Foto: dokumentasi Majalah Indonesian PhotographerArtli Ali (Digital Active Photography)
Fotografi komersial menjadi jembatan yang men-transform message dari klien ke konsumen. Meski dalam keadaan sulit, klien diharuskan beriklan untuk menjual produknya kepada konsumen. Persaingan pun ketat. Lantas, apa yang harus dilakukan fotografer untuk bisa memenangkannya?
Nuansa dunia fotografi terasa kental di ruangan besar dari sebuah tempat yang berlokasi di bilangan Jakarta Barat. Beragam peralatan foto tersedia. Mulai dari peralatan kamera, lampu, komputer dan peralatan lainnya ada di tempat ini. Ya, fasilitas yang terkesan modern ini yang tersedia di studio Artli.
Tuntutan zaman modern adalah kepraktisan, kemudahan dan kecepatan dalam segala hal. Termasuk dunia fotografi dengan hadirnya kamera digital yang makin mudah digunakan. Seabad lalu, tidak sembarang orang bisa memakai kamera. Kini, orang yang baru pertama kali memegang kamera pun, sudah bisa membuat foto yang minimal tajam gambarnya.
Memang benar ungkap Artli, bahwa saat ini untuk menjadi fotografer sangat mudah. “Tinggal klik dan hasilnya bisa diolah dengan baik di komputer,” katanya. Tapi pada dasarnya, untuk menjadi fotografer yang baik, terlebih dahulu haruslah menguasai teknik foto dan tata lighting dengan baik dan benar. Sedangkan komputer editing, menurut pria bertubuh jangkung ini dijadikan sebagai perangkat untuk menambah kekurangan, mengeksplor lebih jauh suatu karya photography untuk hasil yang lebih maksimal.
Diakui Artli, bicara idealnya menjadi fotografer komersial advertising zaman ini, selain menguasai teknik fotografi, juga mampu mengoperasikan komputer secara baik. Selain itu tambahnya, saat ini tuntutan seorang fotografer juga harus pandai berimajinasi secara baik. “Tapi menjadi fotografer yang bisa berimajinasi itu sulit,” ujarnya. Untuk bisa memiliki imajinasi, film-film ekperimental, majalah-majalah atau segala sesuatu yang berhubungan dengan art, fashion dan interior akan sangat membantu. “Saya salut dengan fotografer muda sekarang. Mereka sangat imajinatif dan memiliki idealisme yang baik,” ujarnya bangga.
Bicara persaingan order, dimata Artli sungguh ketat seiring perkembangan teknologi dan menjamurnya pemain baru. Beragam cara ditempuh untuk bisa bertahan dan memperbesar volume klien. Di tengah situasi yang sulit, “Ternyata bisnis ini masih tetap menjanjikan,” ungkapnya. "Dalam keadaan sesulit apapun juga, klien diharuskan beriklan untuk menjual produknya kepada konsumen. Disinilah letak keuntungannya, karena fotografi komersial menjadi jembatan yang men-transform message dari klien ke konsumen," ungkap Artli.
Akan tetapi kata pria berambut lurus ini, untuk bisa berkompetisi ia menyarankan setiap fotografer haruslah memperluas networking. Selain itu, “Kita harus harus bisa menekan ego dan mau mendengarkan keinginan klien,” katanya. Sebagai jalan keluarnya untuk bisa mempertemukan antara keinginan klien, ide kreatif dan eksekusi fotografer sebaiknya mengadakan brainstorming/pre production meeting dengan mengikutsertakan pihak-pihak yang terkait,” katanya.
Lebih lanjut lelaki yang berlatar belakang pendidikan graphic design dan dasar melukis ini menyatakan, sekarang ini mengerjakan foto komersial lebih komplek dibandingkan era tahun 1990-an. Diantaranya, selain dituntut memiliki kualitas kerja dan fasilitas yang baik. “Kadang fotografer juga dituntut untuk mau meng-cover pengeluaran terlebih dahulu, untuk keperluan wardrobe, make up artist, lokasi dan lain-lain, yang prosentasenya mungkin bisa melebihi biaya photography itu sendiri,” ungkapnya.
Setelah kebutuhan itu terpenuhi, barulah eksekusi pemotretan dan hasilnya diolah tim inhouse retouching artist untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal. “Kalau klien menginginkan lebih dari itu, baru kita mencoba berhubungan dengan digital imaginer,” ungkap dia. Akan tetapi, alangkah baiknya, “Foto yang mendapat sentuhan digital imaging, tidak berlebihan,” ujarnya bersungguh-sungguh. “Ini mungkin dikarenakan idealismenya sebagai photographer,” tambahnya singkat.Dunia serasa berputar lebih cepat, era digital benar-benar telah merubah pola pikir dan kreatifitas seseorang. Kita harus berpandai-pandai untuk tidak terjebak pada satu style saja atau mencoba mengikuti style seseorang. “Perlu diingat setiap project memiliki karakter dan pasar yang berbeda,” katanya berpesan.
Haris Maryasno(Sudah diterbitkan di Majalah Indonesian Photographer, Edisi 04-2008)
Nuansa dunia fotografi terasa kental di ruangan besar dari sebuah tempat yang berlokasi di bilangan Jakarta Barat. Beragam peralatan foto tersedia. Mulai dari peralatan kamera, lampu, komputer dan peralatan lainnya ada di tempat ini. Ya, fasilitas yang terkesan modern ini yang tersedia di studio Artli.
Tuntutan zaman modern adalah kepraktisan, kemudahan dan kecepatan dalam segala hal. Termasuk dunia fotografi dengan hadirnya kamera digital yang makin mudah digunakan. Seabad lalu, tidak sembarang orang bisa memakai kamera. Kini, orang yang baru pertama kali memegang kamera pun, sudah bisa membuat foto yang minimal tajam gambarnya.
Memang benar ungkap Artli, bahwa saat ini untuk menjadi fotografer sangat mudah. “Tinggal klik dan hasilnya bisa diolah dengan baik di komputer,” katanya. Tapi pada dasarnya, untuk menjadi fotografer yang baik, terlebih dahulu haruslah menguasai teknik foto dan tata lighting dengan baik dan benar. Sedangkan komputer editing, menurut pria bertubuh jangkung ini dijadikan sebagai perangkat untuk menambah kekurangan, mengeksplor lebih jauh suatu karya photography untuk hasil yang lebih maksimal.
Diakui Artli, bicara idealnya menjadi fotografer komersial advertising zaman ini, selain menguasai teknik fotografi, juga mampu mengoperasikan komputer secara baik. Selain itu tambahnya, saat ini tuntutan seorang fotografer juga harus pandai berimajinasi secara baik. “Tapi menjadi fotografer yang bisa berimajinasi itu sulit,” ujarnya. Untuk bisa memiliki imajinasi, film-film ekperimental, majalah-majalah atau segala sesuatu yang berhubungan dengan art, fashion dan interior akan sangat membantu. “Saya salut dengan fotografer muda sekarang. Mereka sangat imajinatif dan memiliki idealisme yang baik,” ujarnya bangga.
Bicara persaingan order, dimata Artli sungguh ketat seiring perkembangan teknologi dan menjamurnya pemain baru. Beragam cara ditempuh untuk bisa bertahan dan memperbesar volume klien. Di tengah situasi yang sulit, “Ternyata bisnis ini masih tetap menjanjikan,” ungkapnya. "Dalam keadaan sesulit apapun juga, klien diharuskan beriklan untuk menjual produknya kepada konsumen. Disinilah letak keuntungannya, karena fotografi komersial menjadi jembatan yang men-transform message dari klien ke konsumen," ungkap Artli.
Akan tetapi kata pria berambut lurus ini, untuk bisa berkompetisi ia menyarankan setiap fotografer haruslah memperluas networking. Selain itu, “Kita harus harus bisa menekan ego dan mau mendengarkan keinginan klien,” katanya. Sebagai jalan keluarnya untuk bisa mempertemukan antara keinginan klien, ide kreatif dan eksekusi fotografer sebaiknya mengadakan brainstorming/pre production meeting dengan mengikutsertakan pihak-pihak yang terkait,” katanya.
Lebih lanjut lelaki yang berlatar belakang pendidikan graphic design dan dasar melukis ini menyatakan, sekarang ini mengerjakan foto komersial lebih komplek dibandingkan era tahun 1990-an. Diantaranya, selain dituntut memiliki kualitas kerja dan fasilitas yang baik. “Kadang fotografer juga dituntut untuk mau meng-cover pengeluaran terlebih dahulu, untuk keperluan wardrobe, make up artist, lokasi dan lain-lain, yang prosentasenya mungkin bisa melebihi biaya photography itu sendiri,” ungkapnya.
Setelah kebutuhan itu terpenuhi, barulah eksekusi pemotretan dan hasilnya diolah tim inhouse retouching artist untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal. “Kalau klien menginginkan lebih dari itu, baru kita mencoba berhubungan dengan digital imaginer,” ungkap dia. Akan tetapi, alangkah baiknya, “Foto yang mendapat sentuhan digital imaging, tidak berlebihan,” ujarnya bersungguh-sungguh. “Ini mungkin dikarenakan idealismenya sebagai photographer,” tambahnya singkat.Dunia serasa berputar lebih cepat, era digital benar-benar telah merubah pola pikir dan kreatifitas seseorang. Kita harus berpandai-pandai untuk tidak terjebak pada satu style saja atau mencoba mengikuti style seseorang. “Perlu diingat setiap project memiliki karakter dan pasar yang berbeda,” katanya berpesan.
Haris Maryasno(Sudah diterbitkan di Majalah Indonesian Photographer, Edisi 04-2008)
No comments:
Post a Comment