseme dan ide ke banyak orang,” ujarnya bangga.

Tapi dibalik kesuksesannya saat ini, pemilik perusahaan Third Eye Studio memiliki pengalaman tak bisa dilupakan. Begini ceritanya. Pernah suatu ketika, ada kliennya meminta untuk dilakukan pemotretan ulang. Padahal kata Anton, sebelum produksi, ia bersama tim klien sudah melakukan diskusi panjang lebar. Pun begitu ketika sesi pemotretan, ia juga ditemani creative dan art director nya klien. “Waktu di lapangan, saya tunjukkan hasil fotonya dan mereka sudah setuju,” katanya.

Singkat cerita Anton bersama timnya, langsung eksekusi sesuai keinginan klien. “Setelah jadi, eh.. mereka minta ganti. Karena tidak sesuai dengan konsepnya,” ujarnya lantas tertawa. Apa boleh buat, demi menjaga integritas dan profesionalismenya, Anton pun harus foto ulang dan sadar diri bila saat ini ia berhadapan dengan sebuah industri. Jadi, “Siapa kuat dia yang menang,” tutur Anton yang sudah mengenal kamera sejak kelas IV SD ini, serius.

Haris Maryasno (Sudah diterbitkan di Majalah Indonesian Photographer -Edisi-05 2008)

No comments:

Post a Comment