Tuesday, 17 July 2007

Seks Secangkir Kopi

Cerita Orgy Party

Fantasi berhubungan initm tanpa melibatkan perasaan, menjadi variasi. Penyakit jiwa atau dekadensi moral? Semula bermula dari akhir Dinasti Shan (1122 SM).

Pernahkah Anda membayangkan berhubungan intim ramai-ramai dalam sebuah ruangan? Ya, Pesta seks (sex party), pesta orgy (orgy party), atau pesta liar (wild party), kini sudah menjadi tren di kalangan eksekutif muda ibukota. Pesta yang menjadi arena pria menunjukkan kemampuan maskulinnya, memiliki unsur petualangan, fantasi rekreasi seks pun menjadi daya tarik utamanya.

Bagi para penggila seks, mereka tak lagi memilih pasangan. Yang penting senang dan meriah. Seks bagi mereka tak lebih dari secangkir kopi yang bisa dinikmati berkali-kali. Tak heran, jika seseorang bisa menikmatinya beberapa kali. Tergantung kekuatannya masing-masing. Di antara mereka, tak ada lagi rasa malu. Sebab, dengan bergabung di acara itu saja, membuktikan bahwa urat malunya sudah putus.

Pesta seks yang menjadi bagian liar seks yang disinyalir dilakukan beberapa eksektufi muda saat ini, ternyata sudah dilakukan ratusan tahun silam. Terutama di kehidupan kaum bangsawan Negeri Tirai Bambu. Dahulu di Cina, ternyata kaum bangasawan sering melakukan pesta seks. Kisah orgy party yang pernah ada dan yang paling populer adalah diakhir Dinasti Shan (1122 SM) yang dilakukan Kaisar Chau Wang (Chau Shin).

Chau Wang digambarkan sebagai seorang lelaki yang sangat cerdik, perkasa, namun jahat, gemar sekali bersetubuh. Sehingga ia pun jatuh bersama kerajaannya di tangan perempuan yang bernama Da Chi. Da Chi adalah wanita paling cantik di zaman itu dan karena kecantikannya, membuat Chau Wang tunduk di bawah kakinya.

Cerita kehebatan kaisar dari negeri Tiongkok ini, ternyata memiliki seorang permaisuri, 3 istri tingkat pertama, 9 istri tingkat kedua, 30 istri tingkat ketiga, 100 gundik, dan 3.500 dayang. Tugas para wanita hanyalah melayani nafsu seksnya sang kaisar. Pastinya, wanita yang dipilih kaisar penggemar making love ini adalah wanita yang cantik, menggairahkan, memiliki seks appeal yang dapat membuat setiap pria berhasrat untuk menggaulinya.

Para dayang tersebut bertugas menyelenggarakan pesta pora di istana dan menyajikan pertunjukan seks secara terbuka. Tidak puas dengan pertunjukan seks liar yang hanya dilakukan seorang gundik, maka Chau Wang merancang sebuah pesta seks yang lebih heboh. Ia melibatkan ribuan dayang-dayangnya untuk orgy party. Sang kaisar pun memerintahkan para dayang dan prajurit untuk membuat sebuah danau, yang dinamakan “danau anggur” sebagai tempat pesta seks tersebut.

Danau yang diisi anggur kualitas nomor satu itu, memiliki luas 150 meter per segi. Setelah itu, ditemani 3.000 pengawal dan 3.500 dayang yang cantik dan seksi, Chau Wang memerintahkan seluruh pengawal dan para dayang itu melepaskan pakaian masing-masing sehingga semuanya telanjang bulat.

Setelah itu, sang kaisar pun memerintahkan mereka mancari pasangan untuk bersanggama. Sedangkan Chau Wang, memilih beberapa gundik yang paling cantik dan seksi untuk melayaninya dalam pesta seks yang gila-gilaan ini.

Karena sudah diizinkan, maka para pengawal menghampiri dayang-dayang yang diinginkan. Ada yang bersanggama di bawah pohon, di tepi danau anggur, bahkan di dahan-dahan pepohonan. Perserta pesta seks nan heboh itu, pernah terjadi pada akhir “Dinasti Shan” . Mereka bisa gonta-ganti pasangan sekehendak hati, hingga mereka betul-betul merasa puas.

Kegilaan petinggi bangsawan Cina soal seks, kini mulai muncul ke permukaan kembali. Meet Bao Huai, seorang pemuda Cina menulis buku In and Out, menggambarkan perubahan perilaku seks masyarakat Cina. “Ketika Anda menonton film DVD, adegan pertamanya bisa jadi orang yang tengah berhubungan intim. Saat ini, masyarakat dibanjiri gambar-gambar dan adegan berbau seks,“ kata Bao.

Ya, revolusi seksual tengah bergerak di Cina. Ketika, laki-laki dan perempuan tak malu-malu lagi saling menyentuh dan berciuman di tempat-tempat umum. Berbicara mengenai seks di Cina, menjadi hal biasa. Beberapa toko di Beijing ramai menawarkan segala macam peralatan, perhiasan dan busana yang mempererat hubungan antarpasangan, termasuk berjenis-berjenis kondom.

Selanjutnya, tahukah Anda, jika peserta pesta ini dapat dikenakan tindakan pidana di Indonesia? Sangsi hukuman 3 hingga 10 tahun, atau denda Rp10 juta hingga Rp1 miliar siap menjerat.

Tulisan ini sudah dipublikasikan di Majalah MANLY, November 2005

No comments:

Post a Comment