Di zaman kerajaan, bila sang Raja ingin bersantap makan, lauk-pauknya mencapai 50 ragam. Namun di zaman itu, belum ada cabai dan rawit. Untuk menambah makanan dengan cita rasa pedas, maka hidangan diberi apa yang disebut trikatuka. Yaitu: merica hitam, merica putih dan jahe. Kombinasi ini memang pedas sekali, dan bisa menjadi pengganti cabai.
Periode setelah abad ke 9 hingga awal 16, banyak sekali pengaruh baru dari negara lain masuk ke pulau Jawa. Misalnya, Portugal, Amerika Selatan dan Cina. Akibatnya rasa masakan Jawa dan bumbu-bumbunya pun berubah. Bawang putih yang sekarang banyak digunakan dalam masakan Indonesia, pada zaman dahulu belum dipakai. Bawang putih, yang berasal dari daerah Yunani, masuk ke pulau Jawa sesudah abad ke-17. Demikian juga dengan jinten, datang dari India, dan dibawa orang Muslim India ke Sumatera. Dalam teks-teks Jawa juga menyebut tentang penggunaan zat rasa supaya masakan manis, asin, asem atau pahit. Makanan bisa dikatakan komplit atau enak bila ditambah zat rasa. Ini bisa jadi kombinasi asem manis atau asin manis.
Warisan kuliner negeri kita sangat kaya dan beragam. Beragam jenis resep masakan sudah ada sejak turun temurun. Kita tidak pernah tahu siapa yang menciptakannya. Masakan-masakan itu seringkali kita nikmati dan akrab di lidah. Ada yang kering, berkuah benig dan kuah santan. Masakan punya sejarah tersendiri yang tertuang dalam dokumen-dokumen berbentuk resep masakan yang diwariskan secara turun-temurun penuh rahasia. Sejarah memasak memiliki coretan-coretan tersendiri yang tak kalah penting dengan rahasia negara yang harus dijaga rapat-rapat. Itu dapat dilihat dari relief Candi Borobudur yang bisa dikatakan semacam buku masak nan lengkap sekali.
Haris Reggy (Dari beragam sumber)

No comments:
Post a Comment