Foto: nawacita.co
Indonesia merupakan negara yang kaya tengan potensi sumare daya alam, bak yang terbarukan (hasil bumi) maupun yang tidak terbarukan (hasil tambang dan mineral). Kekayaan sumer daya tersebut tersebar dari Sabang sampan Merauke.
Karena itulah, Indonesia menjadi salah satu produsen besar di dunia untuk berbagai komoditas. Beberapa di antaranya adalah: cengkeh (produsen terbesar dunia), kelapa sawit (produsen dan eksportir terbesar dunia), karet alam (produsen terbesar kedua dunia), kakao (produsen terbesar kedua dunia), serta bermacam-macam hasil bumi lainnya yang membanggakan.
Kekayaan sumber daya alam ini harus dapat dikelola seoptimal mungkin. Dengan pengertian: kecenderungan untuk mengekspor dalam bentuk bahan mentah, harus diubah menjadi bahan olahan yang bernilai tambah jauh lebih tinggi.
Bagaimana dampak kekayaan alam ini bagi kehidupan kita? Ada tiga kebutuhan pokok manusia. Yaitu: pangan, sandang, papan. Di bawahnya ada yang lebih mendasar yakni: kebutuhan akan listrik. Dengan listrik, kita bisa bikin sandang, pangan, papan, dan pendidikan yang baik. Dengan listrik, kita bisa meningkatkan efisiensi kerja.
Kemajuan listrik itu berbanding lurus dengan kemajuan ekonomi dan kemajuan budaya. Listrik menentukan kehidupan ke depan. Tanpa listrik, sama saja kita kembali hidup di zaman batu yang jauh dari peradaban modern.
Namun pada kenyataanya, meski Indonesia kaya akan sumber daya alam, kapasitas per kapitanya terendah di ASEAN. Untuk meningkatkan rasio pertumbuhan ekonomi, rasio elektrifikasi paling sedikit harus 90 persen pada 2019, yakni 190 GW dari kini yang hanya 30 GW.
Indonesia adalah eksportir Batubara nomor dua di Dunia (25 persen dari total ekspor Batubara Dunia). Cadangan Batubara meningkat ke 161 MT pada 2011 dari 105 MT pada 2010. Cadangan teruji Naik ke 28 MT pada 2011 dari 21 MT pada 2010. Produksinya diperkirakan akan meningkat baik untuk ekspor maupun konsumsi domestik.
Dengan kekayaan sumber daya alam, khususnya batubara ini, pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mulut Tambang menjadi pilihan cerdas. Justru itu, Pemerintah perlu mempromosikan atau memperbanyak PLTU Mulut Tambang untuk mengoptimalkan penggunaan batubara berkalori rendah.
Sekadar informasi, produksi batubara nasional 90 persen berasal dari Kalimantan. 10 persen lainnya berasal dari Sumatera. Hal ini karena kualitas batubara Sumatera rendah, lokasi jauh di tengah pulau, serta infrastruktur yang buruk. Karena itulah, Sumatera dan Kalimantan begitu prospektif untuk PLTU Mulut Tambang.
Untuk itu, jika daerah-daerah terpencil di Indonesia ingin maju berkali lipat, pemerintah perlu menginventarisasi potensi sumber daya alam yang dimiliki daerah, apa dan berapa kekayaannya. Begitu juga perlunya pemikiran strategis menyangkut perencanaan yang komprehensif, strategi pertumbuhan yang organicdan unorganic. Semua ini tentu harus dilandasi dengan kerja keras, kejujuran, dan tanggung jawab.
Paulus W Broto

No comments:
Post a Comment