Foto: wikimedia.org
Di antara sederet pesona Palembang adalah penggalan kisah Sriwijaya sebagai kerajaan maritim besar yang tertinggal di kota ini. Kota Palembang yang juga sebagai ibu kota provinsi Sumatra Selatanmerupakan kota terbesar kedua di Sumatera setelah Medan.Selain dikenal dengan empek-empek dan jembatan Amperanya, nukilan sejarah tentang keberadaan kerajaan Sriwijaya juga menjadi bagian cerita dari kota ini. Bukti adanya kerajaan Sriwijaya, ditegaskan oleh prasasti Kedukan Bukit yang adadi Bukit Siguntang sebelah barat Kota Palembang. Prasasti ini boleh dikatakan menjadi tonggak cerita yang membuat Palembang kemudian dikenal sebagai bumi Sriwijaya. Dalam prasasti itu tertulis pembentukan sebuah wanua yang ditafsirkan sebagai kota pada tanggal 16 Juni 682 Masehi. Hal ini juga secara tidak langsung juga menyatakan kota Palembang sebagai kota tertua di Indonesia.
Identitas kota Palembang acapkali diwakili oleh Jembatan Ampera. Jembatan yang berada di tengah kota ini menjadi landscapekhas sekaligus ikon dari kota ini. Selain itu Palembang juga lekat oleh sebutan Venice of the East("Venesia dari Timur")karena memiliki tepian sungai terpanjang di Sumatera. Sebagai ikon, Jembatan Ampera terbentang megah sepanjang 1.177 meter dan melintas di atas Sungai Musi serta menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Ilir. Bangunannya didirikan pada tahun 1962 dan dibiyayai dengan menggunakan harta rampasan Jepang serta tenaga ahli dari Jepang.
Adapun untuk wilayah Ulu dan Ilir dulunya tidak saling berdiri sendiri. Pada tahun 1659 Palembang memiliki kesultanan dengan Sri Susuhunan Abdurrahman sebgai rajanya. Namun peristiwa dihapuskannya kesultanan Palembang oleh pemerintah Hindia Belanda di tahun 1823 menjadi cikal bakal munculnya wilayah Ulu dan Ilir. Karena sejak saat itu wilayah Palembang kemudian dibagi menjadi dua keresidenan besar yang dipisahkan oleh sungai Musi yaitu Ulu dan Ilir.
Sungai Musi sendiri merupakan sungai besar dan memiliki panjang sekitar 750 km. Sungai ini tak sekadar menjadi pemisah wilayah. Tapi lebih dari itu, sungai Musi telah lama menjadi jantung dan nadi perekonomian kota Palembang bahkan Provinsi Sumatra Selatan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya aktivitas perekonomian yang berdenyut di sekitar sungai Musi. Geliat pasar tradisional hingga pariwisata, aktivitasnya lebih banyak ada di sekitar sungai Musi. Obyek wisata menarik yang ada di sekitar sungai Musi antara lain: Benteng Kuto Besak, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, Pulau Kemaro, Pasar 16 Ilir, rumah Rakit, kilang minyak Pertamina, pabrik pupuk PUSRI, pantai Bagus Kuning, Jembatan Musi II, Masjid Al Munawar.Adanya pasar terapung, rumah makan terapung hingga pom bensin terapung juga menjadi pesona tersendiri.
Dalam kesehariannya Musi juga berfungsi sebagai jalur transportasi perairan. Perahu kecil hingga kapal wisata setiap hari beroperasi dan siap membawa wisatawan mengarungi sungai. Karena itu tak heran jika dalam perkembangannya Palembang kemudian diplot sebagai kota wisata air. Wisatawan bisa melihat jajaran obyek wisata atau menyinggahinya melalui jalur air secara nyaman. Di antara jajaran obyek wisata di sepanjang sungai Musi yang cukup banyak menarik perhatian adalah Benteng Kuto Besak. Benteng ini letaknya berdekatan dengan Jembatan Ampera, dan merupakan salah satu bangunan peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam. Di bagian dalam benteng terdapat kantor kesehatan Kodam II Sriwijaya dan rumah sakit. Benteng ini merupakan satu-satunya benteng di Indonesia yang berdinding batu kokoh.
Masih di seputaran sungai Musi tepat di tengah-tengahnya terdapat sebuah pulau yang dikenal dengan nama Pulau Kemaro. Di Pulau ini terdapat sebuah Pagoda yang akan ramai dan menjadi pusat perayaan Cap GoMeh. Saat perayaan tersebut tiba pulau dan pagoda ini ramai didatangi oleh warga khususnya keturunan Tionghoa dari seluruh pelosok Indonesia. Pulau Kemaro berada di kawasan Ilir Sungai Musi, dan memiliki luas 5 hektar. Pulau Kemaro bisa dicapai melalui jalur air dengan pilihan media berbeda. Untuk yang murah bisa menaiki kapal ketek namun konsekuensinya waktu tempuh menjadi lama yaitu 50 menit. Sedangkan yang cepat namun lebih mahal bisa memilih naik speed boat. Pagoda Pulau Kemaro juga menjadi simbol kerukunan beragama karena siapapun diperkenankan untuk memasukinya.
Bagi yang ingin melihat tapak peninggalan kerajaan Sriwijaya bisa mengunjungi Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya. Situs-situs sejarah kerajaan yang dikenal pernah menguasai nusantara itu banyak tertinggal di sini. Beberapa diantaranya adalah artefak seperti manik-manik, struktur batu bata, damar, tali ijuk, keramik, dan sisa perahu. Temuan-temuan tersebut diperoleh saat dilakukan pembangunan Taman Purbakala maupun melalui kegiatan penyelamatan temuan di sekitar kawasan ini. Untuk lebih menegaskan lagi dilakukan pula rekonstuksi dari beberapa sisa gerabah yang ditemukan. Rekonstruksi atas fragmen keramik yang banyak ditemukan memperlihatkan adanya penggunaan, tempayan, guci, buli-buli, mangkuk, dan piring. Sedangkan berdasarkan rekonstruksi dari sisa gerabah menunjukkan pemanfaatan berbagai bentuk tungku atau anglo, kendi, periuk, tempayan, pasu, dan bahkan genteng.
Adapun pada situs ini utamanya menampilkan struktur bangunan air berupa kolam, pulau buatan, dan parit. Hal ini secara tidak langsung menyiratkan adanya kehidupan dalam jangka waktu lama. Diperkirakan penduduk yang dulu telah membuat parit guna menunjang aktivitas keseharian mereka. Parit tersebut difungsikan sebagai saluran drainase tata air dan penangkal banjir maupun sebagai sarana transportasi untuk menghubungkan daerah pedalaman di sekitar situs dengan sungai Musi.
Penduduk asli Palembang merupakan etnis Melayu. Untuk percakapannya mereka biasanya menggunakan bahasa melayu yang telah dilebur dan disesuaikan dengan dialek setempat. Pada akhirnya bahasa tersebut kemudian muncul dan dikenal sebagai bahasa Palembang. Bahasa ini menjadi pengantar untuk menjalin komunikasi antar penduduk setempat, baik asli maupun pendatang. Masyarakat pendatang tersebut kebanyakan berasal dari keturunan Jawa, Minangkabau, Madura, Bugis dan Banjar. Selain itu terdapat juga etnis Tionghoa, Arab dan India.
Atas dasar itu pula kota Palembang memiliki beberapa wilayah yang kemudian menjadi ciri khas dari suatu komunitas. Beberapa di antaranya adalah: Kampung Kapitan sebagai wilayah Komunitas Tionghoa. Selain itu ada pula wilayah komunitas arab yang berisi Kampung Al Munawwar, Kampung Assegaf, Kampung Al Habsyi, Kuto Batu, 19 Ilir Kampung Jamalullail dan Kampung Alawiyyin Sungai Bayas 10 Ilir. (Penulis: Yusuf Yudo, sudah diterbitkan di Borneo Barometer Magazine, Edisi XI)

No comments:
Post a Comment